
Senja hari itu mulai terlihat, tapi mereka masih menunggu di dekat pagar masuk area gua tempat tinggal San.
Sementara tabib Yagya sudah merasa kesal dengan waktu nya yang terbuang sia sia.
"Aku seperti orang bodoh saja !", ketus tabib Yagya kesal sembari keluar dari tempat persembunyian mereka.
"Lihat itu ! kembalilah bersembunyi !", ucap Pratap menarik tangan tabib Yagya agar tak terlihat oleh orang yang ia incar.
"Pura ?, jadi kau membuat ku menunggu lama karna menunggu dia ?", ketus tabib Yagya.
"Aku sangat menginginkan nya", timpal Pratap mengusap mulut nya, seakan air liur nya akan menetes melihat Pura berjalan keluar dari pagar pembatas sesuai jadwal rutin harian nya mencari obat obatan tambahan untuk semua orang.
"Bagaimana kalau tabib San dan yang lain tahu ?, bisa di rajam kita !", keluh tabib Yagya tak setuju dengan rencana Pratap.
"Kenapa kau sangat cerewet sekali !, anggap saja kalau aku harus mati di tangan Satan esok hari, aku sudah merasakan dada seorang gadis untuk terakhir kali nya", seru Pratap mulai bersiap menculik Pura.
"Terserah kau saja !, aku lebih baik menunggu di sini ", ketus tabib Yagya berusaha bersandar di pohon dan mencoba untuk tidur.
Ia tak mau mengurusi hasrat nafsu Raja Vinix yang tak ada ujung nya.
Melihat Pratap keluar dari semak semak.
Pura merasa ada yang tak beres, ia berusaha berjalan mundur menghindar dari Pratap.
"Bukan nya tabib seharusnya sudah pergi jauh dari sini ?", ucap Pura dengan gugup nya.
"Apa kau tak suka melihat ku masih di sini ?, kau jahat sekali cantik ", ucap Pratap membuat Pura semakin ketakutan.
"Apakah ada yang ketinggalan ?, aku bisa ambil kan ", ucap Pura terus berusaha menghindar dari Pratap yang semakin mendekati nya.
"Kau pintar sekali membaca pikiran ku Pura, andai saja kita menjadi sebuah pasangan, kita pasti akan serasi sekali", seru Pratap mulai mencolek tubuh Pura.
"Jangan seperti ini tabib !", sentak Pura mulai gelisah.
"Aku tak mungkin meninggalkan gadis cantik seperti mu begitu saja di tempat ini Pura !", seru Pratap.
"Aku bisa teriak tabib !", ancam Pura.
"Oh ya, saat mereka sampai ke sini pun, mungkin aku sudah lebih dulu membawa mu pergi", seru Pratap tertawa.
"Ingat tabib !, kau sudah beristri !", seru Puja.
Ucapan Pura lagi lagi membuat Pratap tertawa.
__ADS_1
"Lihatlah !, lihat !, istri ku saja tidur dengan nikmat nya menunggu ku menyelesaikan urusan ku dengan mu", bisik Pratap di telinga Pura.
Sontak tubuh Pura segera bergerak semakin jauh dari Pratap, ia begitu ketakutan melihat lelaki hidung belang di hadapan nya itu.
Sementara Pratap masih sempat terpejam sejenak menghirup aroma wangi semerbak yang tertinggal dari tubuh Pura saat ter kibas oleh angin.
"Bagaimana mungkin ada seorang istri diam saja saat melihat suami nya mencoba melecehkan wanita lain !", sentak Pura berusaha berlari ke arah tabib Yagya dan mencoba membangunkan nya.
Mendengar seruan Pura, tabib Yagya dengan ogah ogah an bangun dari tidur nya.
"Apa kau tidak bisa melihat orang tidur ?, berisik sekali !, memang nya aku ini pengasuh nya yang harus mengurusi semua kebutuhan nya ?", keluh tabib Yagya berusaha memanjat pohon dan kembali tidur di atas dahan.
"Menyerah lah Pura, ikutlah dengan ku, mau apa kamu di tempat tabib San yang galak itu", bujuk Pratap.
"Tidak !, aku lebih baik di sini meskipun Satan lah yang akhir nya membinasakan aku di sini", seru Pura berusaha berlari mendekati pagar masuk ke area tabib San.
Belum sempat tangan Pura meraih Pagar pembatas.
Tubuh nya segera di sambar oleh Pratap dengan cepat nya.
Membuat tubuh sexy Pura terhuyung ke dekapan Pratap dengan cepat.
