
Suara hentak kaki berderap kencang terdengar menuju ke arah kamar mereka.
"Pura !, kau dengar itu !", seru Greci mulai gelisah.
"Tenanglah bu, ini kerajaan, para prajurit berlalu lalang itu wajar", sahut Pura terus menyisir rambut nya dan bersiap memakai cadar nya kembali.
"Tapi", seru Greci masih merasa risau.
"Bahkan di depan kamar mungkin ada 2 sampai 4 orang prajurit yang selalu berjaga untuk kita", seru Pura dengan tenang nya.
Greci kemudian menatap heran ke arah Pura.
"Kenapa ibu melihat ku begitu ?", tanya Pura seketika.
"Aku hanya heran, kenapa kamu sangat mengerti sekali akan kehidupan istana ?, bahkan kamu begitu tenang sekali seakan sudah terbiasa hidup di dalam istana", seru Greci membuat Pura sedikit bingung untuk menjawab nya.
Belum sempat Pura menjawab, pintu kamar mereka telah di buka dari luar.
"Akhirnya kalian membuka pintu itu, bisa biarkan kami pergi sekarang ?", seru Greci menatap wajah para prajurit yang terus menatap ke depan tanpa bergeming, bahkan seakan Greci yang sedang berbicara tak nampak di pandangan mereka.
"Sungguh tak sopan adab prajurit dari dulu !, mereka suka sekali mematung di segala tempat", keluh Greci kesal.
"Kalian di tunggu Penasehat kerajaan di aula kerajaan", seru seorang prajurit begitu melengking terdengar.
"Ayo bu, lebih cepat kita selesaikan ini lebih cepat kita pergi dari sini, itu keinginan ibu bukan ?", seru Pura menggenggam tangan Greci dan berjalan mengikuti arahan prajurit.
Saat mereka memasuki aula kerajaan.
Greci dan Pura di buat takjub dengan semua kemegahan bangunan itu.
"Jaman sudah berkembang dengan pesat", ucap Pura begitu terpesona dengan ornamen ornamen dinding istana yang begitu indah.
Sementara pandangan Greci tertuju pada sebuah ukiran di dinding yang mencoba menceritakan relief cerita tentang masa pertempuran besar antara Satan dan Drupa sang putri.
"Ini ?", seru Pura begitu terharu melihat pengorbanan Drupa yang masih di kenang hingga 1000 tahun setelah nya.
Greci mencoba mengusap ukiran seorang gadis kecil dengan tanda bunga krisan di tangan nya.
Membuat Greci mencoba mengusap air mata nya yang tak sengaja menetes.
"Bahkan dia nampak cantik di ukiran ini", ucap Greci kembali berjalan mengikuti alur cerita relief di hadapan nya.
Hingga tiba di penghujung relief, dan ia tak kuasa menatap nya.
"Sebaiknya kita temui Penasehat itu", ucap Pura mencoba menggenggam tangan Greci semakin erat nya.
__ADS_1
"Berhenti di sini !", seru seorang prajurit menghadang langkah kaki Pura dan Greci.
Di depan mereka nampak Singgasana Raja yang agung berdiri kokoh di atas ratusan anak tangga, lengkap dengan ukiran bunga Krisan di sandaran nya.
"Bunga itu !", ucap Greci tak menyangka, bagian dari kisah 1000 tahun yang lalu masih sangat melekat di jaman baru ini.
"Itu bunga Krisan, apa kau tak pernah belajar sejarah ?", seru sebuah suara dari arah belakang mereka.
"Aku lebih tau sejarah dari pada siapapun !", sahut Greci menatap lelaki yang kini menatap tajam ke arah nya.
"Beri hormat pada penasehat agung kerajaan !", seru seorang dayang kepada Greci dan Pura.
Dengan sedikit paksaan, tubuh mereka di dorong oleh beberapa prajurit hingga tak sengaja tersungkur dan bersujud di hadapan sang penasehat.
Sang penasehat terus mengelilingi dan mengamati Greci dan Pura.
Ia begitu heran dengan kedua wanita yang kini tengah berada di hadapan nya.
"Sebenar nya kalian wanita dari mana ?", seru Penasehat Yun kepada Greci dan Pura.
"Kami hanya pengembara, yang berpindah tempat setiap hari nya", sahut Pura berbohong untuk melindungi diri mereka.
"Lalu bagaimana kalian bisa memiliki logam emas kerajaan Laxzamor ?", tanya Penasehat Yun seakan memiliki niat lain dalam interogasi yang sedang ia lakukan saat itu.
