Lord Devil _Satan_

Lord Devil _Satan_
Bab 33. Penolakan Drupa.


__ADS_3

"Kenapa dia belum sadar sampai sekarang ?", teriak Greci di hadapan tabib Yagya.


"Tenanglah nak, anak mu cuma pingsan", ucap San membantu tabib Yagya memeriksa keadaan Drupa.


Pandangan Greci beralih ke luar gua yang kini sudah bergerumbul orang orang yang hanya cuma sekedar melihat Drupa dengan tatapan yang lain dari pada biasa nya.


Bagaimana tidak, identitas Drupa telah terkuak ke permukaan.


"Bagaimana dewa ini ?, kenapa mengirim seorang gadis untuk menjadi lawan Satan ?", keluh salah satu lelaki yang ikut bergerombol di mulut gua.


"Matilah riwayat kita !, cepat atau lambat kita akan terbakar oleh api milik Satan dan para pasukan nya", seru seorang perempuan.


"Iya, kita selama ini bisa bertahan hidup tapi akhir nya juga akan mati dalam pembantaian", keluh seorang wanita menangis memeluk sang anak.


Greci yang mendengar itu merasa amat geram.


"Lihatlah akhibat perbuatan mu !, anak ku diremehkan oleh semua orang !, anak ku bahkan tak pernah meminta menjadi sang lawan, terlebih diri ku sebagai ibu nya tak pernah meminta takdir mengerikan seperti itu untuk anak ku !, apa tak ada yang mengerti itu ? ", isak Greci semakin menjadi jadi tak kala Drupa yang tak kunjung sadar.


Sementara di kondisi genting seperti itu, Pratap malah terus memperhatikan Pura yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Pura, kalau boleh tau, berapa umur mu ?", tanya Pratap makin mendekat ke arah Pura.


"Saya, 20 tahun tabib", ucap Pura menundukkan pandangan nya.


Pas sekali !, gumam Pratap dalam hati semakin bernafsu melihat Pura.


Pratap dengan kotor nya mulai membayangkan memegang tubuh indah dan sexy Pura bersamaan dengan adegan adegan lain nya yang sudah terlalu lama ia tak rasakan.


Tubuh nya saja indah, apalagi wajah di balik cadar nya itu ?, gumam Pratap dalam hati.


Tiba tiba angan angan nya terbuyarkan saat semua orang bergerumbul ke arah Drupa yang telah siuman.


"Ibunda", rintih Drupa sembari memegangi kepala nya.

__ADS_1


"Anak ku !, kamu gak apa apa sayang ?, mana yang sakit ?", seru Greci memeluk dan mengecup sang anak.


"Dia sudah siuman, bisa kau katakan maksud tujuan kita ke sini ?", ucap lirih Pratap ke telinga tabib Yagya.


"Kalian memiliki maksud apa kemari ?", seru San tak sengaja mendengar ucapan Pratap.


"Kami ingin melindungi dan mendidik Drupa sampai tiba waktu nya ia melawan Satan", ucap tabib Yagya mengutarakan niat mereka ke sana.


"Tak mau !, kalian itu jahat !, bahkan saat ini pun tabib Pratap masih memiliki rencana buruk dalam hati nya itu", seru Drupa membuat semua orang tercengang, terlebih Pratap.


"Aku ?, memang apa yang bisa aku perbuat ?, aku hanya bisa menumbuk obat", seru Pratap mencoba membela diri nya.


Menyusahkan saja !, kenapa dia bisa tahu isi fikiran ku pada Pura ?, gumam Pratap dalam hati.


"Kalian dengar sendiri kan ?, anak ku sendiri yang tak butuh perlindungan kalian, aku dan ayah ku sudah cukup untuk melindungi nya", seru Greci menolak tawaran tabib Yagya.


"Tapi apa yang kami ajarkan bisa membantu nya melumpuhkan Satan !", seru tabib Yagya bersikeras.


"Cukup !, anak dan cucu ku sudah menolah tawaran mu, kamu bisa pergi dari sini", usir San.


"Apa kalian tak menyesal ?", tanya tabib Yagya merasa di hina.


"Pergi kalian !", teriak Greci sudah muak melihat muka tabib Yagya dan Pratap di hadapan nya.


Sementara itu, Pratap masih sempat melihat ke arah Pura.


Dan berdecak kesal.


Bisa gagal kesenangan ku, aku harus dapat kan dia !, jika aku pergi dari sini, aku akan membawa nya bersama ku, gumam Pratap dalam hati.


"Kak Pura, bisa tolong temani aku, biar ibunda buatkan aku sebuah bubur, aku amat lapar", seru Drupa lagi lagi membuat Pratap kesal di buat nya.


Anak itu !, gumam Pratap semakin kesal dengan ulah Drupa.

__ADS_1


Seakan mengetahui betul rencana Pratap, Drupa malah membuat Puja berada di dekat nya dalam waktu yang cukup lama.


"Ayo Pratap !", seru tabib Yagya yang sudah berjalan keluar gua namun Pratap masih berdiri di tempat nya semula.


"Iya tabib !, sebentar kenapa !", seru Pratap bergegas pergi dari tempat itu.


Namun setelah keluar dari pagar pembatas tempat itu, tiba tiba Pratap menghentikan langkah nya.


"Sombong sekali mereka !, jika saja aku tak menginginkan Satan musnah dan kejayaan ku kembali, aku juga tak sudi menawarkan ilmu dan perlindungan ku pada Drupa", keluh tabib Yagya menggerutu di sepanjang perjalanan.


Karna tak melihat Pratap di samping nya.


Tabib Yagya menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah belakang.


Terlihat Pratap masih berdiri diam tak jauh dari pagar bambu yang merupakan jalan masuk ke tempat San.


"Apa lagi yang dia lakukan ?, menyusahkan !", ketus tabib Yagya berjalan kembali menuju tempat Pratap berhenti.


Saat tabib Yagya menarik tangan Pratap, tangan nya malah di tepis oleh Pratap.


Membuat tabib Yagya langsung menampar pipi Pratap.


"Awh !, lancang sekali tangan mu itu memukul Raja !", sentak Pratap kesal.


"Raja ?, mana kerajaan nya, dah musnah kan !, lagian kau ini kenapa ?, kita sudah di usir dari sini, biarkan mereka didik sendiri sang lawan itu", seru tabib Yagya berkacak pinggang.


"Tunggulah sebentar, ada barang yang harus aku bawa", ucap Pratap.


"Barang ?, apa yang kau maksud ?", tanya tabib Yagya penasaran.


"Nanti kau juga tau sendiri, sebentar lagi ia pasti akan keluar", seru Pratap bersemangat sembari memandang ke arah pagar Bambu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


"Menyusahkan saja !, barang apa yang ia tunggu, ia akan keluar ?, memang barang apa yang bisa keluar pagar dengan sendiri nya ?", ketus tabib Yagya.

__ADS_1


"Lebih baik kita bersembunyi dulu", seru Pratap berjalan ke arah semak semak.


"Aneh !", keluh tabib Yagya tak mengerti maksud dari tingkah laku Pratap.


__ADS_2