
"Kalian!, telusuri jejak apapun yang bisa kalian temukan dari saudagar licik itu!," titah Raja Inggit.
"Laksanakan Raja!," seru para prajurit segera bergegas meninggalkan istana.
"Dan kalian!, cari tahu lebih detail tentang kedua mayat yang terbakar itu," titah Raja Inggit lagi.
"Sesuai perintah Raja!," seru para prajurit segera melaksanakan perintah dari Raja mereka.
"Kalian selesaikan semua nya, oke," perintah penasehat Yun pada beberapa dayang istana.
Sambil mengangguk, para dayang bergegas menjalankan perintah dari penasehat tertinggi kerajaan.
Penasehat Yun segera menghela nafas panjang sembari menatap ke arah Raja nya.
Hem, anak itu!, dia begitu fokus dengan kerajaan, tapi hati nya pasti begitu gelisah akan satu hal. Aku memang menginginkan kedudukan nya, tapi jika ada Raja yang kuat sesuai harapan ku, keinginan ku itu masih bisa ku toleransi, batin penasehat Yun sembari berjalan mendekati sang Raja.
"Penasehat!, kita harus segera memblokir jalan keluar kerajaan ini, jangan sampai para penjahat itu kabur," seru Raja Inggit bergegas mengambil pedang dan jubah kerajaan nya.
"Tunggu Raja!," seru penasehat Yun menghadang jalan Raja Inggit.
"Kita sudah kehabisan waktu!," keluh Raja Inggit.
"Jika Raja bersikap seperti ini, sebaik nya istirahat lah sejenak, biar hamba yang membereskan semua nya," ucap penasehat Yun membuat Raja Inggit memalingkan muka nya.
"Apa maksud mu?, seorang Raja tidak pernah istirahat!, seorang Raja juga harus selalu ada untuk rakyat nya," seru Raja Inggit berusaha tegar.
"Tapi Raja juga manusia. Aku memang tak suka kepada Pura, tapi aku tak bisa membohongi diri ku setiap hari bahwa Raja Inggit benar benar mencintai nya," ucap penasehat Yun hampir membuat air mata Raja Inggit menetes.
__ADS_1
"Bicara apa kau ini!, cepat lah!, tugas kita menanti," seru Raja Inggit berusaha menyembunyikan kegundahan hati nya.
"Jika Raja bersikeras, itu akan menjadi bumerang bagi kesehatan Raja sendiri," seru penasehat Yun.
"Kau sendiri yang bilang, kita harus selalu mementingkan tugas di atas masalah pribadi," keluh Raja Inggit.
"Aku akui, terkadang prinsip kerja ku itu salah Raja, maafkan aku," seru penasehat Yun terduduk lemas di tangga singgasana.
"Sudahlah Yun, biarlah takdir yang menentukan, jika dia memang ditakdirkan menjadi permaisuri kerajaan ini dewa akan membantu nya kembali ke sini," ucap Raja Inggit membuat penasehat Yun tertunduk malu.
Untuk pertama kali nya, aku malu dengan diri ku sendiri, batin penasehat Yun kembali bangkit.
"Kamu sudah siap?," tanya Raja Inggit.
"Mari Raja," sahut penasehat Yun mantap.
"Baik lah!, kita akan segera tangkap pelaku nya. Dan setelah itu, aku akan bantu Raja mendapatkan Pura kembali," seru penasehat Yun.
---------
Sementara di kerajaan Raja Vinix, desas desus tentang putri Kinan sudah tersebar di segala penjuru.
Para bangsawan dari kerajaan sebrang silih berganti datang untuk melihat putri Raja Vinix yang tersohor kecantikan nya di masa lalu.
"Apa ini!, kau bergurau!," sentak seorang pangeran kerajaan sebrang saat melihat Pura secara langsung.
"Maksud mu?," tanya Raja Vinix menatap tajam ke arah sang pangeran.
__ADS_1
"Kau tidak memberitahukan bahwa ia bercadar sejak awal!," keluh sang pangeran.
"Entah bercadar ataupun tidak, ia tetap putri ku yang kecantikan nya begitu menyihir banyak orang," sahut Raja Vinix.
"Tapi itu kecantikan di masa beratus ratus tahun yang lalu!, bagaimana jika setelah terbangun di masa sekarang wajah nya menjadi buruk rupa dan terpaksa di tutup oleh sebuah cadar!," cerca sang pangeran membuat Pura begitu marah.
"Cukup!, jika kau tak bisa menghormati ku tak apa, aku juga tak butuh suami yang hanya memandang wanita dari wajah nya saja!," sentak Pura bergegas pergi dari ruang pertemuan.
"Ini kah yang ku dapat dari perjalanan jauh ku!, aku akan sebarkan berita ini ke semua orang!," sentak sang pangeran naik pitan.
"Tunggu pangeran!," seru penyihir hitam berjalan mendekati sang pangeran.
"Apa lagi!, aku sudah tak mau berurusan dengan kalian!," sentak sang pangeran tiada henti.
"Hati hati di jalan. Aku cuma mau bicara itu saja," ucap penyihir hitam sembari meniup wajah sang pangeran.
"Baik," sahut sang pangeran dengan sikap kebingungan keluar dari istana Raja Vinix.
"Sudah kau atasi?," tanya Raja Vinix.
"Beres Raja," sahut penyihir hitam.
"Sudah puluhan lelaki datang meminang, tapi semua nya kabur karna cadar dari Kinan, sial!, jika mereka tahu wajah asli nya, mereka akan berperang memperebutkan putri ku itu," keluh Raja Vinix kesal.
Sementara Pura yang mendengar penuturan sang ayah malah seakan di sayat seribu pisau.
Aku seperti tidak ada harga nya di sini, batin Pura sembari mengusap air mata nya.
__ADS_1