
"Tabib !", tabib !", teriak seseorang dari area perbatasan wilayah gua San.
Lelaki itu terlihat tergopoh gopoh dan sesekali terjatuh saat berlari mendekati San.
Membuat semua orang di sana merasa ketakutan akan datang nya kabar buruk lagi.
Terlebih setelah serangan wabah yang masih perlahan mereka atasi.
"Ada apa ini ?", tanya San menangkap tubuh lelaki itu yang hampir tersungkur di hadapan nya.
"Gawat tabib !, gawat !", seru lelaki itu dengan wajah yang nampak ketakutan dan histeris, membuat semua orang semakin ketakutan di buat nya.
"Bicara yang jelas !", seru San memberi secawan air minum pada lelaki itu.
Tapi bukan nya di minum, cawan itu malah di tepis oleh lelaki itu dan langsung terjatuh di tanah.
"Kita tak akan bisa minum dengan lega dan tak akan makan dengan kenyang mulai saat ini !, bahkan kita harus kembali bersembunyi layak nya tikus", seru lelaki itu sambil menangis histeris.
"Apa yang sebenar nya terjadi tuan ?, bisa kau beri tahu kami ?", seru Greci sembari memeluk erat Drupa dalam pelukan nya.
"Satan !, Satan telah bangkit !, dan kabar nya ia sudah mulai mengumpulkan pasukan nya lagi dan akan memburu kita sampai binasa", ucap lelaki itu menangis meratapi nasib nya.
Sontak yang lain pun bereaksi sama.
Mereka menangis dan memeluk anak serta istri mereka.
"Apa guna nya kita sembuh dari wabah kalau akhir nya harus mati di tangan Satan ", seru seorang lelaki menangis menciumi anak nya yang belum mengerti kenapa ayah nya bersikap histeris seperti itu.
"Satan tidak akan berhenti sebelum umat manusia binasa, serta menemukan dan mengalahkan sang lawan", seru tabib Yagya membuat San dan Greci ketakutan.
Greci semakin memeluk erat Drupa di dekapan nya.
"Ibunda, sakit !", keluh Drupa mencoba melepaskan pelukan sang ibu.
Melihat kegelisahan di wajah Greci dan tabib San.
Membuat tabib Yagya merasa curiga pada nya.
Lalu, pandangan nya tertuju pada lengan Drupa yang selalu di balut kain tepat di salah satu lengan nya.
Melihat tabib Yagya memandang tajam ke arah Drupa, Greci segera mendekap Drupa dengan menutupi lengan Drupa yang memiliki tanda bunga Krisan.
"Kita harus menemukan sang lawan itu kalau begitu !, buat dia melawan Satan secepat nya", seru lelaki itu memberi usul, yang langsung di setujui oleh semua orang.
"Ayah, tolong anak ku", ucap lirih Greci merasa ketakutan.
__ADS_1
"Tenanglah", ucap San mencoba menghilangkan kecemasan anak nya.
"Kenapa kamu menatap anak itu terus ?", tanya Pratap heran dengan tingkah aneh tabib Yagya.
"Aku semakin yakin dia yang kita cari", seru tabib Yagya.
"Kau masih saja bergurau, mana mungkin !", keluh Pratap meremehkan tabib Yagya.
"Kamu pikir, kenapa lengan anak itu selalu di balut kain tanpa ada nya luka ?", seru tabib Yagya.
"Mungkin ia memiliki tanda lahir yang memalukan", timpal Pratap.
"Ya !, sebuah tanda lahir !", seru tabib Yagya bergegas mendekati Drupa.
"Mau apa kau tabib ?", tanya Greci menghadang tabib Yagya yang akan menyentuh Drupa.
"Aku semakin yakin, kamu menyembunyikan sesuatu dari kami, tenanglah, kami akan melindungi anak mu jika dia memang yang kita cari", ucap tabib Yagya membuat Greci mengerti kemana arah percakapan mereka.
"Tidak !, jangan dekati anak ku", teriak Greci membuat semua orang menoleh pada nya.
"Kenapa kau mengganggu anak dan cucu ku tabib ?", tanya San geram.
"Aku harus membuktikan satu hal tabib San, dan itu harus !", seru tabib Yagya mencoba menarik kain di lengan Drupa.
