
Keesokan harinya saat kylo akan mengendarai mobil menuju apartemen Mia, secara ia akan mengajak Mia ke sebuah kedai dekat apartemen Mia untuk sarana, sayangnya saat ia sudah berada setengah jalan rapat di lampu merah ponselnya berdering dari sekretarisnya.
"Iya ada apa?"..
"Begini Pak dari perusahaan Santosa ingin menemui bapak pagi ini untuk membahas kerjasama kita."
"Bukannya meeting dengan mereka jam 10 pagi?" Tanya kylo melihat jam di tangannya.
"Kalau menurut schedule memang seperti itu, tapi dari pihak Santosa ingin memajukan jadwal pertemuan di karena pihak sana harus pergi ke luar kota untuk urusan yang mendesak."
"Baik kalau begitu, 15 menit lagi saya sampai di perusahaan, dan satu lagi tolong Carikan saya sarapan pagi." Jawab kylo memutarkan kendaraan memuju perusahaannya.
"Nanti aku akan menghubungi Mia." Monolognya.
Di satu sisi Mia telah sampai di kampung halamannya, pagi ini ia membantu ibunya membuat sarapan untuk satu keluarga.
Mia bangun sejak subuh tadi, dia belum sempat mengaktifkan ponselnya yang sejak dari kemarin. Ia tidak tahu banyak pesan dan telpon dari kylo.
"Nanti jangan lupa kamu pergi ke bulek buat bantu-bantu di sana, kemarin mbak mu itu minta kamu buat foto-foto sebelum nikah itu, aapa namanya.,"
"Maksud ibu prewedding gitu.." tebak Mia mihay sang ibu kebingungan mencari kata tersebut.
"Lah ya itu.."
"Bukanya 1 Minggu ini mbak di pingit ya Bu, tidak boleh ketemuan sama calonnya."
"Kamu tahu sendiri mbak mu itu kalau di beri tahu tetap ngeyel, lah kamu tahu sendiri kan keluarga bulek mu iku selalu mau menang sendiri kalau dikasih tahu, tapi ibu sudah bilang kalau mau menggunakan jas mu harus bayar, kan harus profesional meski kita keluarga."
"Apa nanti tidak jadi masalah Bu, ibu tahu sendiri sifat bulek itu seperti apa?" Kata Mia mengingat sifat bulek yang sombong minta ampun.
"Semua sudah ibu yang mengurus, kalau mereka tidak mau dengan kesempatan ya suruh mereka cari yang lain, tidak semua apa yang mereka minta gratis terus, wong buat biaya buat bayar tata rias pengantin itu ayah yang nanggung separuhnya sama kita juga sudah bantu banyak ke keluarga mereka, belum nanti kalau ada yang kurang ini itu pasti entar minta ke sini lagi."
"Iya nanti Mia akan bicara sama mbak dan bulek, kemungkinan yang pegang bukan Mia tapi pegawai Mia."
"Bagus kalau itu, cukup kita bantu seperlunya." Sahut sang ibu. Mia mengangguk memberi jawaban, ia membawa beberapa lauk yang sudah diletakan di tempat lauk dan menatanya di meja makan."
"Nduk, panggil ayahmu sama adik mu.." perintah sang ibu.
Mia memanggil adik dan ayahnya untuk sarapan pagi, pagi ini adalah pagi penuh kehangatan bagi Mia, karena biasa nya ia sarapan sendiri atau kadang ia ditemani oleh sea, sahabatnya yang lain dan juga kylo. Omong-omong soal kylo Mia belum membicarakan kepada orangtuanya. Ia akan menunggu waktu yang pas nanti.
__ADS_1
Setelah sarapan pagi Mia dan sang ibu pergi menuju rumah bulek Mia yang akan mengadakan hajatan pernikahan anaknya. Mia menemui bulek dan kakak sepupunya untuk membicarakan tentang pemotretan. Mereka berbicara diruang tamu.
"Kamu bisa bantu mbak mu kan buat?" Tanya sang bulek..
"Bantu apa yang bulek."
"Itu Lo mbakmi Rencana mau prewedding an sama nanti pas acara nikahan kamu yang fotoin."
"Ooh itu, kalau itu nanti bulek bisa bicara ke pegawai Mia bulek."
"Lah kok ke pagawai kamu bukan ke kamu."
"Soalnya Mia tidak bahwa kamera Mia bulek, kan Mia pulang ke sini buat liburan sama bantu bulek, Mia nggak kerja bulek, kalau bulek mau ya bulek bisa ke pegawai Mia, nanti mereka yang ngurus." Alasan Mia menolak buleknya yang mau gratisan saja.
"Lek gitu bayar dong." Cetus sepupu Mia.
"Lha iya kan bukan aku yang jadi tukang fotonya mbak, meskipun aku yang jadi tukang fotonya mbak harus telpon ke perusahaan aku dulu."
"Kan sama saja, kok ribet sih, kan kamu punya studio foto tinggal ambil salah satu kamera disana terus fotoin nikahan mbak kan beres. Masak sama keluarga sendiri perhitungan" Sewot sang sepupu.
"Iya ini masak kamu sama bulek mu sendiri kayak gitu, harus saling saudara itu saling membantu." Sang bulek menimpali.
"Bukannya begitu ya mbak, kan kemarin saya sudah bilang kalau mau berguna jas Mia itu harus bayar mbak, kalau soal bantu membantu, bukanya keluarga saya sudah cukup membantu kelaurga mbak, ini Mia bekerja mbak bukan buat amal." Sela ibu Mia membela anaknya.