"Kena kau !", seru Pratap berusaha menggendong Pura dan berlari mencari tempat yang aman.
Jarak nya terbilang cukup jauh dari gua San, sehingga meskipun Pura menjerit sekalipun tak akan ada yang mendengar nya.
Benar saja, Puja berteriak tak ada henti henti nya semenjak mereka sampai di tempat itu.
"Berisik !", teriak Pratap mencoba mendekap tubuh Pura agar tak memberontak.
Tanpa buang buang waktu, Pratap segera mencoba melucuti pakaian yang membalut tubuh **** Pura.
Pura pun tak tinggal diam, ia terus saja memberontak hingga membuat Pratap marah.
Pratap juga sampai mengikat tangan Pura ke pohon agar tak memberontak, sembari diri nya berusaha melucuti pakaian nya sendiri dan bersiap menggauli Pura.
"Nanti kau juga akan keenakan, dasar perempuan !", sentak Pratap sembari menampar Pura berulang ulang kali.
Hingga membuat cadar nya kini terbuka.
Sontak Pratap terkejut dan berusaha menjauh dari Pura.
"Tolong lepaskan aku !", rintih Pura sembari menangis dan meringkuk mencoba menutupi bagian tubuh nya yang bisa ia tutupi dengan satu tangan nya yang tak terikat.
__ADS_1
"Kinan ?", seru Pratap terbelalak tak percaya, tubuh nya gemetar dan nafas nya seakan tak beraturan.
Tubuh nya begitu syok menatap ke arah Pura yang ternyata ialah putri nya sendiri.
Melihat Pratap yang mematung cukup lama, Pura berusaha melepaskan ikatan tangan nya dan memakai pakaian nya.
Mendengar kegaduhan yang tiba tiba berhenti.
Tabib Yagya membuka mata nya dan mencoba mencari keberadaan Pratap dan Pura.
"Apa dia sudah selesai ?", ucap tabib Yagya penasaran sembari berjalan semakin masuk ke hutan mencari keberadaan Pratap dan Pura.
Ia di buat terkejut saat melihat Pratap diam tak bergerak tanpa busana.
"Pratap !, ada apa ini ?", seru tabib Yagya yang kemudian ikut syok saat melihat Pura yang masih sibuk berpakaian di hadapan nya.
"Putri Kinan ?, kau masih hidup ?", seru tabib Yagya mencoba mendekati Pura.
"Hentikan manusia biadab !", teriak Pura dengan histeris sembari memakai cadar nya kembali dan segera berlari kembali ke tempat tabib San berada.
"Aku ingin meniduri anak ku sendiri !", ucap Pratap masih dengan tatapan yang kosong.
"Sebaik nya Raja berpakaian lah dahulu", ucap tabib Yagya mencoba memalingkan wajah nya dari Raja Vinix yang masih polos tanpa busana.
Sepanjang perjalanan, mereka terus memikirkan Pura yang ternyata ialah putri Kinan, putri pertama dari Raja Vinix yang mereka tahu sudah tiada.
"Jika kau telat sedikit saja mengetahui siapa di balik cadar itu, pasti kamu sudah menjadi ayah yang terburuk di dunia ini karna tega menggauli anak nya sendiri", ucap tabib Yagya tak menyangka akan fakta yang baru saja terungkap.
"Syukurlah, ucapan mu kali ini benar, se bejat bejat nya aku, aku masih menghargai kehormatan putri ku sendiri", ucap Pratap berjalan dengan lesu mengikuti langkah kaki tabib Yagya yang berjalan mendahului nya.
Sedangkan Pura, saat itu sudah sampai kembali di Gua tempat tinggal San.
Saat ia datang, ia segera di peluk oleh Drupa.
"Kakak tidak apa apa kan ?", tanya Drupa tersedu sedu seakan ia tahu bahwa Puja baru saja keluar dari lubang bahaya.
"Memang nya kamu kenapa Pura ?", tanya San heran.
"Tidak apa, aku cuma lelah, maaf tabib aku tidak membawa tanaman obat yang kau minta", ucap Pura berjalan tergesa gesa masuk ke dalam kamar nya.
"Kenapa dia ayah ?", seru Greci khawatir melihat tingkah gadis polos di hadapan nya.
"Entahlah, dia sudah pulang dengan ketakutan seperti itu", timpal San.
__ADS_1
"Kakak hanya capek ibunda, lebih baik kita siapkan makanan untuk nya", seru Drupa menarik tangan sang ibunda ke arah dapur.