Lord Devil _Satan_

Lord Devil _Satan_
Bab 38. Pertemuan pertama.


__ADS_3

"Di mana kau !, muncul lah !", teriak Satan menggema di seluruh penjuru hutan.


Yang di sertai dengan angin yang semakin kencang dan badai yang seakan tercipta bersamaan dengan kedatangan Satan di tempat itu.


Dari jarak yang amat jauh, bahkan gerombolan San bisa merasakan imbas kedatangan Satan.


"Bagaimana ini tabib ?", seru salah seorang kawanan sembari berpegangan erat di sebuah pohon demi menghindari badai yang kian menjadi jadi.


"Cepat !, kalian berlindung di sana !", seru tabib San menggiring semua orang untuk berlindung.


"Aku harus menyusul putri ku ayah !", seru Greci berlari dengan cepat menyusul Drupa.


"Hentikan Greci !, itu terlalu berbahaya !", teriak tabib San mencoba menghentikan sang anak.


Tapi usaha nya nyata nya sia sia.


Greci terus berlari tanpa menoleh ke belakang, tak peduli seberapa jauh jarak tempuh yang akan ia lalui.


"Aku titip mereka ya, cari lah sebuah gua sekitar sini untuk berlindung dari badai ini, aku harus menyusul anak dan cucu ku", seru tabib San segera berlari meninggalkan kawanan nya.


"Habislah kita", rintih seorang wanita sembari terus menangis tiada henti.


Sementara di tempat Drupa berada.


Pura tanpa berkedip menyaksikan wujud Satan untuk pertama kali nya.


"Bagaimana ada makhluk yang berwujud seperti itu ?", seru Pura memandang kobaran api di tubuh Satan yang sudah terlihat dari jarak yang masih jauh dari tempat mereka berdiri.


"Jangan lupa kak, dia itu masih adik mu, putra dari Raja Vinix dan permaisuri Rubby", ucap Drupa masih dengan sikap tenang nya.


"Kau benar, dia juga masih adik ku", ucap Pura menerima kenyataan pahit itu.


"Masuklah ke dalam, aku harus menyelesaikan urusan ku dengan nya", ucap Drupa beranjak dari tempat duduk nya.


"Tidak !, aku mau tetap bersamamu", seru Pura bersikeras.


"Maaf kak", ucap Drupa mengibaskan tangan nya.


Seketika membuat Pura tertarik ke dalam gua bersamaan dengan mulut gua yang segera tertutup dengan rapat nya.


"Drupa !, kau tak bisa melakukan ini pada ku !", teriak Pura dengan kencang.


"Kau akan tetap bisa melihat ku kak, tenang saja", ucap Drupa menyentuh batu yang menutup pintu gua, yang membuat pandangan Pura seakan tak terhalang oleh apapun di hadapan nya.


Drupa juga memetik sebuah bunga krisan dan melemparkan nya hingga masuk dan tembus ke dalam gua.


"Bunga itu akan melindungi mu kak", ucap Drupa bersiap menanti kedatangan Satan.

__ADS_1


_____


Satan terus bergerak mendekati tempat Drupa berada.


Sedangkan pasukan api nya terus saja meluluh lantah kan semua yang ada di hadapan nya.


Tapi saat pasukan api berjarak tinggal beberapa meter dari tempat Drupa berdiri, mereka tiba tiba kehilangan api nya dan kembali mematung.


Membuat Satan tersentak tak percaya.


"Ada apa ini ?, pasukan ku yang sudah jauh lebih kuat di bandingkan dahulu kenapa bisa tiba tiba tak berdaya dan kembali menjadi patung ?", sentak Satan mencari cari seseorang yang berani menantang nya.


Kemarahan nya memuncak saat tak ada seseorang pun yang muncul, bahkan ia merasa di permainkan saat itu.


Ia langsung menyemburkan api ke segala penjuru membuat seberkas api nya mengenai tubuh Greci yang tengah berusaha berlari kembali ke gua.


"Ibunda !", teriak Drupa membuat pandangan Satan langsung menemukan sosok anak kecil yang jauh di depan nya.


Satan bergegas mendekati anak itu yang tak lain ialah Drupa.


"Anak kecil !, sebaiknya kau segera menyingkir dari pandangan ku !, enyahlah !", sentak Satan semakin membuat Drupa marah.


"Kau belum mengenal siapa Drupa Satan, kau akan terkejut jika melihat apa yang bisa ia lakukan", ucap Pura mengamati situasi genting itu dari dalam gua.


