Lord Devil _Satan_

Lord Devil _Satan_
Bab 36. Menuju pertempuran 1


__ADS_3

"Hancurkan semua yang ada di depan kita !", teriak Satan memberi komando kepada para pasukan api nya.


Perjalanan nya sudah di mulai kembali sejak mendapat perintah dari sang ibu.


Bahkan kekuatan pasukan api kali ini jauh lebih dahsyat dari pada yang dulu.


"Persiapkan diri mu anak ku !, ingat !, jangan remehkan lawan mu !", seru Rubby masih dari tempat pertapaan nya.


Kenapa ibu sangat khawatir sekali ?, apa sehebat itu kah sang lawan ?, aku jadi tak sabar untuk ******* nya, pikir Satan terus mengomando pasukan nya untuk meluluh lantah kan semua yang mereka temui.


"Perjalanan ku kali ini sedikit membosankan karna ibu telah melepas wabah waktu itu", ucap Satan mencoba berkomunikasi dengan sang ibu lagi.


"Itu juga untuk melenyapkan sang lawan anak ku, tapi ternyata tidak semudah itu", keluh Rubby.


"Sekarang, tak ada teriakan dan rintihan orang orang yang ku bantai dan ku *****, karna tak ada manusia yang tersisa sejauh ini", seru Satan kesal.


"Marah lah !, aku lebih suka kau seperti itu !", ucap Rubby menutup percakapan mereka.


"Bakar habis semua nya !, hewan !, pepohonan, aku tak peduli !", teriak Satan tertawa dengan amat kencang nya.


Hingga gema suara tawa nya terdengar di segala penjuru dunia.


Sementara jauh dari tempat Satan berada.


Rombongan Tabib San meringkuh ketakutan saat gema tawa Satan terdengar sampai ke telinga mereka saat itu.


Sedangkan posisi mereka saat itu tak ada lagi tempat berlindung.


Satu satu nya tempat berlindung, yaitu gua San sudah mereka tinggalkan 2 hari yang lalu.


"Sa, Satan, Tabib !", ucap seseorang dengan terbata bata sembari memeluk anak dan istri nya.


"Dia sudah semakin dekat dengan kita", seru yang lain nya.


"Habislah kita !, mungkin sekarang, hanya kita kelompok manusia di dunia ini", ucap seseorang lagi.


"Tenang semua !, kita masih punya satu sama lain, kita teruskan perjalanan kita", seru tabib San mencoba menenangkan kelompok nya, meskipun diri nya sendiri merasa takut dengan masa depan yang mungkin tak bisa mereka rasakan.


Tiba tiba, Greci histeris dan bergegas menuju sang ayah.


"Ayah !, ayah lihat Drupa ?", seru Greci panik.


"Drupa ?, bukankah ia berjalan di samping mu !, bersama Pura juga !", seru tabib San mencari ke sekeliling mereka.

__ADS_1


"Tapi sekarang mereka tak ada ayah !", seru Greci mulai menangis.


"Tenanglah, kita akan cari mereka", ucap tabib San mencoba menenangkan Greci.


Semua pun berpencar mencari keberadaan Drupa dan Pura di sekitar hutan itu.


Tapi usaha mereka tak membuahkan hasil.


Sementara di arah menuju kembali ke gua, Drupa berlari sembari menggandeng Pura.


"Cepat sekali lari kita !, hingga jarak 2 hari bisa kita tempuh dalam beberapa jam saja", seru Pura tak bisa dengan jelas memandang ke depan karna keras nya mereka berlari.


"Tenang kak !, kaki kakak tak akan sakit ataupun lepas, dia sudah ku mantrai agar kuat seperti kaki ku", seru Drupa terus menikmati perjalanan mereka.


"Apa ?, kau bicara apa ?", seru Pura hanya bisa mendengar suara angin yang bergemuruh di kedua telinga nya.


Tanpa mereka sadari, Tabib Yagya dan Pratap melihat mereka saat melintas.


"Apa itu tadi ?", tanya Pratap mengacungkan pedang nya untuk berjaga jaga.


"Itu putri Kinan, bukan nya kita kembali ke sini untuk menjemput nya !", keluh tabib Yagya bersandar di sebuah pohon dengan santai nya.


