
Sudah berbulan bulan tabib Yagya dan Pratap berjalan mengelilingi setiap wilayah.
Mereka berharap bisa menemukan sang lawan secepat mungkin.
Hanya ia harapan mereka agar Satan bisa musnah dan berharap kejayaan mereka kembali seperti dulu.
Sepanjang pencarian, mereka menutup diri mereka dengan kain dan memakai cadar.
Demi melindungi diri mereka dari orang orang sakit yang terserang wabah.
Pasal nya hanya mereka lah yang tak terserang wabah mematikan itu berkat ramuan dari penyihir hitam di malam wabah itu dilepaskan oleh Rubby.
Semua orang di semua wilayah yang mereka lewati terkena wabah itu.
Mayat tergeletak membusuk di sepanjang jalan sudah menjadi hal wajar yang mereka temui.
"Uek..!!, aku tak tahan semua ini..!", seru Pratap menutup hidung nya erat erat.
"Aku pun sama, wabah ini sungguh mengerikan", keluh tabib Yahya menahan mual nya.
Tiba tiba, banyak orang terlihat berbondong bondong menuju ke arah timur.
Meskipun dengan berjalan terseok seok menahan sakit, bahkan ada yang sudah kehilangan tangan dan bagian tubuh lainnya akhibat pembusukan, mereka tetap bersemangat menuju ke arah timur.
"Akhirnya ada tabib hebat yang memiliki penawarnya..!", seru seseorang sembari terus berjalan terseok seok melewati tabib Yagya dan Pratap.
"Kau dengar itu..?, ada manusia yang tak terserang wabah seperti kita", ucap lirih tabib Yagya.
"Maksud mu, dia yang kita cari..?", timpal Pratap.
"Siapa lagi...?, pasti itu dia", ucap tabib Yagya.
"Tunggu apa lagi, ayo kita ikuti mereka", seru Pratap bersemangat berjalan menyusul semua orang.
Lalu ia seketika berhenti dan menahan mual yang amat hebat.
"Sebaik nya kita menjaga jarak dari mereka, mereka sudah seperti mayat hidup bagi ku, bau nya begitu menjijikkan", keluh Pratap membuat tabib Yagya menahan tawa.
"Siapa suruh..!", ucap tabib Yagya mulai kembali meneruskan perjalanan nya.
3 hari berlalu, mereka terus berjalan mencari tempat tabib tersohor pemilik obat penawar wabah itu.
Satu demi satu orang orang mulai tumbang di tengah jalan.
"Gawat..!, tinggal tersisa 4 orang, dan kondisi nya sudah sangat buruk, siapa yang akan memandu kita saat mereka semua tewas", ucap lirih Pratap mengikuti dari belakang dengan jarak hampir 4 meter jauh nya.
"Mau tak mau kita harus mengorek informasi dari mereka sebelum kita kehilangan mereka", ucap tabib Yagya.
"Kau gila...!, bisa muntah di tempat aku jika berdekatan dengan mereka", tolak Pratap.
Tabib Yagya menatap sinis ke arah Pratap dan berjalan mendahului nya mendekati ke empat orang di depan nya.
__ADS_1
"Baguslah, lakukan lah sendiri, berarti kau masih menghargai ku sebagai Raja mu", ucap Pratap tersenyum lega.
Sembari menahan mual, tabib Yagya mencoba sedekat mungkin dengan mereka.
"Maaf tuan, di mana letak pasti tabib tersohor itu, aku juga ingin sembuh", seru tabib Yagya.
Seketika, ke empat orang itu menoleh pada nya, mata mereka mengamati tabib Yagya yang berjalan di samping mereka.
"Bagaimana kau bisa bertahan dengan pakaian itu..?, sedangkan kami yang berpakaian tipis saja sangat bingung membuang ulat ulat ini", tanya salah satu dari mereka.
"Emm, kondisi ku sudah cukup parah, banyak dari bagian tubuh nya yang sudah berlubang, aku harus melindungi nya dari binatang buas", ucap tabib Yagya mencoba mencari alasan yang tepat.
Mereka kembali meneruskan perjalanan seakan mereka percaya dengan alasan tabib Yagya.
"Kata orang, tempat itu merupakan sebuah gua yang di kelilingi pohon bunga krisan", ucap seseorang lain nya sembari membuang ulat yang membandel di tangan nya.
Tabib Yagya terus menahan mual nya, agar ia tak muntah.
Tapi ia tak bisa menahan nya lagi.
Seketika ia muntah di tempat, yang membuat cadar nya terbuka dan tangan nya terlihat.
Membuat 4 orang di samping nya terbelalak dibuat nya.
