
"Lihatlah diri ku!, apa kalian tak gemetar melihat wujud asli ku!," teriak Satan sembari tertawa merasakan kebebasan yang telah lama ia impikan.
Ia begitu tak sabar mendengar jeritan dan tangis dari semua orang yang ia binasakan.
Ia rindu membangun pasukan api nya dan berkelana ke seluruh dunia untuk memusnahkan ras manusia sesuai keinginan sang ibu.
"Raja, kita harus lari dari sini," bisik penyihir hitam perlahan melangkah menjauh dari tempat itu sebelum Satan menyadari nya.
Sementara Raja Vinix hanya mengikuti setiap arahan penyihir hitam dengan badan yang masih gemetar ketakutan menatap kebangkitan Satan.
Belum sempat mereka menjauh dari tempat itu.
Satan dengan mudah menebak niat mereka.
Ia segera menatap tajam ke arah Raja Vinix dan segera menghadang jalan mereka dengan kobaran api nya.
"Mau kemana ayah?," seru Satan tertawa begitu kencang nya.
Sembari merapal sebuah mantra, Satan terus menghadang perlawanan penyihir hitam yang berusaha mencari jalan untuk terbebas dari Satan.
"Cepatlah penyihir!," seru Raja Vinix semakin ketakutan.
Dalam benak nya, Satan sedang merapal mantra untuk menghabisi nya dalam sekali serangan.
"Aku sudah berusaha, tapi api ini tak bisa di padam kan," keluh penyihir hitam.
Bahkan semakin ia mencoba memadamkan api dengan ilmu nya, api itu semakin berkobar dan semakin memperkecil pergerakan mereka.
"Tenanglah ayah, aku tidak akan membunuh mu secepat itu, biarkan ibu ku turun tangan dengan nasib nyawa mu," seru Satan setelah selesai merapal mantra pertama nya.
Sementara Raja Inggit dan penasehat Yun berusaha menyelamatkan Pura saat perhatian Satan tertuju pada Raja Vinix.
"Kau tak apa?," tanya Raja Inggit memeriksa kondisi Pura.
__ADS_1
Begitu khawatir nya Raja hingga ia melepas jubah nya untuk menghangatkan Pura yang nampak kelelahan serta menggigil kedinginan.
"Tapi bagaimana dengan Raja?," tanya Pura menatap sang Raja yang tak biasa nya melepas jubah kerajaan nya, terlebih di luar kerajaan.
"Sudahlah, aku tak apa," sahut Raja Inggit menenangkan Pura.
Namun seperti nya, tatapan Pura begitu terpusat pada tanda lahir di lengan atas Raja yang belum ia tahu sebelum nya.
"Jaga tatapan mu Pura!, apa ini saat nya kamu mengagumi tubuh Raja, di situasi seperti ini?," keluh penasehat Yun sembari berjaga jaga menjadi tameng hidup untuk Raja Inggit dari ancaman Satan yang bisa sewaktu waktu menyerang mereka.
Walaupun ia tahu, ia bukan apa apa di banding kan Satan yang tinggi besar dan berkobar api di hadapan nya.
"M- maaf, tapi jika aku boleh tahu, itu apa?," tanya Pura mencoba mengusap tanda di lengan Raja Inggit, tanda yang tak asing di ingatan nya.
"Ini hanya sebuah tanda lahir," sahut Raja Inggit merasa heran dengan kegelisahan di mata Pura saat mengetahui tanda lahir di lengan nya.
"A- apa Raja tahu itu lambang bunga apa?," tanya Pura dengan mata yang mulai basah.
"Dan apa kalian paham arti bunga itu dalam legenda Satan?," tanya Pura.
Ucapan nya seketika membuat penasehat Yun serta Raja Inggit menatap nya dengan penuh rasa penasaran.
"Bunga kesukaan sang lawan, Drupa," sahut Raja Inggit membuat Pura lemas dan hampir kehilangan kekuatan kaki nya untuk berpijak.
"Ke - kenapa kau begitu syok?," tanya penasehat Yun yang kini malah memusatkan sebagian besar perhatian nya pada Pura.
"Itu bukan sekedar bunga kesukaan Drupa, legenda yang kalian kenal itu tidak sepenuh nya utuh," seru Pura mulai menangis.
"Apa maksud mu Pura?," tanya Raja Inggit mulai gelisah.
"Itu adalah lambang sang lawan yang juga di miliki oleh Drupa putri ku," seru Greci yang tiba tiba muncul setelah sekian lama menghilang tanpa kabar.
"Ibu," seru Pura bahagia bisa melihat Greci kembali.
__ADS_1
Sementara Raja Inggit dan penasehat Yun masih terdiam di tempat nya, mereka mencoba mengartikan ucapan dari wanita tua yang di panggil ibu oleh Pura.
"Kalian pasti sudah tahu arti dari semua itu, terlebih kau Pura," seru Greci menatap sayu ke arah Pura yang merasa hancur kala itu.
"Aku sang lawan setelah Drupa," ucap lirih Raja Inggit menatap tak percaya dengan takdir dari sang dewa untuk nya.
Harapan untuk hidup bersama Pura berangsur angsur hancur dalam diri nya.
"Maaf aku marah pada mu waktu itu Pura, dan saat aku menyadari kesalahan ku dan ingin memperbaiki semua nya, aku malah mendengar kenyataan pahit dalam hubungan kalian," ucap Greci memeluk Pura yang masih sesenggukan.
"Drupa memang telah gugur dalam pertempuran itu, tapi Raja Inggit masih memiliki kesempatan untuk selamat," seru penasehat Yun.
"Tapi Satan hanya akan musnah dengan darah sang lawan," ucap Greci dengan berat hati mengatakan kenyataan itu.
"Tidak!, apapun yang terjadi, Raja ku akan selamat," seru penasehat Yun menatap Raja Inggit yang terdiam tanpa bergeming sedikitpun.
"Semoga memang ada keajaiban untuk itu semua," ucap Greci memberi restu nya pada Raja Inggit.
Dalam benak nya kini, Pura sudah ia anggap sebagai pengganti Drupa di sisa hidup nya.
Bersamaan dengan itu, Pasukan api Satan mulai bermunculan dari dalam tanah.
"Bangkitlah pasukan ku!, bangkitlah!," teriak Satan sembari merapal mantra kedua nya.
"Gawat Raja!," seru penasehat Yun mencoba bersiap dengan pedang nya.
"Ini pedang untuk kalian, jagalah diri kalian di saat aku tidak bisa melindungi kalian nanti nya," ucap Raja Inggit tanpa mampu mengucapkan kata perpisahan dengan semestinya.
"Diam di tempat!," sentak Rubby yang kedatangan nya begitu mengejutkan Raja Inggit dan yang lain nya.
"Siapa lagi dia?," ucap penasehat Yun semakin bingung dengan keadaan genting yang mengepung mereka.
"Sebelum kalian mendekati putra ku, hadapi aku dulu," seru Rubby seketika membuat Penasehat Yun serta Raja Inggit segera mengenali nya.
__ADS_1