
Semenjak kelancangan Raja Vinix yang ingin menggauli putri nya sendiri.
Pura seakan terus terngiang ngiang kejadian saat ia di lucuti dengan paksa.
Sejak saat itu ia lebih pendiam dan lebih menjaga jarak dari lelaki, termasuk terhadap tabib San.
Tapi di sisi lain, hati nya juga bertanya tanya sepanjang waktu.
Kenapa diri nya di panggil putri Kinan lebih dari sekali saat kejadian waktu itu ?.
Siapa putri Kinan ?.
Yang ia tahu, sejak ia lahir, nama nya ialah Pura, anak dari tabib wanita desa sebrang.
Pertanyaan itu terus berulang di kepala Pura.
"Hai kak !", seru Drupa membuat Pura terkejut.
"Drupa !", timpal Pura begitu terkejut dengan kedatangan Drupa yang tiba tiba.
"Kakak lihat !, kita sibuk berkemas dan kakak hanya melamun di sini ?", seru Drupa.
"Apa kita benar akan pergi dari tempat ini ?", tanya Pura.
"Kata kakek, Satan sudah memulai pergerakan nya lagi kak, sebelum ia sampai di sini kita harus pergi", seru Drupa membantu Pura berkemas.
Melihat tingkah Drupa yang aneh dan berbeda dari kebiasaan nya.
Pura pun mencoba memegang tangan Drupa dan menatap mata nya.
"Aku tidak salah lihat kan ?, seorang Drupa yang tak pernah mau meninggalkan gua nya sekarang bersemangat untuk pergi, ada apa ini ?, bukan nya kata mu Satan itu sudah takdir mu ?", tanya Pura membuat Drupa terdiam dan kehilangan senyum nya.
"Benarkan tebakan ku !, walaupun aku di sini belum lama, tapi aku mengerti apa yang kamu pikirkan", seru Pura.
"Kak, jangan bicara apapun tentang ini ke kakek dan ibunda ya ", seru Drupa memohon.
"Kalau begitu, kakak ikut rencana mu", seru Pura.
"Jangan kak !, bahaya !", seru Drupa.
"Lalu, apa tidak lebih bahaya untuk mu Drupa ?, aku akan tetap di sini bersama mu", seru Pura memaksa.
"Baiklah, tapi jangan lakukan apapun !", seru Drupa mengingatkan.
"Iya sayang, setidak nya aku akan lega melihat adik ku ini baik baik saja", ucap Pura.
"Nanti kita akan pergi bersama yang lain, saat mereka lengah, kita akan kembali ke tempat ini", ucap Drupa mengutarakan rencana nya.
"Kenapa harus di sini ?", tanya Pura.
"Entah !, aku suka tanah ini, aku akan menyambut Satan di sini", seru Drupa membuat Pura takjub dengan ketenangan Drupa dalam menghadapi takdir besar nya.
Lalu, tiba tiba terdengar sebuah kicauan burung beo yang terbang di depan gua.
Ia kemudian bertengger di depan mulut gua tanpa mau pergi dari sana.
"Akhir nya tamu kakak datang ", seru Drupa menarik tangan Pura ke arah pintu gua.
"Tamu ?", tanya Pura kebingungan.
__ADS_1
Saat Pura keluar dari gua.
Burung itu segera terbang mengelilingi Pura dan bertengger di bahu nya.
"Drupa !, apa yang di lakukan burung ini ?", seru Pura merasa risih dengan hinggapan burung itu.
"Coba lihat baik baik kak, dia sudah mencari mu sekian lama", seru Drupa.
Pura pun mengikuti saran Drupa.
Semakin lama ia memandang burung beo di bahu nya, seperti ia telah lama mengenal nya.
"Putri Kinan, putri kesayangan Ratu Vivian", kicau burung itu membuat Pura tercengang.
"Kau pun memanggil ku putri Kinan ?", seru Pura semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Coba ingat baik baik kak", seru Drupa mencoba memancing ingatan Pura akan masa lalu nya.
Pura yang mencoba mengingat apa pun itu, merasakan sakit yang amat hebat di kepala nya.
Bersamaan dengan itu, nampak seorang wanita dengan penampilan lusuh berjalan keluar dari semak semak.
Membuat semua orang yang melihat nya merasa jijik memandang nya.
"Siapa dia ?, kenapa dia bisa masuk ke tempat ini ?", seru salah satu pasien tabib San merasa jijik dengan penampilan dan koreng di tubuh nya.
"Wabah sudah menghilang, tapi tubuh nya masih menjijikkan seperti itu", ucap yang lain.
Tanpa mendengarkan ucapan orang orang di sekeliling nya.
Wanita itu berjalan tertatih tatih menuju ke arah Pura dan Drupa.
"Tak apa ibunda, percayalah pada ku", ucap Drupa mencoba membuang kekhawatiran ibunda nya.
Pura mencoba mendekap Drupa semakin erat saat wanita misterius itu mulai mendekati mereka.
