
"Mengertilah akan sesuatu Pura, dunia ini memang butuh di beri pelajaran, dan aku yang akan melakukan itu?," ucap Satan sembari tertatih tatih mencoba bangkit dan memulihkan keadaan nya.
"Apa semua ini belum cukup Satan?, semua kehancuran dan penderitaan manusia selama ini?, ku rasa masalah antara dunia dan dirimu sudah tuntas sekarang, jadi berhentilah!," ucap Pura perlahan menurunkan pedang nya.
Bagus, dia mulai terpancing dengan obrolan ini, batin Satan terus melakukan pendekatan dengan Pura.
Sementara Raja Inggit masih tercengang dengan penasehat Yun yang nampak dengan sengaja mengikat nya di pohon.
"Apakah ini semua ulah mu?, kau yang sengaja mengikat ku di sini?," tanya Raja Inggit menatap tak percaya kepada sang penasehat setia nya.
"Maafkan aku Raja, ini demi kebaikan semua," ucap penasehat Yun dengan wajah yang tertunduk.
Ia begitu malu karna harus melakukan cara yang tidak benar itu demi menyelamatkan sang Raja dan kerajaan mereka.
"Siapa yang berani memerintah mu!, apa guna nya semua ini!, ini hanya akan membuat Satan tak memiliki lawan dan dunia juga akan hancur!," sentak Raja Inggit murka.
Bahkan ia sudah berfikiran tidak tidak akan nasib Pura saat itu.
"Pura, Raja ku," sahut penasehat Yun membuat Raja Inggit terbelalak tak percaya.
"Apa?, tidak!," sentak Raja Inggit semakin memberontak.
Namun tiba tiba, ia merintih sakit tepat di lengan nya yang tengah tergesek pohon di belakang nya.
"Tetaplah tenang Raja, luka Raja bisa kembali terbuka," ucap penasehat Yun berusaha mengambil kain baru untuk menutup luka di lengan Raja Inggit yang bahkan Raja sendiri tak tahu jika ia terluka.
"Jangan, jangan!," ucap Raja Inggit semakin syok dan pucat pasi.
"Raja itu pemuda cerdas, pasti Raja sudah mengerti arti luka ini," ucap penasehat Yun seketika membuat Raja Inggit merasa di cambuk seratus cambuk di saat yang bersamaan.
"Menyingkir Yun!, apa yang telah kau lakukan!," teriak Raja Inggit sembari menepis tangan penasehat Yun hingga ia terjungkal ke tanah.
"Raja," ucap penasehat Yun begitu tertegun menatap reaksi yang ditunjukkan Raja Inggit saat itu.
"Aku lah sang lawan yang di tunjuk dewa!, kenapa kalian mencoba merubah itu!," sentak Raja Inggit begitu kecewa dengan keputusan yang di ambil penasehat Yun dan Pura kepada nya.
"M- maaf Raja, tolong mengertilah, hanya Raja yang bisa memimpin kerajaan ini dan membawa kedamaian di atas dunia ini," seru penasehat Yun sembari bersujud memohon ampun kepada Raja nya itu.
Sekali lagi, Raja Inggit begitu tercengang mendengar penuturan sang penasehat setia nya.
Demi sebuah kerajaan, ia melupakan garis takdir dan membuat keselamatan dunia semakin terancam.
__ADS_1
"Sekarang katakan pada ku, siapa yang kalian pilih untuk menggantikan ku?," tanya Raja Inggit membuat penasehat Yun hanya diam membisu.
"Cepat katakan!," sentak Raja Inggit begitu marah.
"Pura," sahut penasehat Yun membuat jantung Raja Inggit seakan berhenti berdetak.
Ia tak menyangka akan terbesit ide bodoh macam itu di pikiran calon istri nya.
"Bodoh!, apa dia tak memikirkan keselamatan nya sendiri!," sentak Raja Inggit kembali memberontak namun dengan mata yang mulai basah.
Sementara Satan masih mencoba mengalihkan perhatian Pura dan membuat nya lemah.
"Aku bisa mendengar kekasih mu meronta ronta saat ini Pura, apa kau tak mau melihat kondisi nya?," ucap Satan membuat Pura sedikit melemah.
