
"Apa sihir itu memiliki kelemahan?," bisik Raja Vinix merasa ada peluang yang masih tersisa untuk para musuh nya.
"Sihir terkuat pun masih memiliki kelemahan Raja," sahut penyihir hitam begitu gelisah jikalau nanti Satan menyetujui perintah Rubby.
"Cih!, ku kira itu sudah sihir terkuat mu tanpa kelemahan sedikitpun," keluh Raja Vinix kembali merasa takut menatap kedua musuh di hadapan nya.
"Kau pikir sihir itu dewa!," keluh penyihir hitam begitu kesal atas ucapan Raja Vinix yang begitu meremehkan nya.
"Cepat katakan ibu!, apa kelemahan sihir itu?," seru Satan membuat penyihir hitam dan Raja Vinix seketika berhenti berdebat.
"Jika aku katakan, apa kau janji akan melakukan nya?," tanya Rubby sembari menahan rasa sakit yang semakin menggerogoti tubuh nya.
"Jika itu akan menyembuhkan mu, aku akan melakukan apapun itu," sahut Satan tak mengerti kenapa sang ibu begitu nampak khawatir.
"Percuma Rubby!, terima saja rasa sakit itu hingga ajal mu tiba," seru penyihir hitam mencoba mengulur waktu agar sihir itu benar benar mengakhiri hidup Rubby sebelum Rubby terlalu banyak bicara lagi.
"Pasti, aku akan menyambut ajal itu tiba. Tapi aku tak mau mati sendirian, kalian harus ikut dengan ku!," seru Rubby membuat Satan begitu tercengang saat mendengar nya.
"Omong kosong apa itu ibu!, tidak!, selama aku hidup, aku tak akan membiarkan mu mati!, cepatlah katakan!, apa yang harus aku lakukan sebenar nya?," seru Satan tak lagi memikirkan akan pertarungan nya dengan Pura dan Raja Inggit sedikitpun.
Fokus nya kini hanya pada keselamatan sang ibu.
"Lukai ibu sekarang juga Satan!," seru Rubby semakin membuat Satan tercengang di buat nya.
Alih alih memerintah untuk menyerang penyihir hitam secara langsung, Rubby malah menyuruh nya untuk melukai ibu nya sendiri.
"Perintah macam apa itu!, tidak!," sentak Satan tak mengerti dengan jalan pikiran sang ibu.
"Sihir itu hanya bisa di lawan dengan melukai tubuh korban nya secara langsung, itu akan membuat si penyihir berbalik merasakan rasa sakit dari darah ku yang ia minum," seru Rubby sembari terbatuk batuk hingga memuntahkan banyak darah segar.
"Ibu!, ibu harus kuat!," seru Satan merasa bingung apa yang harus ia lakukan, pasal nya begitu berat untuk nya mengikuti saran dari sang ibu untuk masalah itu.
"Sial!, padahal tinggal sebentar lagi," keluh penyihir hitam semakin merasa gelisah, ia begitu takut Satan termakan ucapan Rubby.
__ADS_1
"Apa yang dikatakan nya itu benar?," ucap Raja Vinix semakin merasa terjebak dengan ikatan darah antara mereka bertiga.
Ide nya kini malah menjadi bumerang bagi keselamatan nya sendiri.
Jika Satan benar benar menyerang ibu nya dan penyihir hitam mati, berarti aku juga akan binasa, batin Raja Vinix gusar, seakan tak ada jalan lagi bagi nya untuk menghindar dari situasi itu.
Kini nasib nyawa nya berada di ujung tanduk.
Kini hidup dan mati nya tergantung dari keputusan Satan.
"Bagaimana ini penyihir!, kenapa jadi begini!," keluh Raja Vinix begitu gelisah.
"Berhentilah mengoceh Raja!, kita berdoa saja Satan tak menuruti perintah Rubby," ucap penyihir hitam terus menatap tubuh Rubby yang semakin lemah karna serangan ilmu sihir nya.
Tinggal sebentar lagi, batin penyihir hitam terus berharap Rubby akan binasa lebih cepat dengan sihir nya itu.
