Lord Devil _Satan_

Lord Devil _Satan_
Kegemparan kerajaan.


__ADS_3

Esok hari harus nya menjadi hari bahagia bagi Raja Inggit dan juga Pura.


Namun kabar kurang sedap begitu mengguncang kerajaan Safar.


Hingga membuat kegemparan yang cukup besar.


Setelah kekacauan yang di alami desa asal nyai Sari.


Kini kekacauan yang sama mulai terjadi di desa desa sekitar istana kerajaan Safar.


Bahkan kabar penemuan mayat yang sudah tinggal tulang belulang pun menambah ketakutan warga.


"Bagaimana ini Raja?," seru penasehat Yun nampak gelisah.


"Entahlah penasehat, kabar ini sungguh membuat ku bingung. Beberapa pekan lalu ku kira kabar tentang kekacauan desa Sajo sudah selesai cukup di sana, namun kenapa malah mengakar sampai ke banyak desa?, menurut mu apa yang menyebabkan kekacauan ini timbul?," seru Raja Inggit masih memahami apa yang sedang terjadi.


"Menurut para pemimpin desa, rakyat awal nya tak pernah mengeluh kekurangan apapun Raja, terlebih dengan ada nya keringanan keringanan yang sudah kita berikan kepada mereka, tentang pajak dan upah buruh, kita juga sudah mengurangi laba kerajaan untuk bahan bahan pokok yang di salurkan ke pedagang desa, namun akhir akhir ini, minat rakyat pada kebutuhan sandang melonjak tinggi, mungkin itu penyebab utama nya Raja," sahut penasehat Yun.


"Minat pakaian dan perkakas rumah maksud mu?," seru Raja Inggit tak percaya.


"Benar Raja ku, bahkan hamba melihat nya sendiri, rumah mereka amat sesak dengan perabotan dan lain lain, namun sangat susah hanya untuk makan dua kali sehari," seru penasehat Yun melaporkan pengamatan yang telah ia lakukan.


"Rakyat ku bukan orang seperti itu!, mereka suka berkreasi dengan tangan mereka, bukan membeli barang tanpa memilah seperti itu," sahut Raja Inggit tak percaya.


"Itulah yang hamba juga bingung Raja, ada yang membuat hamba lebih bingung Raja ku," seru penasehat Yun.


"Katakan?," seru Raja Inggit tak sabar.


"Saat melihat perabotan yang menumpuk di rumah mereka, mereka menangis menyesal saat membeli nya, dan rela menjual nya kembali dengan harga murah ke seorang tengkulak saudagar kaya, namun saat mereka mendapatkan uang, mereka langsung tergiur membeli barang barang yang tengkulak itu tawarkan pada nya, dan kejadian itu terus berulang hingga kehidupan mereka menjadi kacau dan berantakan," ucap penasehat Yun.


"Baiklah, berarti kita harus mencari sumber nya dulu, barang sandang?, tengkulak?, dua hal besar yang harus kita selidiki," ucap Raja Inggit mengatur penyelesaian atas masalah perekonomian rakyat nya.

__ADS_1


"Dan untuk masalah kedua Raja," seru penasehat Yun membuat Raja Inggit kembali tegang.


"Aku tahu, misteri akan mayat tulang belulang tadi malam bukan?," sahut Raja Inggit memijat kening nya sendiri.


"Benar Raja, kedua nya seperti habis terbakar, dan itu membuat semua rakyat semakin ketakutan, mereka takut ada pihak kerajaan lain yang ingin menteror kita secara diam diam," seru penasehat Yun.


"Aku belum lega jika belum melihat tulang belulang itu dengan mata ku sendiri, cepat siapkan kuda untuk ku, namun kita selesaikan masalah yang pertama dahulu," titah Raja Inggit.


"Sesuai titah Raja ku," sahut penasehat Yun bergegas melaksanakan perintah dari Raja Inggit.


Melihat kondisi kerajaan nya yang sedang tertimpa banyak masalah, ia tetap siap siaga menyelesaikan semua permasalahan itu.


Walaupun dekorasi pernikahan telah di pasang sesempurna mungkin di setiap sudut istana, Raja Inggit tetap menyempatkan diri untuk mencoba menstabilkan kondisi kerajaan nya kembali.


