Lord Devil _Satan_

Lord Devil _Satan_
Bab 31. Gadis bercadar.


__ADS_3

Sudah berhari hari tabib Yagya dan Pratap tinggal di tempat Greci dan ayah nya.


Mereka membantu San dan Greci mengobati banyak orang, sehingga makin banyak orang yang telah berhasil sembuh dari wabah itu.


"Malas sekali !", ketus Pratap ogah ogah an menumbuk ramuan yang tak ada habis habis nya.


"Kenapa kamu tak bisa diam !, jika mereka dengar bagaimana ", keluh tabib Yagya memperingatkan.


"Mereka sangat menyusahkan !, jika dulu aku menghunuskan pedang membunuh orang orang yang menyusahkan ku, kali ini aku harus mengobati luka mereka, keterlaluan !, kapan semua ini berakhir", keluh Pratap lagi.


"Diam !", ucap lirih tabib Yagya saat melihat Greci berjalan mendekati mereka bersama seorang gadis yang memakai sebuah cadar.


"Bagaimana dengan stok ramuan kita tabib ?", tanya Greci mengecek stok obat mereka.


"Lumayan untuk beberapa hari ke depan, jika tidak ada orang terjangkit lagi yang datang ke sini", ucap tabib Yagya memberikan ramuan obat yang telah siap kepada Greci.


"Syukurlah kalau kita masih punya banyak persediaan, tentang ada tidak nya orang baru yang datang lagi, mungkin itu tidak mungkin, karna wabah ini sangat mengerikan dan ganas, mereka tidak akan bertahan sampai selama ini, mereka semua pasti sudah meninggal di luar sana", ucap Greci menyayangkan nasib orang orang yang tak beruntung di luar sana.


"Karna hal itulah, kita akan mengisolasi tempat ini untuk sementara", seru San keluar dari dalam kamar nya.


"Itu lebih baik ayah, jika semua sudah normal kembali, terserah semua orang ingin berkelana kembali ke tempat tinggal mereka atau ingin tetap tinggal di tempat ini", ucap Greci.


"Kita akan bangun pagar pembatas sore nanti, tabib Pratap bisa membantu kami jika mau ", seru nya membuat Pratap jengkel.


"Pratap akan melakukan itu, tak usah khawatir", sahur tabib Yagya membuat Pratap semakin geram.


Meskipun ia merasa begitu jengkel, tapi ia tak bisa berbuat apa apa saat itu, ia hanya bisa berkata iya dan menurut layak nya budak, terlebih jika tabib Yagya yang menyuruh nya.


Mungkin ini rasa nya, hidup tak mau mati pun enggan, keluh Pratap dalam hati.


"Oh ya, kenalkan, dia Pura, dia juga akan membantu tugas kita di sini", ucap Greci memperkenalkan gadis bercadar yang ternyata ialah Pura ke hadapan tabib Yagya dan Pratap yang tak lain ialah Ayah kandung nya beserta penyihir setia sang ayah.

__ADS_1


Pura hanya mengangguk menghormati tabib Yagya dan Pratap yang ada di hadapan nya.


Sementara tabib Yagya masih heran dengan gadis bercadar di hadapan nya.


"Berasal dari wilayah mana dia ?, aku belum pernah melihat sebuah wilayah yang penduduk nya memakai cadar seperti itu", tanya tabib Yagya penasaran.


Ia juga mengamati perawakan gadis bercadar di hadapan nya.


Perawakan nya bagus, kulit nya halus, gumam tabib Yagya segera mengalihkan pandangan nya ke arah Raja Vinix.


Benar kan firasat ku !, keluh tabib Yagya dalam hati saat melihat tatapan Pratap tak berkedip melihat gadis bercadar di hadapan nya.


"Entahlah !, dia datang ke sini bersama seorang tabib wanita yang mengaku sebagai ibu nya, sedangkan kerabat nya yang lain telah binasa karna wabah itu", ucap Greci menceritakan awal mula Pura bisa berada di tempat itu.


