
Pyaar....
"Ahhh, sakit...!!, tolong..!!", teriak Permaisuri Rubby menjatuhkan sebuah bejana di kamar nya.
Dengan sekuat tenaga ia berusaha berjalan sempoyongan untuk mencari bantuan.
Bersamaan dengan itu.
Para dayang pribadinya yang mendengar teriakan permaisuri segera membuka pintu kamar dan menolong sang Permaisuri.
"Permaisuri akan segera melahirkan, cepat panggil tabib..!!", seru seorang dayang memerintahkan seorang pengawal sembari berusaha memapah Permaisuri Rubby menuju ranjang nya.
"Sakit....!!", teriak permaisuri Rubby terus berteriak kesakitan.
"Astaga...!!, apa itu tadi..??", seru seorang dayang terkejut melihat seberkas cahaya menyala di perut sang permaisuri.
"Kenapa kamu...??", tanya seorang dayang yang lain sembari mengelap keringat berkucuran di dahi permaisuri Rubby.
"Tidak, mungkin aku salah lihat..", ucap seorang dayang berfikir bahwa ia telah salah lihat.
Tak berselang lama.
Sang Tabib telah sampai di depan pintu kamar permaisuri.
Bersamaan dengan Raja dan Hang Sepuh yang juga tergopoh gopoh menuju ke kamar sang permaisuri.
"Mohon jika berkenan, Raja ku menunggu di luar, saya akan berusaha menolong persalinan Permaisuri Rubby", ucap Tabib sambil memberi hormat dan mengutarakan apa yang ia inginkan dalam kondisi genting seperti itu.
"Pergilah..!!", ucap Raja Vinix menuruti permintaan tabib.
Tabib segera masuk ke kamar permaisuri dan menutup pintu kamar dari dalam.
Nampak sang Raja amat gelisah sembari berjalan mondar mandir di depan pintu kamar.
Terdengar suara permaisuri Rubby sedang berjuang untuk melahirkan sang buah hati.
"Bagaimana jika itu bukan seorang putra Hang Sepuh...??", tanya Raja Vinix hanya khawatir dengan anak nya saja.
"Ramalan penyihir tidak akan meleset Raja ku", ucap Hang Sepuh membuat keyakinan Raja kembali.
"Benar..!!, dan kali ini aku meramalkan akan ada kehancuran saat dia lahir", ucap penyihir hitam tiba tiba muncul di samping Hang Sepuh.
"Tutup mulut mu ..!!, atau aku tak akan mendengarkan ucapan mu lagi...!!", seru Raja Vinix geram.
Oekk, oekkk....
Suara gema seorang bayi telah terdengar di seluruh penjuru istana.
__ADS_1
Bahkan sampai ke telinga para selir, terutama di kediaman selir Vivian.
"Bayi itu akhirnya lahir juga, lebih baik kita pergi dari sini anak ku, kita tidak akan di anggap lagi di sini", ucap selir Vivian mengemasi sebagian barang berharga yang bisa ia bawa.
"Apakah ini harus ibu..??", seru putri Kinan anak pertama selir Vivian.
"Ini yang terbaik, kamu bisa ikut ibu jika mau", ucap selir Vivian mengulurkan tangan nya.
"Tidak ibu, aku tidak bisa, aku tidak bisa hidup susah di luar sana, jika di sini setidaknya ayah handa bisa mencarikan ku seorang pangeran nanti nya", ucap putri Kinan menolak ajakan sang ibu.
Selir Vivian mencoba menarik nafas dan mencoba memegang tangan putri Kinan.
Ia tahu, sifat dan ambisi nya juga tak jauh beda dengan diri nya.
Tapi saat gelar permaisurinya dan kelahiran anak kedua nya ia menyadari satu hal.
Bahwa gelar seorang ibu dan harga diri itu lebih penting dari segala nya.
"Anak ku, aku mengerti ambisi mu, tapi percayalah, saat semua nya telah berbeda kamu akan menyadari semua nya, jangan sampai kamu menyesal seperti ibu nanti nya, datanglah pada ibu saat kamu menbutuhkan ibu", ucap selir Vivian memberikan burung beo kesayangannya pada sang putri.
"Mari yang mulia, penjagaan sedang lemah", ucap seorang dayang pribadi nya.
