
Keberangkatan Satan menuju wilayah utara, membuat semua kerajaan yang berada di bagian utara menjadi panik ketakutan.
Semua orang berbondong bondong menyelamatkan diri nya beserta keluarga mereka.
Kemanapun tujuan Satan pergi ke arah utara, ada satu hal yang pasti, Satan dan pasukan nya tak akan melintas dengan damai dan bersahabat dimana pun tempat yang mereka lalui.
Bahkan karna ketakutan mereka terhadap Satan dan pasukan nya, membuat kedudukan Raja dan Ratu yang mereka sembah selama ini tak mereka pedulikan lagi.
Titah Raja, bahkan kewajiban mereka untuk mendahulukan keselamatan Raja dan Ratu di banding keselamatan diri sendiri sudah tak berlaku di keadaan yang genting itu.
Saat itu yang terpenting ialah bagaimana menyelamatkan nyawa mereka sendiri.
Benar saja...!!.
Pasukan Satan segera membakar setiap apa yang mereka temui.
Hutan, desa, perkebunan, bahkan kerajaan, akan di bumi hangus kan dengan kobaran api yang menyala di tubuh para pasukan Satan.
Sementara Satan.
Merubah wujud nya menjadi raksasa yang lebih menakutkan dari sebelum nya.
Dengan sekali langkah, satu desa pun langsung rata dengan tanah.
"Musnahkan...!!, musnahkan semua nya...!!, ini adalah balasan untuk mereka karna hidup di dunia dengan jiwa tanpa moral..!!, kita lihat...!!, bagaimana mereka bisa bertahan.....!!", teriak Satan terus melanjutkan perjalanan nya ke tempat kaum sang ibu berada.
Sementara di wilayah penyihir putih.
Semua anggota kaum mereka sudah menebak kemana arah tujuan Satan sebenar nya.
Sehingga mereka memutuskan untuk tak melawan nya dan memilih meninggalkan tempat tinggal mereka.
Mereka segera berbondong bondong menyelamatkan diri tanpa membawa harta mereka sepeser pun
Bagi mereka, bisa selamat dari amukan Satan itu sudah termasuk keajaiban.
Tiba tiba.
Langkah mereka terhenti.
Tubuh mereka terpental seperti ada sebuah penghalang yang menghalangi jalan mereka untuk keluar dari desa.
__ADS_1
Mereka lebih bingung lagi saat melihat Lidra tengah berdiri di hadapan mereka.
"Apa kau yang melakukan ini...??", tanya Hang tua memandang Lidra dengan penuh amarah.
"Serbuk ini adalah kelemahan kekuatan kita, aku mempelajari nya sejak lama, dan kini aku pergunakan di saat yang tepat", ucap Lidra dengan santai nya.
"Apa kau mau mati di sini...!!!, jika kau mau mati, jangan bawa bawa kami...!!, kami masih ingin hidup...!!", teriak Say sembari mendekap putri semata wayang nya.
"Jika aku menghancurkan hidup putri mu, aku jamin saat itu juga kau akan memenggal leher ku", ucap Lidra membuat Say bungkam.
Saat perdebatan mereka belum usai.
Terdengar gemuruh dari sisi hutan makin mendekat ke arah mereka.
Tak lama kemudian.
Wujud Satan yang telah berubah menjadi raksasa membuat para wanita dan anak anak histeris.
Sedangkan para penyihir lelaki hanya bisa mendekap keluarga nya dengan berusaha sekuat tenaga melindungi mereka.
Hari itu penglihatan mereka telah melihat wujud asli mengerikan Satan secara langsung.
Bukan melalu cerita dan desas desus seperti yang sebelum nya.
"Salam kaum penyihir putih...., apakah kalian menunggu ku...??", seru Satan menggema di telinga mereka dengan keras nya.
"Cepat...!!, tabur penawar serbuk itu...!!", teriak para penyihir putih bersikap semakin brutal terhadap Lidra.
"Tenanglah....!!, apakah kalian tak melihat cucu ku datang...!!", teriak Lidra amat marah membuat semua orang melangkah mundur menjauhi nya.
Segera Satan menghentikan laju prajurit nya beserta langkah kaki nya.
"Salam untuk mu kakek...!!", ucap Satan memberi hormat pada sang kakek.
"Kamu mengenal ku..??", tanya Lidra dengan mata berkaca kaca
"Aku memang monster, tapi di kelahiran ku ada dua orang yang harus aku hormati, yaitu kakek dan ibu ku", ucap Satan merubah diri nya menjadi ukurannya yang normal.
"Aku sangat rindu pada ibu mu", ucap Lidra sembari mengusap air mata nya.
"Ibu ku masih melakukan tugas nya, ia akan keluar saat tugas nya yang terakhir memanggil", ucap Satan.
__ADS_1
"Apakah aku boleh meminta sesuatu..??", seru Lidra bersujud.
"Permintaan mu adalah titah bagi ku", seru Satan membuat Hang tua mendekati Lidra dan mengguncang tubuh nya.
"Mintalah agar kaum mu selamat...!!", titah Hang tua.
Tapi lidra tak menghiraukan permintaan Hang tua.
Ia berjalan mendekati Satan dan mengulurkan tangan nya.
"Bebaskan aku...!!, lebih baik aku mati dari pada hidup terhina", seru Lidra tanpa gemetar sedikit pun.
Membuat semua kaum penyihir putih kembali gusar.
"Apakah kau yakin kakek...??", tanya Satan bertanya untuk yang terakhir kali.
Lidra hanya mengangguk dan segera menutup mata nya, menandakan bahwa ia siap menyapa ajal nya.
Seketika Satan mengobarkan api tubuh nya dan menyulut sang kakek dengan cepat.
Sekilas, ada wajah sayu terlintas di wajah Satan saat diri nya melenyapkan sang kakek.
Sementara jauh di antah branta.
Nampak Rubby sedang melakukan semedi nya.
Tanpa bergerak dari duduk bersila nya.
Mata nya yang terpejam meneteskan air mata .
Seakan ia tahu bahwa ayah nya hari itu telah pergi untuk selama nya.
Sedangkan di tempat penyihir putih.
Para penyihir bersujud memohon ampun pada Satan atas kesalahan yang pernah mereka perbuat pada Rubby.
Mereka mencoba membujuk Satan untuk melepaskan mereka.
"Terlambat....!!", seru Satan lalu mengisyaratkan kepada pasukan api nya agar membantai habis kaum penyihir putih di hadapan nya.
Segera teriakan dan jeritan kesakitan menggema di tempat itu.
__ADS_1
Senja hari itu menjadi saksi gugur nya beratus ratus penyihir putih yang ada di dunia.