"Jangan !", seru Greci menatap sang ayah agar segera melakukan sesuatu.
Pratap lebih dulu menghadang nya.
"Apa yang kalian lakukan pada tabib kami ?", seru semua orang marah.
"Hey, Hey, jangan emosi dulu, kami hanya curiga, kalau sebenar nya sang lawan yang kita cari ialah Drupa", ucap Pratap membuat yang lain terbelalak tak percaya.
"Kau gila !, anak gadis sekecil itu !, kami memang mencari sang lawan, tapi bukan sang lawan yang asal asalan", keluh seorang wanita.
Sementara Tabib Yagya terus mencoba menarik kain penutup lengan Drupa.
Saat itu, sebenar nya dengan mudah Drupa bisa melumpuhkan tabib Yagya dengan mudah.
Tapi, sudah takdir nya bahwa identitas nya harus terbuka sekarang.
Saat kain itu terkoyak dan berhasil lepas dari lengan Drupa.
Tabib Yagya dan semua orang yang ada di sana di buat tercengang melihat nya.
Pasal nya, di lengan Drupa terukir jelas tanda bunga Krisan sesuai petunjuk dewa beberapa tahun lalu.
__ADS_1
"Tabib ?, cucu mu !, kenapa dia bisa jadi sang lawan ?, dan kenapa kamu merahasiakan nya ?", keluh seorang lelaki masih terlihat syok dengan apa yang ia lihat.
"Bagaimana kita bisa selamat kalau sang dewa mengirimkan gadis kecil sebagai sang lawan", keluh seseorang sambil menangis.
"Benar !, apa dewa sengaja mempermainkan hidup dan harapan kita !", teriak seorang lelaku amat histeris.
"Sekarang kalian tahu kan !, lalu kalian akan berbuat apa !", teriak San histeris memeluk Greci dan Drupa.
"Dia harus masuk ke medan perang", seru seorang lelaki membuat San langsung menatap nya tajam.
"Apa kalian sudah kehilangan akal !, bagaimana gadis kecil ini bisa menghadapi Satan yang perkasa !", teriak San lagi.
Membuat semua orang terdiam seketika.
"Sama seperti hal nya kalian yang melindungi keluarga kalian sampai rela jauh jauh menemui kami, aku juga berusaha melindungi keluarga ku", seru San menangis histeris bersama dengan Greci.
Momen itu membuat Drupa geram.
Seketika tubuh nya menjadi tinggi dan besar layak nya monster.
Membuat semua orang pontang panting menyelamatkan diri.
"Ini kan yang ingin kalian lihat !, dan ya, aku lah sang Lawan, aku akan memenuhi tugas ku tanpa kalian minta !", gema suara Drupa membuat semua orang ketakutan.
"Sudahlah nak !, cepatlah kembali ke wujud asli mu dan peluklah ibunda dan kakek mu", seru Greci memohon.
"Tapi mereka sudah kelewatan ibunda !", seru Drupa marah.
"Tolong lah nak, demi ibunda", ucap Greci.
Membuat Drupa terenyuh dan segera kembali ke ukuran nya yang semula.
Namun, karna kekuatan nya yang belum stabil, Drupa seketika pingsan saat itu juga.
"Drupa !", teriak Greci bergegas mendekati sang anak yang sudah tak sadarkan diri, dalam pandangan nya, suami nya yang terbunuh beberapa tahun silam muncul kembali.
Lalu tabib Yagya mencoba memeriksa keadaan Drupa.
Saat itu juga Greci menepis tangan tabib Yagya yang akan memeriksa putri nya.
"Jangan sentuh anak ku !", seru Greci memperingatkan.
"Tenanglah, aku disini ada di pihak anak mu, dia akan kami lindungi saat sekarang maupun nanti saat berhadapan dengan Satan", ucap tabib Yagya menjelaskan tujuan mereka datang ke sana.
"Lalu, kenapa kalian harus membuka identitas nya !", seru Greci kesal.
__ADS_1
"Identitas nya harus segera menguak ke permukaan, terlebih Satan telah bangkit kembali", ucap tabib Yagya membuat Greci memeluk tubuh Drupa sembari menangis meratapi hidup putri nya.