"Kau mau melakukan nya ataupun tidak ibu mu ini juga akan mati Satan!, mengertilah!," sentak Rubby terus memojokkan Satan yang begitu takut mengambil keputusan.
Tuk pertama kali nya, ia merasakan ketidakberdayaan dan ketakutan dalam diri nya menyeruak kepermukaan.
"Ibu akan merasa lebih terhina saat ibu mati dengan sia sia," rintih Rubby sembari mencoba mengontrol tubuh nya agar lebih lama bertahan sampai Satan benar benar melakukan perintah terakhir dari nya.
Ucapan itu seketika membuat raut wajah Satan kembali beringas.
Hingga membuat penyihir hitam yang melihat nya langsung lemas tak berdaya.
"Kita dalam bahaya Raja!, lari!," seru penyihir hitam memilih lari dari tempat itu walaupun ia tahu bahwa dengan berlari pun ia tak kan bisa menghindar dari maut nya jika Satan telah benar benar bertindak.
Dengan tatapan yakin, Satan mencoba mengobarkan api di seluruh tubuh nya kembali, ia berteriak dan mencoba melepas semua ketakutan dalam diri nya.
Sementara Rubby semakin terlihat lemah tak berdaya terkapar di tanah.
"Inikah akhir perjuangan ku," ucap Rubby terbata bata sembari mengingat masa lalu nya yang pahit dan perjuangan nya yang begitu berat hingga kini.
__ADS_1
Sembari mengangkat pedang api nya, tanpa gentar Satan segera menodongkan pedang nya tepat ke arah sang ibu.
"Cepatlah Satan!, jangan biarkan kedua manusia itu hidup lebih lama lagi," ucap lirih Rubby dengan sisa tenaga nya yang tersisa.
"Percayalah ibu, aku sungguh menghormati mu lebih dari dewa di atas sana," ucap Satan segera menusuk perut sang ibu dengan pedang api nya tanpa keraguan sedikitpun.
Ini demi kedamaian ibu mu Satan, jadi tetap lah kuat, batin Satan mencoba menguatkan mental nya sendiri saat itu.
Crashh!!, Crasshh!!,
Pedang itu bahkan tidak hanya sekali menembus tubuh Rubby.
Tuk pertama kali nya, ada air mata yang mengalir dari kedua mata sang monster Satan.
Bersamaan dengan itu, teriakan penyihir hitam dan Raja Vinix pun terdengar hingga ke telinga Rubby dan Satan.
Membuat Rubby tersenyum dengan bahagia walaupun diri nya sedang berada di ujung maut nya.
"Terima kasih akan semua nya Satan, terima kasih sudah membalaskan dendam ibu mu ini," ucap Rubby yang kini telah berada di dekapan sang putra.
Ia bahkan tak berteriak bahkan merintih kesakitan di saat pedang Satan berhasil menembus kulit tubuh nya berulang ulang kali.
Ayah, maafkan anak mu ini yang akhir nya memilih jalan hidup yang seperti ini, aku tahu kau pasti mengharapkan lebih dari anak mu ini, tapi ayah, dunia lah yang membuatku begini, dan aku begitu bahagia dengan pembalasan dendam ini, sekali lagi maafkan anak mu ini ayah, batin Rubby perlahan lahan menutup mata nya untuk selama lama nya.
"Selamat jalan ibu," ucap Satan sembari menutup kedua mata sang ibu yang masih berada di dekapan nya, lalu ia mulai mencari keberadaan kedua musuh terbesar nya kembali.
Sementara di kejauhan, kedua nya sudah terkapar kesakitan di tengah hutan tanpa luka dan tanpa darah di tubuh nya.
"Lakukan sesuatu penyihir," rintih Raja Vinix mencoba merangkak mendekat ke arah penyihir dengan sisa kekuatan nya.
"Tolong jangan ganggu aku," ucap penyihir hitam mencoba begitu keras menyembuhkan luka dalam nya.
Ia masih tak rela jika hidup nya berakhir hari itu.
__ADS_1