Kitab Manunggaling Semesta Jagad

Kitab Manunggaling Semesta Jagad
BAB 41, MENYATUNYA DUA HATI


__ADS_3

Esoknya setelah fajar menyingsing, Danang bergegas memacu kudanya kearah hutan kecil di pinggir desa Banaran setelah memeriksa dan memberikan arahan pada prajuritnya yang akan berangkat menuju Semarang hari ini.


Tampak matahari masih malu-malu memancarkan semburat merah disertai warna langit kebiruan di ufuk timur.


Setibanya di pinggir hutan kecil tersebut, Danang segera turun dan menambatkan kudanya pada sebatang pohon disekitar itu sambil menunggu kedatangan Sekar Kinasih, prajurit wanita yang dikaguminya.


Hanya dalam waktu sekitar sepeminuman teh, terdengar derap kuda mendekat dengan sosok Sekar Kinasih mengendarai diatas pelana kuda menuju kearah pemuda gagah dan tampan tersebut.


“Sugeng enjing kakang, tampaknya kakang sudah lama menunggu. Aku membawakan bekal nasi timbel dan air untuk kita sarapan kakang.”ujar Sekar Kinasih sambil berjalan mendekat dan mengeluarkan bungkusan dari buntalan dan bumbung bambu yang dibawanya.


“Aku memasaknya tadi dini hari, semoga kakang menyukai rasanya.”ujar Sekar Kinasih sambil tersenyum.


“Baiklah diajeng, kebetulan aku pun belum sarapan. Aku jadi sangat penasaran dengan nasi timbel yang dimasak oleh diajeng, pasti rasanya enak sekali.”ucap Danang yang membuat Sekar Kinasih merasa hatinya terangkat ke langit.


Beberapa saat waktu dihabiskan oleh mereka berdua untuk melakukan santap sambil bercakap-cakap dan sesekali bersenda gurau.


Tampak sekali bahwa keduanya sangat menikmati waktu yang tersisa bagi mereka berdua sebelum berangkat untuk menunaikan tugas yang mereka emban.


“Baiklah diajeng, coba sekarang diajeng perlihatkan beberapa jurus agar aku bisa menilainya, walaupun pada hematku sebenarnya saat ini sudah cukup sulit untuk menandingi diajeng dalam hal kanuragan.”ucap Danang pada Sekar Kinasih.

__ADS_1


“Baik kakang, mohon kakang jangan mengejekku.”ujar Sekar Kinasih lalu mulai memperagakan jurus-jurus silat yang dimiliknya.


Sekar Kinasih bergerak dengan cepat namun terlihat anggun, tubuhnya terlihat sangat ringan, gerakannya agak mirip dengan gerak jurus bangau yang dikuasai oleh pemuda di hadapannya.


Setelah kira-kira lima puluh jurus, Sekar Kinasih menghentikan peragaan jurusnya dan mengambil sikap tangan dikatupkan di depan dada seraya bertanya, “Bagaimana kakang? Aku butuh pendapat dari kakang, karena aku masih merasa kurang dalam bersilat dengan jurus-jurus milikku.”ujarnya.


“Menurutku jurus-jurusmu sangat hebat diajeng, namun memang jurusmu terlalu lurus, juga kekuatan dan kecepatannya menurutku masih bisa ditingkatkan lagi.”ujar Danang yang lalu memberikan contoh dengan gerak jurus bangau miliknya.


Gerakannya sangat cepat dan bertenaga pada setiap gerak serang yang diperagakan oleh pemuda itu, walaupun sebenarnya Danang telah mengurangi tingkat ilmu meringankan tubuhnya agar dapat dimengerti oleh Sekar Kinasih.


Dengan kagum Sekar Kinasih berkata, “Gerakanmu sangat cepat kakang, aku sampai pusing untuk berusaha menangkap gerakanmu dengan mataku.”ujar Sekar Kinasih sambil tertawa ringan.


Setelah sepeminuman teh berlalu, Danang bertanya pada Sekar Kinasih, “Bagaimana diajeng? Apakah diajeng mengerti?”ujarnya.


“Mmm...sedikit kakang. Nampaknya gerak jurusmu itu sangat aneh. Iramanya berbeda-beda, berganti-ganti antara lambat dan cepat serta banyak sekali gerak tipuan di dalamnya.”ujar Sekar Kinasih.


“Ada baiknya kita coba berlatih bersama diajeng, dengan begitu diajeng akan lebih mudah memahami gerak jurus alap-alap yang nanti bisa digabungkan dengan gerak jurus milik diajeng tadi.”ucap Danang.


“Baiklah kakang, mari kita coba.”ujar gadis cantik itu seraya bangkit dari duduknya dan mulai memasang kuda-kuda pembukaan jurusnya, dan segera bergerak untuk menyerang pemuda di hadapannya dengan jurus-jurus miliknya..

__ADS_1


Lalu mereka berdua segera terlibat adu latih tanding berdua. Sekar Kinasih bergerak menyerang pemuda gagah tersebut dengan segenap kemampuannya.


Sementara Danang hanya menghindari setiap serangan yang dilancarkan oleh Sekar Kinasih sambil sesekali melakukan gerak tipu dan menyarangkan beberapa pukulan yang berhenti sekitar lima jari dari sasarannya.


Diperlihatkannya juga pemahaman baru yang ia dapatkan ketika berlatih tanding dengan Pangeran Mangkubumi.


Gerakannya cepat seperti angin, mengalir seperti air, mengisi celah yang kosong seperti cahaya, kuat seperti bumi, dan meledak membakar bagaikan api.


Tak terasa seratus jurus telah berlalu tanpa sekalipun Sekar Kinasih mampu mengancam pemuda tersebut lewat serangannya.


Namun perlahan-lahan terlihat gerakan Sekar Kinasih agak berbeda dari sebelumnya, sesekali ia kini melakukan gerak tipuan yang walaupun dengan kecepatan yang lebih lambat, tapi berhasil beberapa kali mengagetkan pemuda yang berlatih bersamanya.


Gerakan yang mereka berdua peragakan dalam latih tanding tersebut terlihat sangat indah, bagaikan dua orang sejoli yang kasmaran sedang melakukan tarian bersama.


Lewat gerakan-gerakan tersebut, rasa kagum masing-masing perlahan melebur hingga merasuki hati mereka berdua melalui saling tatap dan gerak yang mereka lakukan, hingga mencapai tahap seolah saling mengerti akan jiwa mereka masing-masing, layaknya mereka berdua telah mengenal satu sama lain selama bertahun-tahun.


Mendekati dua ratus jurus, akhirnya mereka berdua masing-masing melompat ke samping dan menyudahi latihan tanding mereka.


Nafas Sekar Kinasih tampak agak terengah-engah, berbeda dengan nafas Danang yang masih terlihat teratur walaupun telah melewati lebih dari dua ratus jurus, namun senyum cerah tersungging di wajah mereka berdua disertai hati yang bagaikan diterpa oleh cahaya matahari pagi...

__ADS_1


__ADS_2