Langkah Penasehat Yun terhenti saat melihat Pura yang tengah berdiri di dekat pintu masuk menuju singgasana Raja.


"Aku tahu yang kamu pikirkan, jangan coba coba melarang Raja untuk melakukan kewajiban nya pada kerajaan ini, camkan itu!," ucap lirih penasehat Yun berjalan melewati Pura yang menunduk ketakutan di buat nya.


"Hamba hanya kebetulan lewat Raja," ucap Pura menunduk.


"Ku kira kamu memang sedang ingin menemui ku," ucap Raja Inggit membuat Pura tersipu malu.


"Raja ada tugas penting bukan?, silahkan, penasehat sudah menunggu, hamba tak keberatan," seru Pura membuat Raja Inggit tertawa.


"Biarlah lelaki pemarah itu marah marah di depan istana, aku masih ingin menatap calon istri ku ini," seru Raja Inggit kembali membuat Pura malu.


"Raja terlalu berlebihan," ucap Pura masih tak berani menatap Raja Inggit.


Seketika, Raja Inggit mengangkat dagu Pura sehingga membuat tatapan mereka kini beradu.


"Aku tahu besok adalah hari pernikahan kita, tapi aku juga memiliki kewajiban pada semua rakyat ku, aku meminta izin mu untuk pergi mengusut masalah ini, agar aku tenang menikahi mu esok hari," seru Raja Inggit membuat jantung Pura berdegup kencang.

__ADS_1


"Sesuai keinginan Raja ku, jangan risaukan hamba Raja, berhati hati lah di luar sana dan pulanglah dengan selamat untuk ku," ucap Pura membuat senyum Raja Inggit terukir sempurna.


"Terima kasih, aku tidak salah memilih mu menjadi pendamping ku," seru Raja Inggit mencoba meraba wajah Pura yang tertutup cadar.


"Kita kehabisan waktu Raja," seru penasehat Yun dengan wajah kesal nya.


"Baiklah," sahut Raja Inggit mulai berjalan pergi meninggalkan Pura yang masih tegap berdiri di aula singgasana nya.


 


"Lihatlah Raja, kondisi desa ini," seru penasehat Yun saat telah sampai di salah satu desa yang sedang terpuruk.


Tatapan Raja Inggit langsung mengarah kepada seorang warga yang berebut makanan yang bahkan telah tak layak lagi di makan, namun aneh nya, mereka memiliki banyak pakaian dan aksesoris di tas yang mereka bawa.


"Apakah pakaian berlebih seperti itu lebih penting dari pada mengisi kenyang perut mereka?," keluh Raja Inggit melihat tingkah beberapa rakyat nya yang tanpa ia tahu alasan di balik itu semua.


"Dan lihatlah di sana Raja!, mereka semua berbondong bondong menjual barang barang mereka karna mungkin mereka sudah sangat kelaparan, dan seperti yang telah hamba sampaikan di istana, saat mereka kembali nanti bukan uang untuk membeli makanan yang mereka bawa," seru penasehat Yun membuat Raja Inggit langsung bergegas mengikuti arah rakyat nya yang pergi dengan langkah tergesa gesa itu.


Apa ini semacam sihir atau tipu daya?, ahh, aku jadi penasaran, batin Raja Inggit memilih turun dari kuda nya dan berbaur di tengah tengah para penduduk desa.


Raja Inggit dan penasehat Yun terus mengikuti kemana semua penduduk desa pergi.


Tak berselang lama, mereka telah tiba di sebuah tepi hutan di sebrang batas wilayah bagian barat kerajaan Safar


Dari kejauhan nampak para penduduk sedang mengerumuni sesuatu, hingga berebut sesuatu.


"Apa sebenar nya yang mereka perebutkan?," seru Raja Inggit mencoba lebih dekat lagi.


Hingga Raja Inggit sempat terjatuh dan hampir terinjak rakyat nya sendiri.


"Heh!, perhatikan langkah mu!," sentak penasehat Yun namun tak ada yang menghiraukan nya.

__ADS_1


__ADS_2