Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 42, JANJI YANG TERUCAP


__ADS_3

Selama sepekan lamanya, setiap pagi setelah memberi arahan dan mengantar satuan prajuritnya untuk berangkat ke daerah yang telah direncanakan, Danang selalu pergi ke hutan kecil di tepi desa Banaran untuk berlatih kanuragan dengan Sekar Kinasih.


Setiap pagi itu pula Sekar Kinasih datang dengan masakan nasi timbel buatannya untuk bersantap bersama dengan pemuda gagah tersebut.


Setiap pagi itu juga mereka berdua berlatih tanding setelah menghabiskan sarapan yang dibawa oleh Sekar Kinasih.


Semakin hari gerakan jurus-jurus yang diperagakan oleh Sekar Kinasih semakin beragam dan bertambah hebat, semakin cepat dan kuat, disertai gerakan-gerakan tipuan yang kini dapat membuat Danang beberapa kali tercengang hingga harus buru-buru mengelak.


Danang juga memberikan arahan tentang bagaimana meningkatkan kecepatan dan kekuatan serangan dan pertahanan Sekar Kinasih dengan cara olah pernafasan, yang membuat tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh gadis itu meningkat, serta membuat nafasnya mulai menjadi teratur walaupun telah melakukan latihan tanding ratusan jurus dengan pemuda tersebut.


Dalam setiap latih tanding tersebut, perasaan saling melebur dan mengikat juga semakin terjalin diantara keduanya lewat gerakan-gerakan, tatapan mata, tarikan dan hembusan nafas, serta sentuhan tangkisan dan percakapan.


Namun keduanya masih mampu untuk saling menjaga diri sesuai dengan ajaran agama dan budaya mereka.


Kini mereka berdua terlihat laksana sepasang garuda yang sedang bertempur.


Gerakan-gerakan mereka berdua sangat cepat, kuat, disertai gerakan-gerakan tipuan yang mematikan namun terlihat sangat indah.


Ratusan jurus telah mereka lalui dengan saling serang, elak, dan tangkis.

__ADS_1


Danang memang masih terlihat jauh berada diatas angin, namun serangan-serangan yang dilancarkan oleh Sekar Kinasih yang memang juga memiliki kecerdasan tinggi tidak bisa dianggap remeh.


Dengan kecerdasan yang dimilikinya, Sekar Kinasih mampu menyerap pelajaran yang diberikan oleh pemuda yang dikaguminya itu dengan cepat, hingga mampu meningkatkan tataran kanuragannya dalam waktu yang sangat singkat.


“Ingat diajeng, kokoh seperti bumi, cepat laksana angin, mengalir seperti air, mengisi celah yang kosong seperti cahaya, dan membakar laksana api.”ujar Danang memberikan petunjuk sambil menghindari serangan-serangan yang dilancarkan oleh Sekar Kinasih.


“Baik kakang.”ujar Sekar Kinasih seraya mengingkatkan serangannya sambil berusaha mencoba menerapkan seperti yang diucapkan oleh pemuda gagah yang sedang melatihnya tersebut.


Kembali saling serang, elak, dan tangkis terjadi hingga seratusan jurus, hingga akhirnya Danang melompat mundur sejauh sepuluh tombak ke belakang sambil berseru, “Cukup diajeng, aku rasa sudah cukup untuk latihan hari ini.”ujarnya.


Sekar Kinasih mengakhiri serangannya seraya menyeka peluh yang bercucuran di dahinya, lalu berjalan mendekati pemuda gagah tersebut dan duduk di sampingnya.


“Kelihatannya ini adalah hari terakhir kita berlatih kakang, lantas bagaimana dengan rencana kakang?”ucap Sekar Kinasih pada Danang.


“Setelah ini aku akan menghadap Gusti Pangeran Mangkubumi untuk melaporkan perkembangan yang ada, lalu aku akan bersiap dan berangkat besok pagi setelah fajar menyingsing menuju Pati untuk melaksanakan tugas dari Gusti Pangeran Mangkubumi.”lanjutnya.