Selir Vivian segera pergi dan meninggalkan istana dengan menyamar sebagai seorang asisten tabib.
Sementara Raja merasa bahagia saat mendengar tangisan pertama sang anak.
"Akhirnya...!!, penerus kerajaan ku telah lahir..!!", teriak Raja Vinix amat bahagia sembari mengangkat sang bayi ke atas dengan kedua tangannya.
____
Cukup lama sang bayi tidur di dekapan sang Raja.
Sementara permaisuri Rubby di tangani oleh tabib dan para dayang.
"Tampan sekali kamu putra ku", ucap Raja menimang nimang sang putra di dekapan nya.
Bahkan para dayang yang ingin menggantikan nya tak diperbolehkan oleh sang Raja.
Sementara Permaisuri Rubby terus memperhatikan sang Raja yang begitu amat bahagia nya.
Sudah cukup kamu bersenang senang Raja ku, dan kamu anak ku, penuhi tugas mu, gumam Permaisuri Rubby dalam hati yang bersamaan dengan sautan sebuah tangisan dari sang bayi.
"Kenapa kamu tiba tiba menangis..??", seru Raja Vinix kebingungan.
"Mungkin dia haus Raja ku", ucap seorang dayang meminta sang bayi agar bisa di susui oleh sang ibu.
Tabib pun membuka belahan baju permaisuri Rubby.
__ADS_1
Tapi tangan nya di hentikan oleh sang permaisuri.
"Maaf kalau saya lancang permaisuri, niat saya hanya membantu", ucap Tabib memundurkan tangan nya.
"Dia tidak butuh asi ibu", ucap permaisuri Rubby mencoba berusaha berdiri dan berjalan menghampiri sang bayi yang baru di lahir kan nya.
Perkataan sang permaisuri membuat semua yang ada di sana tercengang, terutama Raja dan Hang Sepuh.
"Dimana akal mu..!!", cerca sang Raja.
"Mungkin permaisuri belum siap memberikan asi nya, saya akan siapkan susu sapi untuk putra mahkota", ucap tabib segera bergegas mencari susu sapi.
"Tidak Tabib..!!, biarkan dia menyusui bayi ku apapun alasannya", seru Raja Vinix berkacak pinggang.
"Apa kamu tidak bisa menurut sekali saja permaisuri..??", ucap Hang Sepuh.
"Aku tidak bilang tak mau menyusui nya", ucap permaisuri Rubby mengambil sebilah pisau buah di meja nya.
"Apa yang ingin kamu lakukan..??", seru Raja Vinix ketakutan bayi nya akan dilukai.
"Inilah yang pantas untuk nya", ucap permaisuri Rubby menggores tangan nya dan mengalirkan darah segar pada mulut sang bayi.
"Hentikan permaisuri", ucap tabib memohon, seakan ia tahu hal buruk apa yang akan tercipta saat darah kaum penyihir sudah di alirkan ke seorang manusia lain.
Tiba tiba Sang bayi terjatuh dari gendongan sang permaisuri.
Ia berangsur angsur berubah bentuk menjadi tinggi besar seukuran orang dewasa.
Fisik nya yang aneh, merah dan seperti monster membuat Raja dan semua yang ada amat terkejut.
Para dayang berlari tunggang langgang keluar dari kamar sang permaisuri.
Raja langsung mengingat mimpi buruk nya saat melihat wujud baru dari sang putra mahkota.
"Salam ibu", ucap sosok mengerikan itu.
"Satan...., aku namai kau Satan, selesaikan tugas mu", ucap permaisuri Rubby menunjuk ke arah sang Raja dan ke arah Hang Sepuh.
"Ayo kita lari Raja ku..!!", teriak Hang Sepuh berusaha menarik tangan Raja yang masih terpaku ketakutan melihat Satan yang berdiri di hadapannya.
Penyihir hitam yang sedari tadi melihat dari kejauhan, segera berlari ketakutan keluar dari istana.
Kini tidak ada lagi penghalang kekuatan sihir Permaisuri di kerajaan itu.
Segera ia memulihkan tubuhnya dan segera menyihir sebuah burung yang bisa ia tunggangi untuk pergi dari istana itu.
"Lihatlah karma hidup mu Raja ku..!!, kau dan rakyat mu akan hancur..!!", teriak permaisuri Rubby menghilang jauh meninggalkan istana.
__ADS_1