
Pukul 9 malam Mia turun ke bawah menuju dapur untuk membuat secangkir kopi yang akan menemani nanti malam begadang, dan mengambil nasi untuk makan malam yang telah lewat beberapa jam tadi. Disaat Mia sedang menuruni tangga dia mendengar suara yang berisik diruang tengah villa.
"Siapa sih yang bertamu bertamu malam-malam gini?" Gerutu Mia merasa terganggu. Mia memutuskan ke ruang tengah keluarga dulu, melihat siapa yang bikin kegaduhan dimalam hari.
"Bang Jetro, bang Dika, kapan kalian sampai? Bukan janjinya lusa kalian datang kesini." Tanya Mia menuju tempat duduk sebelah bang Dika, mereka sedang melihat pertandingan sepak bola di televisi.
"Tadi, habis magrib." Jawab bang Dika.
"Masak sih?, Aku kok enggak denger mobil kalian datang ."
"Salah sendiri kenapa mengunci diri di kamar, bagaimana bisa denger, kalau setiap kamu ngedit tuh kuping disumbat sama headset, Jawa. Bang Jetro menjewer kuping Mia
"Sakit bang! Mengusap telinganya yang tidak sakit-sakit amat, karena Jetro menjewernya tidak kencang. Bang Jetro sama bang Dika belum jawab pertanyaan Mia, tumben sudah sampai disini, kan janjinya lusa?
"Pekerjaan di kantor sudah beres semua, jadi daripada buang waktu yang enggak jelas , kita kesini, supaya bekerja kita cepat beres jawab bang Dika mengusap rambut Mia.
"Kopinya sudah siap." teriak seseorang dari dapur, mereka semua langsung menoleh ke sumber suara.
"Loh, Jaka kok kamu ada disini, sejak kapan? Tanya Mia kepada Jaka yang meletakkan tiga cangkir kopi di meja.
"Sudah dari tadi Maghrib, bareng-bareng abang-abang ini, tadi kata bik Inah kakak nggak mau diganggu jadi aku nungguin aja sama kakak keluar.
"Emangnya ada apa? Kan kalau ada urusan bisa besok dibicarakan, ini juga sudah malam, emang besok kamu enggak sekolah? Tanya Mia
"Entar aja kak, Jaka cuma mau menyakinkan perasaan Jaka sama kakak, soal tadi dirumah pohon" jawab Jaka serius.
__ADS_1
"Roman-romannya ini ada obrolan serius, daripada ganggu lebih baik kita cabut Dik buat jaga privasinya mereka. Titah bang jetro ke bang Dika.
"Enggak usah bang, Abang berdua disini saja sebagai saksi aku mau ngomong sesuatu sama kak Mia," cegah Jaka.
"Emangnya apa yang mau di omongin Jaka? Kita mau bahas apa? Aku bingung." Jawab Mia.
"Oke, kalau Lo mau kita disini, jadi saksi Lo, sok kalau mau ngomong kita berdua akan duduk diam disini, ya kan Dik." kata bang Jetro dianggukin oleh Dika.
Jaka beralih menghadap Mia dengan muak seriusnya, dia mencoba menatap mata Mia tapi jantungnya berdebar tak karuan.
"Kamu mau ngomong apa Jak?" Tanya Mia dengan wajah bingung. Karena Mia merasa tidak memiliki masalah dengan Jaka, tapi dengan raut waja yang serius Mia juga mencoba serius.
"Ehmm, jadi, ehmm gini, Jaka bingung mau mulai dari mana jawabnya gugup." Jaka melirik Jetro dan Dika meminta bantuan tapi mereka berdua kompak mengamati bahunya tanda Tak tahu.Mia hanya diam menunggu Jaka untuk berbicara kelanjutannya.
"Mia menatap Jaka dengan serius, membuat Jaka salah tingkah. " Jaka, tidak harus menunggu besok atau lusa untuk menjawab pertanyaan kamu. Maaf Jak, kakak enggak bisa, alasannya kamu juga tahu itu. Jadi buang semua perasaan mu untuk kakak, belum tentu dimasa depan kamu atau aku berjodoh." Balasnya Mia
"Tapi kenapa kakak? Apa karena Jaka masih anak sekolah gitu? Kak Mia adalah wanita pertama yang Jaka suka selain ibu. Lirih Jaka menunduk wajah sedihnya. "Tidak bisakah kah?".