Sekar Kinasih terdiam dan menundukkan kepalanya mendengar itu.


Di satu sisi sebenarnya ia merasa sangat berat untuk berpisah dengan pemuda tersebut, apalagi untuk jangka waktu yang tidak bisa dipastikan, namun di satu sisi tugas dan amanat yang mereka emban sebagai prajurit juga tidak bisa dilepaskan, namun ia masih menyimpan harapan setelah mendengar bahwa pemuda itu tidak menganggap bahwa ini adalah akhir dari latihan mereka berdua.

__ADS_1


“Mengapa diajeng berkata demikian? Apakah diajeng menganggap bahwa ini adalah kali terakhir kita berlatih bersama?”tanya pemuda tersebut pada Sekar Kinasih.


Sekar Kinasih yang mendengar itu terdiam sambil tetap menundukkan kepalanya karena tidak tahu harus bagaimana cara menjawab pertanyaan pemuda yang dikaguminya tersebut.


Di satu sisi ingin sekali rasanya ia berterus terang mengenai isi hatinya pada pemuda tersebut, namun di lain sisi sebagai perempuan yang dibesarkan dalam lingkungan serta adat Jawa, rasanya tidak mungkin ia melakukan hal tersebut.


Setelah agak lama saling terdiam, akhirnya Danang kembali berkata, “Sesungguhnya aku sangat menikmati setiap detik kebersamaan denganmu diajeng. Aku menikmati bercakap-cakap denganmu, aku juga menikmati tiap detik waktu berlatih denganmu, dan aku juga menikmati nasi timbel buatanmu.”ucap Danang sambil tertawa kecil di akhir kalimatnya.


Sekar Kinasih pun ikut tertawa kecil dan berkata, “Nanti aku akan membuatkannya lagi untukmu kakang, dan besok pagi aku akan mengantarkannya untukmu sebagai bekal santapmu kakang.”ucapnya.


Danang tersenyum lalu terdiam beberapa saat sambil matanya menatap lurus kedua bola mata indah milik Sekar Kinasih, seolah ingin mengetahui kedalaman dan isi hati gadis cantik tersebut dan mengatakan, “Aku akan berterus terang padamu diajeng, bahwa hatiku merasakan keinginan untuk selalu berada di dekatmu, aku tidak mengetahui perasaan ini dinamakan sebagai apa, yang jelas aku sesungguhnya tidak ingin berpisah denganmu walau sebentar saja.”ucap pemuda tersebut.


Sekar Kinasih juga menatap lurus kedua mata pemuda tampan di hadapannya, seolah ingin mengetahui kejujuran dan kesungguhan dari ucapan pemuda tersebut.


Namun sesaat kemudian ia menundukkan kepalanya karena tidak mampu menatap mata pemuda tersebut berlama-lama dan berusaha untuk menguasai gejolak yang timbul seketika di hatinya.


“Jika diajeng tidak berkeberatan dan berkenan menungguku, aku akan datang dan menjemput diajeng nantinya setelah tugas-tugasku sebagai prajurit selesai kelak. Bagaimana menurut diajeng?”ucap Danang pada Sekar Kinasih yang baru akhirnya dijawab oleh gadis cantik tersebut beberapa saat kemudian setelah terdiam beberapa lama karena berusaha mengatasi perasaan hatinya yang semakin merekah berbunga-bunga.


“Aku akan menunggumu kakang, aku berharap kakang akan menepati janji kakang.”ucap gadis cantik tersebut lirih sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Bergolak oleh rasa bahagia di dalam hatinya, ingin rasanya Danang menumpahkan isi hatinya dengan memeluk gadis pujannya tersebut, namun ia tidak melakukannya karena menjaga kesopanan dan harga diri Sekar Kinasih.


Lalu perlahan Danang mengulurkan tangannya untuk menggenggam jemari gadis cantik pujaannya seraya berkata, “Jika demikian adanya, maka tunggulah diajeng. Aku akan menepati janjiku dan aku akan datang menjemputmu.”ucap pemuda gagah tersebut...


__ADS_2