"Kinan anak ku !, kenapa dia bisa secepat itu melesat ?, dan kau bisa mengenali nya sedangkan aku tidak", timpal Pratap.


"Kau mau apa ?", tanya Pratap heran.


"Kita akan menyusul mereka", seru tabib Yagya menarik Pratap dan seketika itu juga mereka terbang di udara menyusul Drupa dan Pura.


Begitu terkejut nya Pratap saat ia bisa melayang tinggi di udara.


"Apa apa an ini penyihir !, kau bisa terbang tapi membiarkan aku berjalan bertahun tahun mengikuti mu !", sentak Raja Vinix.


"Jika aku terbang, apa kata semua orang ?", seru tabib Yagya membuat Pratap membuang muka.


___


"Drupa !, di mana kamu nak !", teriak Greci mulai lemas mencari sang anak.


"Istirahatlah dulu nak, biar ayah dan yang lain yang mencari nya", pinta San.


"Bagaimana aku bisa istirahat ayah !, anak ku hilang !", sentak Greci mulai kembali menangis.


Lalu San pun terdiam dan mengingat sesuatu.

__ADS_1


Tentang percakapan mereka semua saat ide meninggalkan gua menjadi keputusan mereka bersama.


Drupa yang tak pernah mau meninggalkan gua walaupun ada serangan monster sekalipun, kenapa saat itu ia tak protes sedikitpun dengan rencana itu ?.


San mulai berfikir apa yang sebenar nya di lakukan oleh cucu nya.


Dan seketika itu juga ia menghela nafas panjang.


"Ayah ?", tanya Greci heran melihat raut wajah sang ayah.


"Mungkin ayah tahu di mana anak mu", seru San membuat Greci terkejut.


"Benarkah ?, dimana ayah ?, ayo kita jemput dia", seru Greci bergegas menarik tangan sang ayah.


"Meskipun kita susul dia, kita tak akan bisa dengan cepat sampai kesana Greci !", seru sang ayah membuat langkah kaki Greci berhenti.


"Apa maksud ayah ?, apa dia jauh dari sini ?", tanya Greci penasaran.


"2 hari perjalanan, yang mungkin dengan anugrah dewa, Drupa anak mu sudah sampai di sana dengan cepat", ucap tabib San terduduk di tanah.


Ucapan sang ayah membuat Greci terdiam cukup lama, dan membuat tubuh nya lemas bersandar di pohon.


"Apa ia kembali ke gua ayah ?", tanya Greci menebak.


"Ya !", seru San merasa putus asa.


"Tapi kenapa dia diam saat kita ajak pergi, dan kembali ke sana saat kita lengah ayah !", sentak Greci tak habis pikir.


"Mungkin hari itu sudah dekat nak, hari sang lawan bertemu dengan Satan", ucap tabib San membuat Greci syok dan menangis.


"Tapi kenapa yah !, jika kita di sana kita bisa menolong nya !, dia juga tidak akan seorang diri", keluh Greci meringkuk dan menangis sejadi jadi nya.


Semua orang yang melihat nya hanya bisa menatap iba.


"Apa bantuan yang bisa kita berikan Greci ?, kita hanya akan menjadi penghambat Drupa saja, terlebih Drupa tak akan mau kakek dan ibunda nya menjadi sasaran Satan, mungkin itu alasan Drupa meninggalkan kita di sini", seru seseorang dari kelompok mereka.


"Sabar nak, ayah yakin Drupa akan menjaga dirinya dengan baik, ia hanya memenuhi tugas kelahiran nya", ucap San mencoba menenangkan sang putri.


"Tapi anak ku masih kecil yah !, apa yang bisa dia lakukan untuk menghadapi Satan yang besar dan berapi itu !", seru Greci terus saja menangis tiada henti.


"Aku bisa yang tidak bisa Satan lakukan ibunda, aku memiliki yang tidak di miliki oleh Satan, percayalah !", ucap Drupa sembari terus berlari menuju Gua kesayangan nya.


"Kamu bicara apa lagi Drupa ?", seru Pura.

__ADS_1


"Aku bilang, kita hampir sampai kak !", seru Drupa terus menatap lurus ke depan.


__ADS_2