
Saat Rubby hendak keluar dari desa.
Tak sengaja ia bertemu dengan seorang pengemis yang duduk bersimpuh menengadahkan tangan nya bersama sang anak lelaki.
"Untuk makan nyai," rintih pengemis itu sembari menangis tiada henti memegangi perut nya.
Mereka berdua nampak mengenaskan di mata Rubby.
Terlebih sang anak pengemis.
Ia nampak begitu kurus kering dengan tatapan mata yang sayu.
Jalan tempat mereka mengemis merupakan tempat yang terbilang cukup ramai.
Orang orang berlalu lalang di depan mereka tanpa henti.
Namun tak ada yang mau menyisihkan sedikit uang mereka untuk sang pengemis.
Mereka bisa membeli buah buahan segar dan makanan untuk perut mereka.
Namun tak sanggup membantu sang pengemis hanya untuk membeli segenggam nasi untuk di makan.
"Orang orang seperti mereka juga yang menjadi alasan ku secepat nya ingin memusnahkan manusia manusia di bumi ini, lebih baik orang malang seperti pengemis itu mati dalam pembantaian Satan dari pada harus hidup menderita seperti itu bersama manusia manusia biadab yang ada di sekeliling nya," ucap Rubby lalu berjalan masuk menuju ke gubuk penjual makanan.
Tak berselang lama, Rubby kembali keluar dari gubuk dengan memegang dua bungkusan daun pisang di tangan nya.
Rubby berjalan mendekati sang pengemis.
Ia keluarkan beberapa logam emas dan menyodorkan nya pada sang pengemis.
Dengan sigap sang pengemis menerima logam emas itu dan langsung bersujud di kaki Rubby.
"Terima kasih nyai!, dengan ini kamu telah memperpanjang umur kami setidak nya dalam beberapa hari ke depan," seru sang pengemis memeluk sang anak dengan erat nya.
"Ini untuk kalian," ucap Rubby kali ini mengulurkan kedua bungkusan daun pisang di tangan nya.
Anak lelaki di hadapan nya seketika itu langsung mengambil bungkusan yang Rubby berikan.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung membuka bungkusan itu dengan cepat dan melahap nasi serta lauk di dalam nya.
"Sekali lagi terima kasih nyai, sudah 2 hari ini kami tidak makan apapun juga," ucap sang pengemis menatap sang anak yang terus melahap nasi di depan nya hingga habis tak tersisa.
__ADS_1
"Saya hanya kebetulan lewat," sahut Rubby merasa iba kepada kedua pengemis di hadapan nya, walaupun Rubby sudah berusaha keras menutup naluri dan hati nya selama ini.
"Dia anak ku satu satu nya, setiap hari seakan menjadi tamparan bagi ku melihat dia kelaparan dan kurus kering seperti itu, sering aku berfikir, kenapa dia begitu malang harus menjadi anak dari seorang janda miskin seperti ku ini," ucap sang pengemis memberikan sebungkus nasi terakhir untuk sang anak.
Ia begitu nampak bahagia hanya dengan melihat sang anak bisa makan sampai kenyang.
"Aku juga sangat menyayangi putra ku," seru Rubby masih menatap anak sang pengemis yang terus melahap makanan pemberian nya.
"Kulihat nyai sendirian?," ucap sang pengemis.
"Dia sedang sakit, aku kesini untuk mencarikan nya obat," sahut Rubby sembari mengusap kedua mata nya yang tak sengaja telah basah air mata.
"Jika saja aku bisa membantu mu nyai," ucap sang pengemis membuat Rubby kembali menatap anak sang pengemis.
"Ya!, kamu bisa menolong ku!," seru Rubby.
"Bagaimana cara nya?, aku tak punya apapun untuk bisa membantu mu," seru sang pengemis.
"Jika boleh, aku akan ajak anak mu ke rumah ku di sebrang hutan itu, putra ku mungkin akan cepat pulih jika ada seorang anak sebaya nya datang berkunjung," seru Rubby sembari menunjuk sebuah hutan tak jauh dari desa itu berada.
"Tapi nyai, bukan nya itu hutan terlarang, sampai sekarang pun tak ada yang berani masuk ke sana," seru sang pengemis membuat Rubby mengetahui alasan di balik hutan itu yang nampak tak berubah sama sekali, meskipun pepohonan nya sudah tumbuh besar berkali kali lipat dari terakhir kali Rubby melihat nya.
