
Hutan berguncang saat Tabib Yagya dan Pratap sedang beristirahat siang itu.
"Apa itu gempa atau hentakan seribu kaki kuda..?", seru Pratap menghunuskan pedang yang terselip di pinggang nya.
"Apa ada sebuah kerajaan yang masih berdiri sampai sekarang Pratap..?, jelas itu bukan suara hentakan seribu kuda", seru tabib Yagya mengamati sekitar.
"Jadi maksud mu ini sebuah gempa..?", timpal Pratap.
"Itu juga bukan..!", tegas tabib Yagya mencoba memanjat pohon yang tinggi dan melihat situasi hutan.
"Kau melihat sesuatu..?", seru Pratap saat melihat raut wajah tabib Yagya yang berubah menjadi gusar.
"Bahaya..!", seru tabib Yagya terus memandang ke arah burung dan hewan hewan yang berusaha melarikan diri dari sesuatu.
"Apa...?", teriak Pratap tak mendengar ucapan tabib Yagya yang masih jauh di atas pohon.
"Menghindar...!!", teriak tabib Yagya berusaha turun dari pohon.
Tapi serangan seseorang yang begitu dahsyat lebih dahulu membuat tubuh tabib Yagya dan Pratap terpental hingga ke semak semak.
"Uhuk..., uhuk..!, kau tak apa Pratap..?", tanya tabib Yagya sembari menahan sakit nya dan bergegas mengeluarkan pedang nya lalu mengarahkan nya ke arah depan untuk melawan seseorang di balik debu tebal yang masih menutupi pandangan nya.
"Ahh.....!!, aku tak apa", seru Pratap juga segera bangkit dan menghunuskan pedang nya membantu melindungi diri mereka dari seseorang yang tiba tiba menyerang mereka.
"Siapa kau...?, tunjukkan wujud mu..!", teriak Pratap.
"Wah....!, baru kali ini aku bertemu manusia yang mau menyapa ku", seru sebuah suara di balik tebal nya debu yang mulai menghilang dari pandangan mereka.
Saat pandangan mereka telah jelas melihat ke arah depan.
Mata tabib Yagya dan Pratap seketika membelalak sempurna.
Mereka menatap sosok yang berdiri tinggi tegap di hadapan mereka.
"Makhluk apa itu....?, monster..?", gumam Pratap kembali mengacungkan pedang nya ke arah depan.
"Apa itu yang di kabarkan sebagai Mort..?", ucap tabib Yagya penasaran dengan wujud yang tak pernah ia lihat sebelum nya itu.
"Ya..!!, aku adalah Mort...!, monster ciptaan penyihir Rubby yang mengemban tugas mencari dan menghabisi sang lawan", teriak Mort sembari memukul mukul dada dengan kedua kepalan tangan nya untuk menunjukkan kekuatan besar nya.
"Cuh..!!, wanita itu lagi, kenapa dia hanya bisa menciptakan seorang monster..?", keluh Pratap.
"Lawan kami dulu kalau kau berniat membunuh sang lawan..!!", tegas tabib Yagya membuat Pratap terkejut.
"Apakah itu harus..?, kau bergurau..?", seru Pratap keberatan dengan ucapan tabib Yagya.
"Diam lah..!, kau mau bantu aku tidak ..!", ketus tabib Yagya.
"Apa berharga nya sang lawan bagi mu..?, dan seperti nya kalian bukan dari kalangan rakyat biasa", seru Mort mencurigai kedua manusia dihadapan nya menyembunyikan sebuah identitas lain.
"Jangan sok pintar..!!, bertarung jika kau punya nyali", tantang tabib Yagya.
"Berani nya kau ...!!", teriak Mort mulai melakukan penyerangan pada tabib Yagya dan Pratap.
Karna merasa kewalahan dengan kekuatan Mort.
__ADS_1
Tabib Yagya dan Pratap mencoba menghindar sembari menyusun rencana.
"Pakai kekuatan sihir mu..!", seru Pratap mencoba membujuk tabib Yagya agar memakai kekuatan nya.
"Bisa terbuka identitas kita..!", seru tabib Yagya menolak.
"Kemarilah..!!, jangan buang buang waktu ku..!", teriak Mort murka.
"Bodoh..!!, jika kau memakai kekuatan mu itu, ia akan langsung mati dan tidak akan bisa cerita kesiapapun", seru Pratap membuat tabib Yagya mulai terhasut.
Serangan demi serangan terus di lakukan oleh Mort.
Tak segan segan ia mengobrak ngabrik seisi hutan hingga ludes tak tersisa.
Pratap mulai menyerang kembali Mort dengan pedang nya.
Ia memberi kesempatan untuk tabib Yagya untuk menyerang Mort dengan sekali serangan maut.
"Arrrr....!!, berani nya manusia seperti mu menghalangi jalan ku", seru Mort terus mencoba melumpuhkan Pratap.
Bersamaan dengan itu.
Tabib Yagya mulai memikirkan semua ucapan Pratap.
Ia akhir nya mengeluarkan busur nya dan memantrai nya lalu membidik tubuh sang perkasa Mort.
Mort yang melihat tabib Yagya memegang busur seketika tertawa lepas.