"Kau sehat..!!, bagaimana kau bisa sehat...?, kau menipu kami...!!", seru seorang dari mereka merasa tak terima.
"Lari tabib..!!", teriak Pratap berlari sekencang mungkin menghindar dari kemarahan ke empat orang itu.
Dengan sekuat tenaga, tabib Yagya menyusul Pratap dan menghindar dari kejaran ke empat orang itu.
Batang pohon mengenai tubuh ke empat orang itu.
Membuat mereka tersungkur dan tak mampu bangkit lagi.
Tubuh mereka yang memang sudah lemah dan penuh luka berulat di tambah hantaman batang pohon itu membuat mereka lumpuh di tempat.
"Terima kasih", ucap tabib Yagya melanjutkan perjalanan nya bersama Pratap.
2 hari berlalu.
Mereka telah sampai ke tempat yang mereka tuju.
Tempat itu sudah dipenuhi oleh banyak orang dari segala penjuru.
Sebagian dari mereka telah sembuh dari wabah yang melanda dunia.
"Luar biasa..!, tempat ini bahkan hampir seramai rakyat kerajaan ku", ucap Pratap tak percaya.
"Kita harus mendapat kepercayaan mereka", ucap lirih tabib Yagya menuju ke arah gua.
Greci yang melihat kedatangan mereka merasa heran.
__ADS_1
Baru pertama kali ini ada seseorang yang sehat tanpa terjangkit wabah datang ke tempat mereka.
"Salam untuk kalian, ada yang bisa kami bantu..??", tanya Greci menyambut mereka.
Tatapan Pratap langsung tak berpaling dari kecantikan Greci.
Kecantikan alami khas penduduk desa membuat gairah Pratap yang lama tidur kembali bangkit.
Melihat reaksi Raja Vinix, penyihir hitam langsung melirik nya muak.
Tidak bisakah ia menghilangkan nafsu besar nya itu, gumam penyihir hitam dalam hati.
"Ibunda, tamu kita sudah datang..", bisik Drupa pada sang ibunda.
Membuat Greci mengerti akan maksud perkataan anak nya.
Jadi mereka yang di maksud Drupa selama ini, tamu dari jauh, gumam Greci dalam hati.
"Maaf nyai, kami kesini untuk....", ucap tabib Yagya dipotong oleh Drupa.
"Mereka mau membantu kita mengurus orang orang ibunda", seru Drupa membuat Pratap tersedak ludah nya sendiri.
Apa...!!, lagi lagi aku harus mengurus orang orang lemah itu, gumam Pratap dalam hati merasa kesal dengan kondisi nya yang jauh berbeda saat diri nya dulu menjadi Raja yang semua nya serba dilayani bukan malah melayani.
"Ma, ma, mm, maksud nya..?", tanya tabib Yagya bingung.
"Tadi aku di beri tahu seorang bapak di depan sana, kata nya kalian merupakan tabib tersohor dari daerah Barat", ucap Drupa membuat tabib Yagya dan Pratap saling pandang.
"Benarkah...?, syukurlah, kami sangat membutuhkan sekali bantuan di sini", ucap Greci membuat tabib Yagya dan Pratap hanya tersenyum masam.
"Mari aku ajak kalian berkeliling dan bertemu ayah ku", ucap Greci mengajak kedua tamu nya berkeliling.
Saat melewati tempat perawatan, perut mereka kembali merasa di aduk aduk.
Ulat ulat yang menggeliat di tubuh orang orang yang terjangkit wabah, sukses membuat Pratap merasa mual teramat hebat dan segera berlari mengeluarkan isi perut nya.
"Cukup...!!, kapan aku bisa menjadi raja lagi..!", gerutu Pratap memegangi perut nya yang masih mual.
Sementara dari arah belakang.
Seseorang tengah berjalan mendekati nya.
"Tuan tak apa..?", sapa nya membuat Pratap terkejut.
"Aku tak apa", timpal nya bergegas kembali bergabung dengan tabib Yagya.
Merasa mengenal nya, lelaki itu mencoba berjalan mendekati Pratap yang sudah bergabung kembali bersama Greci dan yang lain nya.
Tabib Yagya dan Pratap merasa heran dengan tatapan lelaki itu yang begitu aneh pada mereka.
"Raja Vinix...?", ucap lelaki itu membuat Greci kebingungan, terlebih tabib Yagya dan Pratap.
__ADS_1
Mereka begitu syok mendengar ucapan lelaki itu.
"A, a, apa kau bilang tadi...?, apa kau bergurau..??", seru tabib Yagya khawatir identitas mereka akan terbongkar saat itu juga.