"Hanya dia harta yang ku punya," ucap sang pengemis mengusap lembut kepala sang anak.
"Aku akan kembalikan dia secepat nya, percayalah," seru Rubby berangsur angsur membuat sang pengemis mulai setuju dengan permintaan Rubby.
"Baiklah, aku titip anak ku pada mu nyai," ucap sang pengemis melepaskan sang anak untuk di bawa oleh Rubby.
"Ayo sayang," ucap Rubby menggandeng tangan anak lelaki itu dan pergi dari sana hingga mereka sudah berjalan begitu jauh meninggalkan ibu pengemis itu.
Saat Rubby telah keluar cukup jauh dari desa.
Ia segera menggendong anak itu dan segera melesat bak angin menerobos lebat nya hutan hingga sampai ke titik pertempuran Satan dan Drupa di masa silam.
Ia menatap sekeliling tempat itu, tempat di mana perjuangan Satan terhenti di sana.
"Sabarlah sebentar lagi anak ku Satan" ucap Rubby menatap ke arah anak lelaki yang ia bawa.
"Siapa nama mu?," tanya Rubby menatap anak sang pengemis.
Namun tak ada jawaban yang ia dapat.
__ADS_1
Seakan anak lelaki itu tak merespon dengan apapun juga.
Ia seakan hanya bisa mengerti makanan dan rasa lapar saja.
"Baiklah jika kamu tak bisa bicara, tapi kamu bisa mendengar ku bukan?," seru Rubby mencoba membangun komunikasi dengan anak lelaki itu sebelum ia memulai ritual kebangkitan Satan.
"Hari ini kamu akan membantu ku, dengan sedikit darah mu, anak ku akan hidup kembali dalam diri mu, kamu akan tidur dan raga mu akan dikendalikan oleh anak ku, jadi nikmatilah tidur panjang mu, itu juga baik bagi mu, setidak nya kamu tak akan merasakan kejam nya dunia lagi, terutama tidak akan lagi merasakan perut yang kelaparan sepanjang hari," seru Rubby hanya mendapat sebuah tatapan kosong dari sang anak pengemis yang ia bawa.
Tak mau membuang buang waktu lagi.
Rubby segera mengeluarkan kendi abu Satan dan menaburkan nya tepat pada wilayah terkapar nya Satan di masa lalu.
Rubby segera membaca mantra dan mengulurkan tangan anak lelaki itu ke arah abu Satan berada.
Angin ribut seketika langsung tercipta saat itu juga.
Langit yang awal nya cerah seketika langsung berubah gelap dan menakutkan.
"Ada apa ini!," sentak Raja Vinix saat para pekerja yang membangun Kerajaan nya berhamburan meninggalkan tempat pembangunan.
"Maaf tuan!, cuaca sangat mengerikan, kita akan lanjutkan besok," seru seorang pekerja sembari terus berlari pulang bersama kawanan nya.
"Kurang aj*r!, kenapa harus ada badai di saat pembangunan kerajaan ku!," teriak Raja Vinix melempar semua barang yang ada di sekeliling nya.
"Kenapa kamu diam saja penyihir!," sentak Raja Vinix saat melihat penyihir hitam hanya terdiam bersila dengan mata tertutup.
"Bahaya Raja!," seru sang penyihir membuat Raja Vinix tercengang.
"Kamu masih menyadari nya sekarang!, lihatlah!, bahaya nya ada di depan mu, kerajaan ku tak akan selesai jika cuaca terus seperti ini!," keluh Raja Vinix.
"Satan Raja ku!," seru penyihir hitam terbangun dan segera mengajak sang Raja untuk berlindung di istana Safar.
"Apa maksud mu Satan?, dia jelas jelas sudah meninggal!," sentak Raja Vinix.
"Ada seseorang yang berusaha membangkitkan nya Raja!, kita harus berlindung!," seru penyihir hitam bergegas pergi untuk mencari tempat yang aman.
Sementara rasa takut Raja Vinix langsung muncul kembali saat itu juga.
Tanpa berucap apapun, ia mengikuti setiap arahan yang di ucapkan oleh penyihir hitam.
Aku tak boleh mati!, impian ku menjadi Raja tertinggi akan segera terwujud!, batin Raja Vinix sembari terus berlari.
__ADS_1