"Baru saja kita pertama bertemu, tapi kau sudah membuat kedua kesalahan", seru Drupa dengan wajah merah padam.


Membuat Satan malah tertawa dengan kencang nya.


"Drupa anak ku !", teriak Greci merasa gelisah dengan suara Satan yang menggema di seluruh penjuru hutan.


"Apa kau tak takut melihat ku ?, menangislah jika kau ingin menangis", seru Satan semakin tertawa kencang.


"Kau memang harus di ajari sopan santun", seru Drupa seketika membuat Satan berhenti tertawa dan kembali menyulut api di badan nya.


"Diam !", sentak Satan seketika menyemburkan api ke arah Drupa.


"Drupa !", teriak Pura merasa syok melihat kobaran api itu menerpa tubuh Drupa cukup lama, hingga tak terlihat kondisi Drupa saat itu.


Saat Satan menghentikan laju api nya, begitu terkejut nya ia saat melihat sosok anak kecil di hadapan nya masih hidup dan tak tersentuh api nya sedikitpun.


"Syukurlah", ucap Pura lemas sembari bersimpuh di tanah dan memanjatkan doa kepada dewa untuk keselamatan Drupa.


"Mustahil !", teriak Satan murka.


"Ini baru permulaan Satan", seru Drupa tersenyum.


"Siapa sebenarnya kau !", teriak Satan di buat penasaran.

__ADS_1


"Namaku Drupa, putri dari ibunda ku Greci", ucap Drupa sembari mulai melepaskan kain yang menutupi lengan nya.


Membuat tempat Rubby bersemedi mulai berguncang.


"Hati hati anak ku !", seru Rubby memperingatkan dari jauh.


Saat penutup itu terlepas dari tangan Drupa.


Satan dan Rubby amat terkejut dengan apa yang mereka lihat.


"Lambang bunga Krisan ?, itu berarti !", seru Rubby terbelalak tak percaya.


"Sang lawan", ketus Satan semakin murka.


Tapi kali ini, ia tak marah dengan dunia beserta isi nya.


Ia marah karna dewa mengirimkan nya sebuah lawan yang menurut nya seakan hanya meremehkan kekuatan nya.


"Apa ini lelucon dewa !, aku di ciptakan untuk memberi pelajaran bagi manusia manusia itu !, tapi kau juga menghina ku dengan mengirimkan sebuah lawan seorang gadis kecil ?, memalukan !", teriak Satan tiada henti.


"Mengeluh lah setelah kau melawan ku", seru Drupa menantang.


"Sekali ku injak saja, kau sudah tamat bocah !", sentak Satan merasa di remehkan.


Ucapan Satan membuat Drupa seketika merubah ukuran tubuh nya setara dengan tubuh raksasa Satan.


"Kau bisa merubah ukuran mu, aku pun sama, jadi apa beda nya kita saat ini ?", ucap Drupa meledek Satan.


"Kurang aj*r !", teriak Satan terus melakukan serangan brutal nya kepada Drupa.


Namun dengan mudah, serangan itu bisa diatasi oleh Drupa.


"Luar biasa !, sebuah anugrah bagi ku bisa menyaksikan ini semua", ucap Pura terus mengamati setiap detik pertarungan antara Drupa dan Satan.


Sementara tak terasa hari sudah berganti malam.


Tapi pertempuran itu terus berlanjut dan semakin sengit saja.


Jauh di tempat lain, Greci masih berusaha menyusul sang anak.


"Drupa !", seru Greci mulai kehabisan tenaga nya.


"Kita istirahat dulu nak", ucap tabib San memapah Greci untuk berhenti sejenak.


"Drupa yah, tolong anak ku !", sentak Greci sembari menangis tiada henti.


"Dengarkan ayah !, perjalanan kita masih jauh, kau harus minum dan isi perut mu agar kita bisa cepat sampai ke tempat Drupa, kau mau pingsan di jalan Greci !", sentak tabib San membuat Greci berhenti menangis dan menatap langit yang penuh akan suara gemuruh pertarungan Drupa dan Satan.

__ADS_1


Greci segera meraih kendi air dan segera minum dengan amat banyak nya, serta mengambil beberapa makanan dan melahap nya dengan cepat tanpa berucap sepatah katapun.


Aku tak boleh mati di sini !, aku harus menolong anak ku !, gumam Greci dalam hati sembari melahap habis makanan di tangan nya.


__ADS_2