"Dia baik baik saja, dan akan tetap baik baik saja!," sentak Pura mencoba membangkitkan
Keberanian nya kembali.
Membuat Satan mendengus pelan karna hasutan nya berulang ulang kali gagal.
Merasa dirinya kembali berenergi.
Tubuh Pura yang kecil begitu membuat nya kewalahan untuk menghindari serangan serangan Satan saat itu.
Dengan memanfaatkan pepohonan dan alam, kali ini ia berhasil menghindar dari banyak serangan.
"Menyerah lah Pura!, aku akan memaafkan mu jika kau enyah dari sini dan membiarkan ku mengejar Raja biadab dan penyihir nya itu!," seru Satan terus mengobarkan api ke setiap arah Pura berlari.
Arrrrgh!!
Lenguhan dan teriak Pura seketika terdengar ke penjuru hutan hingga ke telinga Raja Inggit.
"Pura!," seru Raja Inggit semakin gelisah di tempat nya berada.
"Tolong lepaskan aku Yun, aku harus menolong nya," ucap Raja Inggit dengan nada merendah.
Namun penasehat Yun bahkan tak bergeming dari sujud nya sekalipun.
"Rasakan itu!," seru Satan tertawa senang saat serangan nya yang terakhir berhasil membuat Pura terluka hingga darah nya berceceran di tanah.
Namun Pura terus berlari menghindar dari Satan walaupun lengan nya terluka parah saat itu.
__ADS_1
Aku tak akan berhenti sampai aku tahu cara membunuh mu, batin Pura terus berlari menjauh dari Satan.
Namun tiba tiba, ada bayangan Drupa yang tersenyum dari kejauhan.
"Drupa?, kau kah itu?," seru Pura terus berusaha mendekat.
Namun bayangan itu terus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Melihat itu sebagai petunjuk, Pura terus mengikuti bayangan itu hingga menghilang di tengah hutan yang tak asing di ingatan nya.
"Kenapa kau bisa sampai ke mari!," sentak Raja Vinix yang juga memilih tempat itu untuk bersembunyi.
"Lihatlah itu," ucap Pura menunjuk pohon yang ada di belakang tubuh Raja Vinix.
Raja Vinix begitu terbelalak tak percaya karna tempat dirinya berada sekarang ternyata ialah tempat dimana pertarungan Satan dan Drupa di masa lalu.
Perlahan Pura memunguti beberapa bunga yang gugur ke tanah.
Bunga itu seketika mengeluarkan cahaya nya dan melebur masuk ke tangan Pura.
Seketika ia merasakan energi besar masuk ke tubuh nya.
Perlahan tapi pasti, Pura merasa jiwa raga nya kini telah di pilih menjadi senjata maut bagi Satan.
"Mau lari kemana kau sekarang," seru Satan saat menemukan Pura di sana.
Namun melihat Pura yang malah tersenyum pada nya.
Ia merasa ada yang tak beres dari nya.
"Lihatlah di mana tepat nya kau berdiri Satan!," seru Pura membuat Satan langsung memandang ke sekeliling.
Ia begitu syok mendapati bahwa dirinya kini tengah berdiri tepat di tempat ia terbunuh di masa lalu.
"A- apa apaan ini!," ucap Satan mencoba pergi namun kaki nya seakan tertarik sesuatu yang keras dari dalam tanah.
"Maut mu sudah menanti Satan, dunia akan menyaksikan kebebasan nya tuk yang kedua kali nya," ucap Pura membuat Satan begitu ketakutan.
"Jangan Pura, apa kau tak sayang dengan nyawa mu sendiri?, nyawa mu akan lenyap bersama ku jika kau nekat melakukan itu," seru Satan mencoba menghasut Pura sembari mencari cara melepaskan kaki nya dari sesuatu yang mengikat nya.
"Semua sudah tak penting lagi bagi ku saat ini, jika pun aku memilih untuk tetap hidup, aku akan melihat lebih banyak orang yang ku sayang mati karna mu," seru Pura menatap tajam ke arah Satan, seakan ia sudah siap menyambut maut nya sendiri.
__ADS_1