"Ibu ku seorang tabib, saat itu kami juga terjangkit seperti yang lain, selama pencarian kami mencari obat, hanya kami lah yang tersisa dari kelompok kami, ibu terus memberi ku ramuan yang berfungsi menghambat penyebaran wabah itu agar tak mengganas di dalam tubuh ku sampai nanti nya ibu berhasil menemukan penawar untuk kami, tapi sayang, saat kami menemukan tempat ini, ibu ku sudah tak bisa di selamat kan lagi", tutur Pura meneteskan air mata hingga cadar nya mulai basah.


"Sebaik nya kamu tenangkan dulu pikiran mu, jangan ingat ingat kejadian itu lagi", seru Greci memapah Pura masuk ke kamar nya.


"Itu sudah tradisi kelompok mereka tabib, sudahlah, aku akan memeriksa kondisi orang orang di luar", seru San berjalan keluar gua.


Pratap langsung menatap tabib Yagya dengan sumringah.


"Apa ?, Raja pasti terpesona kan dengan tubuh nya, bahkan meskipun wajah nya tertutup cadar, dasar !", ketus tabib Yagya kembali meneruskan pekerjaan nya.


"Itu berarti aku lelaki normal penyihir, seperti nya ia lebih cantik dan lebih muda dari Greci", ucap Pratap membayangkan cantik nya wajah Paya yang tertutup akan cadar.


"Lalu ?", seru tabib Yagya merasa muak dengan sifat buas Raja Vinix terhadap wanita.


"Aku akan mendapatkan nya cepat atau lambat", ucap Pratap amat bernafsu saat mengingat elok tubuh Paya.


Lalu ada satu pertanyaan terbesit di pikiran tabib Yagya sebagai seorang perempuan normal.

__ADS_1


"Tapi aku heran, bertahun tahun Raja tinggal bersama ku, tapi kenapa Raja tak tertarik dengan ku, aku juga seorang perempuan bukan ?", ucap penyihir hitam dengan polos nya tanpa sadar.


Seketika Raja Vinix langsung mengeryitkan kening nya dan memandang tubuh penyihir hitam.


"Benar juga, kamu juga perempuan, tubuh mu juga lumayan, tapi kenapa aku tak tertarik pada mu ya ?, apa kau menginginkan ku ?", seru Raja Vinix membuat penyihir hitam clingukan.


"Aku !, tidak akan !", seru nya merasa jijik dengan Raja nya itu.


"Aku pun sama !, bisa di sihir jadi katak aku jika menyentuh mu", keluh Pratap pergi meninggalkan Penyihir hitam yang masih mual dengan pertanyaan bodoh nya sendiri.


Sementara dari kejauhan, Rubby merasa semakin gelisah terhadap kegagalan wabah buatan nya.


Ia memang sudah berhasil membuat banyak orang terbunuh, tapi tak ada tanda tanda kalau sasaran utama nya yaitu sang lawan telah berhasil ia musnahkan.


"Satan !, kau dengar ibu !", seru Rubby mencoba membangunkan Satan dengan mata batin nya.


"Aku mendengarkan ibu", ucap Satan merespon seruan ibu nya dari jauh.


"Selesaikan Pertapaan mu sekarang juga, jangan biarkan lawan mu semakin kuat, cepat cari dia sebelum terlambat !", seru Rubby memperingatkan.


"Sesuai titah mu ibu", ucap Satan segera membuka mata nya dan kembali menyalakan api di tubuh nya.


"Bangkitlah pasukan api ku !, pulih kan tenaga dan kekuatan kalian !, sesuai perintah ibu ku kita akan kembali meneruskan perjalanan kita !", teriak Satan menggema di sekeliling gua.


Yang membuat tubuh pasukan api yang telah menjadi batu berangsur angsur retak dan menyala bagaikan api.


"Berikan titah mu Tuan ", seru seorang pasukan api yang telah kembali normal.


"Kita cari manusia dengan lambang bunga Krisan, baik perempuan maupun laki laki, muda atau tua aku tak peduli !, musnahkan dia dalam sekali serangan", titah Satan.


"Kami mengerti tuan", ucap nya segera bergegas mengumpulkan pasukan api yang masih terpencar di berbagai wilayah.

__ADS_1


Mereka akan bersatu dan bergerak bersama memburu sang lawan.


__ADS_2