"Mau apa kau dengan busur kecil lemah seperti itu..!!, lihat tubuh ku, 4 kali dari berat kalian", tawa Mort menggema di penjuru hutan.
"Benarkah..!", ucap Pratap dengan senyum licik nya.
Saat panah itu mulai mendekati Mort.
Seketika Mort di buat terkejut.
Pasal nya, anak panah itu berubah menjadi ukuran 10 kali lipat dari asli nya.
Dan bahkan telapak tangan Mort yang mencoba menghadang nya sampai terbelah dan panah itu terus melesat tepat menancap di jantung nya.
Saat itu juga, Mort terjatuh ke tanah dan tamat.
Tubuh nya berubah menjadi debu dan terbang menuju asal nya, yaitu tempat pertapaan dari Rubby.
"Ternyata aku masih ahli menggunakan nya", ucap tabib Yagya merasa bangga akan kemampuan nya.
"Sesuai prediksi ku bukan", ucap Pratap menepuk bahu sang tabib sembari berjalan menebas semak belukar untuk melanjutkan perjalanan nya lagi mencari sang Lawan.
Sementara jauh di tempat Rubby bersemedi.
Pesan kekalahan Mort sudah ia terima.
Debu Mort telah mencapai air kolam tempat Rubby bersemedi.
"Siapa yang berani menghalangi jalan ku...?, kurang aj*r..!, berarti ada pendekar di luar sana yang berniat melindungi sang lawan, ini tak bisa di biarkan", seru Rubby masih dalam posisi semedi nya.
__ADS_1
Rubby tak menyerah begitu saja.
Nyawa putra nya kini ada di tangan nya.
Kemudian cara baru ia gunakan untuk memburu sang lawan, ia menciptakan hewan wabah dan mengirimkan nya kepada seluruh umat manusia.
"Aku harap sang Lawan akan ikut binasa dengan wabah yang aku ciptakan", ucap Rubby kembali menutup mata nya dan kembali meneruskan semedi nya.
Segerombolan ngengat bergegas keluar dari tempat semedi Rubby.
Mereka menyebar ke segala penjuru dunia.
Menerbarkan wabah yang mereka bawa untuk semua umat manusia tanpa terkecuali.
"Sedang apa kamu penyihir...?", tanya Pratap dalam pembaringan nya malam itu.
"Ku rasa angin tenang ini tak baik untuk kita", ucap tabib Yagya sembari sibuk meramu sesuatu.
"Ah, sampai angin saja kau curigai, apa kau lebih suka ada angin ribut menerpa kita hah..!', ledek Pratap di balas tatapan sinis sang penyihir.
"Terserah kau masih percaya dengan ku atau tidak, jika kau masih percaya minumlah ramuan ini untuk berjaga jaga", ucap tabib Yagya meneguk ramuan yang baru saja ia buat.
Pratap hanya memandang ragu tabib Yagya yang mulai bersiap untuk tidur.
Tidak ada salah nya hanya untuk berjaga jaga, gumam Pratap dalam hati sembari mengambil cawan ramuan yang sengaja di sisihkan tabib Yagya untuk nya.
Ia segera meneguk ramuan itu sampai habis dan bersiap untuk tidur malam itu.
Sama hal nya dengan Drupa.
Malam itu ia tak kunjung tidur meskipun sang ibunda sudah membujuk nya berkali kali.
Ia terus saja bermain dengan banyak nya daun obat yang Greci anggap itu hanya permainan meramu dari Drupa.
"Sudahlah sayang, ini sudah larut, besok lagi ya main nya..", bujuk Greci kembali.
"Sebentar ibunda", seru Drupa masih asik menumbuk.
"Nak, bisa habis bahan obat kakek kamu buat mainan seperti itu", keluh sang kakek.
"Aku cuma minta dikit aja kek", ucap nya sembari mengulurkan secawan kecil sebuah ramuan buatan nya.
"Apa ini..?, kamu tau kan meramu itu butuh racikan yang tepat, lagi pula kakek tak sakit", ucap sang kakek.
"Aku kan cucu kakek, mana mungkin aku salah meramu, ini hanya untuk kekebalan tubuh kita kek, udara nya dingin, aku takut kakek dan ibunda sakit", ucap nya membujuk.
"Baiklah, baiklah, tapi setelah kami meminum nya, kamu harus tidur ya", ucap sang ibunda mengambil cawan kecil itu dan meneguk nya sampai habis.
Begitu pun dengan sang kakek, ia segera meneguk nya sampai tak tersisa.
Pikir nya ramuan itu di tumbuk dari daun daun obat, jadi tak akan menimbulkan masalah.
"Kamu puas..?, sekarang cepat tidur, anak nakal", seru sang kakek mencoba membopong cucu nya ke atas tempat tidur.
"Selamat malam kek, ibunda", ucap nya sembari tersenyum bahagia dan segera menutup mata untuk tidur.
__ADS_1
"Drupa, Drupa, jika dia setiap malam seperti itu, bisa kenyang obat kita yah", keluh Greci pada sang ayah.
"Biarlah.., dia hanya anak anak, sekarang kita tidur", ucap nya sembari meninggalkan Drupa yang sudah nampak tertidur lelap.