
Sementara Satan terus bergerak menuju ke arah Drupa berada.
Pratap dan tabib Yagya kembali berulah.
Di tengah gemuruh petir dan angin kencang, Pratap bergegas mengejar kemana arah Drupa membawa Pura.
"Akhir nya kita kembali", ucap Drupa memungut sebuah bunga krisan yang telah gugur dari pohon yang tumbuh tepat di depan gua milik sang kakek.
"Cuaca semakin menakutkan saja, lebih baik kita berlindung Drupa !", seru Pura gelisah.
"Sebaik nya kita sambut dulu tamu kakak", ucap Drupa membuat Pura tercengang.
"Tamu ?, siapa lagi yang akan mengejutkan ku kali ini, belum bisa aku mengingat jelas masa lalu dengan ibu ku, kini ada orang misterius lagi mendatangi ku Drupa ?", seru Pura merasa penasaran dengan masa lalu nya yang sulit sekali ia ingat.
"Siapa yang kakak sebut orang misterius ?", ucap Drupa sembari menghirup aroma bunga krisan kesukaan nya.
Ucapan Drupa membuat Pura semakin kebingungan.
Tak berselang lama.
Pratap dan tabib Yagya melesat dan berhenti seketika di hadapan Pura.
Membuat Pura gelagapan dan hampir tak kuat berdiri.
"Kau !", sentak Pura masih merasa marah saat kembali melihat wajah Pratap di hadapan nya.
"Putri Kinan, tenanglah putri !, ayahanda minta maaf !, tolong kendalikan emosi mu", seru Pratap mencoba menenangkan Pura yang terus melangkah menjauhi Pratap.
"Ayahanda ?", seru Pura amat terkejut, langkah kaki nya langsung berhenti saat itu juga.
"Iya sayang !, aku ayah mu !, Raja Vinix, apa kau tak mengingat nya ?", seru Pratap terus berusaha menenangkan dan mendekati putri nya.
"Lelucon macam apa ini !", sentak Pura merasa marah dengan penuturan dari Pratap.
"Benar Putri, saya bisa menjamin itu semua", seru tabib Yagya meyakinkan.
"Jadi kau Raja kejam itu !, yang membuat kekacauan ini terjadi !, biadab kau !", sentak Pura tak senang.
__ADS_1
Sontak seruan Pura membuat tabib Pratap tercengang.
Ada perasaan marah dalam hati nya saat mendengar penghinaan itu terlebih dari mulut putri nya sendiri.
Tapi ia juga mencoba menekan emosi nya demi mendapatkan putri nya kembali.
"Kenapa kau bicara seperti itu putri ?, kau melukai hati ayah mu ini, apa kau tak ingat saat dulu ?, kau lah putri ayah yang paling menurut dan menghormati ayahanda mu ini !", seru Pratap mencoba memegang tangan Pura.
Tapi seketika itu juga, tangan Pratap langsung di tepis oleh Pura.
"Jangan coba coba mendekati ku !, entah seperti apa aku di masa lalu, seburuk apapun tabiat ku di masa lalu, tapi sekarang, aku adalah Pura, Pura yang hanya memandang kebenaran dan kemanusiaan", seru Pura mengusap air mata nya.
"Tapi bagaimana pun, kau itu adalah putri ku !, dan itu sudah melekat di dalam darah mu Kinan !", sentak Pratap.
"Ya !, aku akan terima jati diri ku, dan karna alasan itu juga aku tak akan memaafkan mu karna ingin mencoba menodai ku, anak mu sendiri !", seru Pura memalingkan wajah nya mengingat kejadian saat ia di lucuti oleh seorang lelaki yang ternyata ialah Ayah kandung nya sendiri.
"Waktu itu aku belum mengenali mu putri ku", ucap Pratap mencoba membela diri.
"Owh !, jadi kalau saat itu aku bukanlah putri kandung mu, kau akan terus meneruskan aksi bejat mu !, iya !, dan setiap gadis yang kamu temui akan bernasib sama nanti nya", sentak Pura marah.
Tak bisa di elakkan kalau yang di ucapkan Pura memang benar.
Pratap atau pun Raja Vinix memang sangat bernafsu besar dan brutal saat berhadapan dengan para wanita.
Meskipun tanpa kedudukan ataupun gelar dan kejayaan yang gemilang, sifat itu terus melekat dan tak bisa hilang dari dalam diri Pratap.
"Cukup !, cukup putri Kinan !", teriak Pratap seketika, hingga mengejutkan semua orang terlebih Pura.
"Sudahlah Pratap !, kendalikan diri mu !", seru tabib Yagya sembari mengamati cuaca yang semakin buruk saja.
"Tidak !, dia harus di beri pelajaran !, bagaimana pun dia itu darah daging ku, dan dia harus menuruti semua titah ku !", teriak Pratap semakin tak terkontrol.
Membuat Pura ketakutan dan menangis.
"Mau tak mau kamu harus ikut dengan ayahanda !", titah Pratap menarik paksa tangan Pura.
"Tidak !, lebih baik aku mati di sini !", sentak Pura menepis tangan sang ayah.
__ADS_1
"Berani nya !, kubilang turuti titah ku !", teriak Pratap semakin emosi.
Bersamaan dengan itu, Pratap kembali menarik paksa tangan Pura hingga ia tak kuat lagi menahan nya.
Dengan tatapan sayu dan berderai air mata, ia menatap ke arah Drupa yang sejak tadi hanya menatap nya saja tanpa berbuat apapun.
Drupa, tolong !, gumam Pura dalam hati.
"Tenanglah kak", ucap Drupa seketika itu juga mengibaskan bunga nya ke arah Pratap.
Membuat Pratap dan tabib Yagya terpental cukup jauh ke tanah.
"Ahh !, berani nya kau !", teriak Pratap mencoba bangkit dan berlari untuk menyerang Drupa.
"Biar aku saja !", seru tabib Yagya mengeluarkan serangan sihir nya secara bertubi tubi ke arah Drupa.
"Drupa !", teriak Pura mengkhawatirkan Drupa yang sedikit lagi akan terkena serangan dari tabib Yagya.
Tanpa di duga, serangan itu bahkan tak bisa mengenai kulit Drupa.
Perlahan serangan itu lenyap sebelum sampai di jarak dua kepalan tangan dari tubuh Drupa.
"Apa kau mau mencoba nya lagi penyihir ?", seru Drupa tersenyum.
"Sial !", ketus penyihir hitam terus menerus menyerang Drupa.
Tapi tak ada serangan nya yang berhasil mengenai Drupa.
"Satan belum melihatku bahkan belum bertarung dengan ku, tidak adil jika aku harus kalah dengan serangan serangan mu", seru Drupa tertawa.
Tiba tiba terdengar gemuruh hebat di ujung hutan yang mengisyaratkan bahwa ada sesuatu yang tengah mendekati mereka.
"Gawat !, Satan datang !, dia bisa mengenali kita !", seru tabib Yagya mendekap tubuh Pratap dan bergegas berlari menjauhi tempat itu.
"Tapi bagaimana dengan anak ku !", sentak Pratap terus berusaha melepaskan diri.
"Dia sudah memilih jalan nya sendiri Raja", ucap tabib Yagya membuat Pratap kembali menatap putri nya yang sama sekali tak mau menatap nya lagi.
__ADS_1