"Bau nya busuk !", keluh orang orang menutup hidung nya dan menahan mual saat wanita itu berjalan melintasi mereka.
Sembari menenteng sebuah kain.
Wanita itu tersedu sedu berhenti tepat di hadapan Pura.
"Siapa kamu ?", tanya Pura.
"Bolehkah aku melihat wajah mu ?", pinta wanita misterius itu.
"Maaf, cadar ku adalah kehormatan ku", seru Pura.
"Sibaklah sedikit, anggaplah sebuah permintaan kecil dari wanita menyedihkan seperti ku", ucap wanita misterius itu memohon.
Pura yang tak tega, kemudian menyibak cadar nya dan cepat cepat menutup nya kembali sebelum semua orang menatap nya.
"Burung Beo kesayangan ku !, terima kasih !", seru wanita itu segera memeluk Pura sembari menangis dengan kencang nya.
"Drupa !", seru Pura mencoba melepaskan pelukan wanita misterius itu.
"Tak apa kak, kasihanilah dia", ucap Drupa membuat Pura menerima pelukan wanita misterius di depan nya.
"Anak ku !, apakah kamu melupakan ku ?", seru wanita itu membuat Pura semakin bingung.
__ADS_1
"Ibu ku sudah meninggal beberapa bulan yang lalu", seru Puja masih tak mengenal wanita misterius itu.
"Apa kamu juga tak mengenal ku ?", seru burung beo.
"Maaf, aku tak mengenal kalian", ucap Pura memegangi kepala nya yang mulai terasa sakit.
Wanita misterius itu menangis semakin kencang mendengar ucapan sang anak yang telah melupakan identitas nya sendiri.
Lalu sebuah ingatan Pura memperlihatkan bahwa burung beo itu pernah bersama nya di masa lalu.
"Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu memanggil ku dengan sebutan putri Kinan ?", tanya Pura.
"Karna itulah nama mu, nama dari anak pertama Raja Vinix dari kerajaan Laxzamor, dan aku lah ibu mu", ucap wanita misterius itu yang tak lain ialah Selir Vivian.
Pura yang merasa tak ada kebohongan di wajah wanita itu, segera memeluk nya dan menangis di dekapan nya.
"Ibu ?, apakah benar semua itu ?", seru Pura mencoba mengingat masa lalu nya.
Semua orang yang menatap mereka bukan nya malah iba tapi malah merasa jengkel kepada Pura dan wanita misterius itu.
Bagaimana tidak, kekacauan di dunia adalah karna kerajaan mereka, karna Raja Vinix yang tak lain adalah suami sekaligus ayah dari kedua wanita di hadapan mereka.
"Wanita jala*g !, enyah kalian dari sini !, gara gara kalian dunia porak poranda seperti ini !", teriak semua orang sembari melempari Pura dan wanita itu dengan batu.
"Jangan sakiti kak Pura !", seru Drupa memeluk Pura dengan erat.
"Berlindung sayang !", seru Greci mencoba menarik Drupa agar menghindar dari amukan semua orang.
"Maafkan kami !, jangan sakiti anak ku !", seru Selir Vivian dengan nada memohon.
Lontaran batu terus saja menghujani Pura dan selir Vivian.
Hingga tiba tiba, selir Vivian mendadak tersungkur dan terkapar di tanah.
"Ibu !", teriak Pura membuat semua orang berhenti melempari mereka dengan batu.
"Kakek, tolong dia !", seru Drupa membuat San segera mendekati Pura dan memeriksa kondisi Selir Vivian.
"Hiduplah dengan damai sayang, bantulah sang lawan mengalahkan Satan adik mu, perbaiki lah dunia", ucap selir Vivian terbata bata.
"Ibu !, bertahanlah !, tabib San akan menolong mu", seru Pura histeris.
Tapi nampak nya tabib San pun sudah angkat tangan dengan kondisi selir Vivian.
"Maaf Pura, luka ibu mu sudah membuat sebagian tubuh nya membusuk", ucap tabib San menenangkan Pura.
"Maafkan aku tidak bisa mengenali mu lebih cepat ibu !", seru Pura sembari menangis di sisi selir Vivian.
"Tak apa nak, ibu minta tolong semayamkan ibu bersama dengan adik mu ini", ucap selir Vivian terbata bata sembari memberikan sebuah bungkusan pada Pura.
Betapa terkejut nya mereka saat bungkusan itu di buka.
Adik kandung dari Pura yang di maksud ternyata telah meninggal dan hanya tersisa tulang belulang nya saja.
Membuat semua orang lari terbirit birit masuk ke dalam gua.
Bersamaan dengan itu, selir Vivian akhirnya memejamkan mata nya tuk yang terakhir kali nya.
Membuat Pura menangis kencang di saat itu juga.
__ADS_1
Bahkan Drupa meringkuk di pelukan ibunda nya dan ikut menangis karna menyaksikan itu semua.