"Maaf Jak, ini yang terbaik untuk hubungan kita, Jak kadang rasa suka saja tidak cukup, banyak yang harus dipelajari dari kehidupan ini, seperti ucapkan cinta tak harus memiliki. Sebuah pengakuan kasih sayang bisa diibaratkan sebagai memulai sesuatu hubungan atau sebagai ucapan perpisahan karena jika salah satu hati manusia tidak memiliki rasa yang sama, untuk apa kita melanjutkan? yang akan membuat kita sakit, Kakak harap Jaka mengerti, masa depan Jaka masih panjang." Balas Mia dengan begitu lembut, menepuk bahu Jaka yang terkulai lemas. Disaat Jaka mengalami fase tertarik pada wanita tapi di fase ini dia ditolak cintanya.
Mia yang melihat itu hanya bisa diam, karena menurut Mia ini yang terbaik.
"Bang Jetro, bang Dika, aku kembali keatas dulu." Pamit Mia beranjak dari duduknya, akan tetapi Jaka menahan tangan kanan Mia.
"Jika Jaka sudah dewasa Apakah kakak akan menerima Jaka?, Tekad Jaka akan memperjuangkan cinta.
__ADS_1
" Kalau kak keberatan dengan Jaka sekarang, maka Jaka akan menjadi orang Sukses tidak kekanak-kanakan dan kelak akan menjemput kakak, bagaimana kak?" Negosiasi jaka.
"Maaf Jaka, jawaban kakak tidak akan berubah meski kamu dewasa kelak, kelak kamu akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dari kakak," melepaskan tangan Jaka dari pergelangan tangannya, Mia berjalan menjauh dari Jaka yang diliputi rasa kecewa.
"Kak, ingat kata Jaka, kelak meski Jaka tidak bisa mendapatkan kakak, Jaka pastikan Kakak akan berjodoh dengan orang yang lebih muda dari kakak." ucapnya penuh emosi.
Suara suara petir memecahkan kesunyian malam, seketika Mia menghentikan langkah, Mia merasa hatinya begitu resah dengan apa yang diucapkan Jaka. Bang Jetro dan Dika yang mendengar ucapan Jaka menjadi merinding sendiri, apalagi diluar villa suara petir bersahutan dibarengi dengan angin kencang.
Jaka kemudian ngambil jaketnya yang ada di sofa, tapi tangannya ditahan oleh bang Jetro.
"Lo mau kemana, diluar hujan petir lebih baik disini dulu, turunin emosi Lo."
Enggak bang gue bisa sendiri, Jaka mencoba melepas pegangan bang Jetro, tapi bahunya ditepuk oleh bang Dika dari belakang.
"Udah enggak usah ngeyel, Lo disini aja Jak, udah malam enggak baik pulang dalam keadaan perasaan Lo yang kacau kayak gini, gimana Lo bisa mendapatkan Mia kalau Lo enggak bisa berpikiran jernih?" nasehat bang Dika sedikit menurut kan ego Jaka.
Jaka duduk terdiam di sofa mencoba menjernihkan kepalanya, meski dadanya nyeri akibat ditolak cintanya.
Di Negara A menunjukkan pukul 12 siang tidak secerah biasannya, tiba-tiba terjadi hujan lebat dibarengi oleh petir yang menggelegar di musim panas ini. Kylo memandangi hujan dibalik kaca apartemen.
"kenapa perasaan ku menjadi resah? Aku harap kita akan bertemu lagi, tunggu aku, aku pasti aku akan menemukan mu."guman kylo dengan menatap tajam pemandangan didepannya.
Tanpa mereka sadari benang merah kehidupan mereka telah terikat oleh takdir, Tuhan sudah menuliskan dibuku kehidupan mereka masing-masing, hanya menunggu waktu hingga Benang kehidupan itu mempertemukan mereka dan menyatu.
bersambung.....
__ADS_1