"Kami tak sengaja mendapatkan nya dari seseorang dalam perjalanan kami", seru Pura membuat Penasehat Yun merasa tak puas dengan jawaban itu.
"Katakan saja kalau kalian tahu di mana letak reruntuhan kerajaan Laxzamor itu !", bisik Penasehat Yun.
"Kami tidak tahu !", sahut Pura membuat penasehat Yun geram.
Namun sebelum ia sempat memberi pelajaran pada Pura.
Sang Raja tiba tiba datang dan berjalan ke arah singgasana nya.
"Hormat untuk Raja kerajaan Safar !, Raja Inggit !", seru seorang prajurit membuat semua orang di aula itu menunduk dan bersujud menghormati Raja Inggit.
Dengan tubuh yang membungkuk, Penasehat Yun tak melepaskan pandangan nya dari Pura dan Greci.
"Kita harus berhati hati dengan nya bu", ucap lirih Pura memperingatkan Greci.
Saat tatapan Raja Inggit terarah pada Pura.
Ia begitu heran dan penasaran dengan sosok Pura.
"Kalian kah kedua tamu ku ?", seru Raja Inggit.
__ADS_1
"Salam Yang Mulia", seru Greci dan Pura secara bersamaan.
"Salam", sahut Raja Inggit masih berfokus dengan kain yang menutupi sebagian wajah Pura.
Pura yang merasa di pandang cukup lama oleh sang Raja, segera menundukkan pandangan nya.
"Bolehkah aku tau ?, kenapa kain itu menutupi muka mu ?, apa kau sakit ?", tanya sang Raja amat penasaran dengan kain yang menutupi wajah Pura.
"Tidak Yang Mulia, ini adalah cadar ku, dan akan ku pakai setiap saat", ucap Pura masih tetap dengan kepala menunduk.
"Cadar ?, kain itu bernama cadar ?", seru Raja Inggit baru pertama kali melihat sebuah cadar.
"Benar Yang Mulia", timpal Pura.
"Bolehkan cadar itu di buka ?, rasa nya tak enak jika mengobrol tanpa melihat jelas muka lawan bicara kita", titah Raja membuat Pura gugup.
"Apa kau tuli !", sentak penasehat Yun.
"Ah sudahlah !, tak apa jika kau keberatan", seru Raja Inggit.
"Maaf Raja, aku hanya membuka cadar ini di depan sesama jenis ku dan di depan suami ku kelak", seru Pura membuat Raja Inggit tertarik.
"Apa itu kah sebenar nya fungsi cadar ?", tanya Raja Inggit semakin penasaran, dan segera bangkit dari singgasana nya.
"Bagi ku iya Yang Mulia, cadar ini melindungi kehormatan ku dari pandangan buruk dan niat jahat seorang lelaki pada ku, dan menjaga paras ku hanya untuk suami ku", sahut Pura membuat Raja Inggit langsung jatuh hati pada sosok wanita di hadapan nya.
"Siapa nama mu ?", tanya Raja Inggit.
"Pura Yang Mulia", sahut Pura masih dengan kepala tertunduk, membuat Raja Inggit begitu terpesona dengan sikap dan pendirian Pura.
Bahkan pandangan nya saja ia jaga dengan baik, batin Raja Inggit.
Melihat sang Raja yang melenceng dari pokok pembahasan, penasehat Yun berusaha menasehati nya.
"Raja ku, mereka telah membawa logam emas dari masa kerajaan Laxzamor, tapi mereka terus bungkam membagi lokasi kerajaan itu pada kita", seru penasehat Yun.
Namun seperti nya ucapan penasehat Yun tak di anggap masalah serius oleh Raja Inggit.
"Aku tak mempermasalah kan logam emas itu, mungkin mereka telah berucap yang sebenar nya", sahut Raja Inggit membuat Pura tertegun dan penasehat Yun menjadi geram.
"Baiklah kalau Yang Mulia tak mempermasalah kan itu, bisa kami pergi dari sini ?", seru Greci segera menarik tangan Pura dan berniat segera pergi dari istana itu.
"Aku jatuh cinta pada cadar mu itu Pura !", seru Raja Inggit membuat semua yang berada di sana begitu terkejut.
Terlebih Greci dan Pura sendiri.
__ADS_1
"Apa kau marah dengan ucapan ku ?", tanya Raja Inggit mencoba menekan ke atas dagu Pura hingga kini tatapan mereka saling bertemu.
Pura hanya tersenyum dan malu dengan perkataan Raja pada nya sembari kembali menundukkan kepala nya.