"Bantu sih bantu mbak tapi kalau yang di bantu ngelunjak tidak ada unggah ungguhnya jadi melas buat bantu sepenuhnya.
"Sudah ibu, jangan ribut." Bisik mia ke sang ibu.
"Kamu ngatain kelaurga saya.." bentak sang bulek tak terima.
"Maaf bulek, maksud ibu bukan begitu, gini aja ya bulek kalau bulek mau nanti Mia diskon 10 persen, nanti Mia akan bilang ke pegawai Mia, terus untuk pembayaran bulek sama mbak bisa dp dulu nanti satu hari sebelum acara bulek harus melunasi semua biayanya. Kalau bulek tidak mau ya tidak apa-apa, ini Mia kasih nomer studio Mia, bulek sama mbak bisa menghubungi mereka bilang saja dapat diskon 10 persen dari Mia." Kata Mia menengahi.
"Kalau begitu Mia sama ibu pamit ke belakang bulek buat bantu-bantu di sana." Pamit Mia sedikit mnerik sang ibu untuk pergi dari sana.
"Bulekmu itu ya gitu sudah di masih jantung tambah minta ati juga, ibu kesel sama dia, selalu saja seenaknya sendiri." Gerutu yang ibu berjalan ke arah dapur.
"Sudah ibu, ibu tahu sendiri bulek itu seperti apa." Balas Mia.
"Nya.. untuk acara resepsi itu jadi di halaman rumahmu atau tetap disini?" Tanya seorang tetangga yang menghampiri ibu Mia. Mia hanya bisa menyerngitkan alisnya.
__ADS_1
"Jadi di halaman rumah saya ibu, entar ibu koordinasi saja yang buat semua keperluan resepsi bahwa kerumah saya, terus untuk acara akadnya masih tetap disini." Jawab ibu Mia.
"Kok nggak sekalian disini aja sih nya.. jadi satu tempat, repotnya sekalian gitu.. kan kalau bolak balik kitanya jadi ribet, banyak ibu-ibu yang bantu ngeluh terus Nya.."
"Kok resepsinya di rumah kita ibu." Celetuk Mia heran.
"Itulah bulekmu katanya halamannya kurang luas jadi minta halaman rumah Kita, makanya ibu suruh kamu pulang lebih cepat, soalnya kemarin mbakmi keceplosan ingin menggunakan kamar kamu buat rias pengantin sama ala gitu mau dihias-hias katanya."
"Kok gitu sih Bu.., kan nggak sopan, pakai barang orang lain meskipun masih saudara." Kata Mia geleng-geleng kepala melihat tingkah laku keluarga buleknya.
"Makanya itu nduk, ibu minta kamu pulang lebih awal, tapi kemarin sudah ayahmu tolak, kalau cuma memakai halaman, garasi sama ruang tamu boleh saja tapi untuk lebih dari itu ayahmu tidak mengizinkan, toh bukan kita yang sedang melangsungkan hajatan. Hari ini saja ayahmu sama bapak-bapak yang lain sedang mempersiapkan dapur umum di samping rumah kita." Terang sang ibu.
"Makanya ayah tidak ke sini.." cicit mia.yang masih bisa di dengar oleh sang ibu.
"Nya siapa?" Tanya tetangga yang dari tadi melirik dan mengobrol dengan Mia.
"Ini Mia anak saya ibu.." jawab sang ibu.
"Ohh Mia, tambah cantik ae,, saya kira orang mana lah kok orang sendiri." Kekeh sang tetangga. Mia hanya tersenyum tipis.
"Iya Bu, anaknya sering di kota makanya jarang kelihatan disini."
"Oalah, saya kira nggak bakal balik lagi Bu, dari rumor beredar Mia gara-gara batal nikah jadi nggak mau pulang ke kampung." Sahut tetangga keceplosan,
"Lah ibu tahu dari mana?" Tanya ibu Mia, setahunya itu hanya rumors belakang, dan untuk acara batal nikah itu pun hanya kelaurga besarnya yang tahu.
"Eh itu nya dari si Sitinya, nama bulek mia" Cicit sang tetangga merasa tidak enak. "Semua warga kampung sudah tahu dari lama nya, cuma kita tidak berani tanya ke nyonya sebab kita sungkan sama keluarga nyonya." Jelas sang tetangga. Ini Mia memang sering di panggil nyonya atau nya karena mereka beranggapan sebagai kelaurga yang berada dan sering membantu ke sesama.
"Bener-bener ya mbak Siti keterlaluan." Geram ibu Mia. Membuat sang tetangga itu pun menyingkirkan seketika.
"Udah Bu biarin saja,*kata Mia menenangkan.
"Cukup untuk acara ini ibu bisa bantu, selebihnya kalau mereka butuh bantuan ibu hanya akan melakukan sekedarnya, mereka sudah keterlaluan. Lebih baik kita pulang,"
"Eh bukanya kita harus bantu-bantu dibelakang."
"Tidak usah, ibu sudah tidak minat, lebih baik kita bantu-bantu di rumah saja. Disana ada bapak-bapak yang menyiapkan tenda buat dapur pasti belum di beri konsumsi sama bulekmu, bulekmu kan gitu." Kata sang ibu menarik sang anak keluar dari rumah buleknya.
bersambung
__ADS_1
jangan lupa kritik dan sarannya
terimakasih