
Sudah terlewat seribu tahun sudah masa pertarungan antara Satan dan Drupa terjadi.
Dunia sudah nampak normal kembali, dan peradaban pun sudah mulai terbentuk kembali di bumi.
Sisa manusia terakhir dari kelompok tabib San lah yang membuat bangsa manusia tidak jadi punah.
Keturunan mereka berpencar menempati hampir setiap wilayah, yang akhir nya menjadikan banyak perkampungan dan kerajaan mulai bermunculan.
Namun bangsa penyihir hitam maupun putih sudah punah dan telah di lupakan di jaman baru ini.
Kecerdasan masyarakat juga berkembang cukup pesat.
Mereka sudah lebih maju dalam ilmu pendidikan dan ilmu meramu obat.
Metode pembedahan tubuh manusia dalam ilmu pengobatan juga sudah di temukan walaupun masih dalam cakupan sederhana.
Pohon Krisan tua di tengah hutan belantara telah menggugurkan bunga nya yang terakhir.
Membuat sebuah cahaya di dalam gua meredup dan berangsur angsur menghilang.
Tempat itu nampak tak terjamah oleh manusia dalam kurung waktu yang sangat lama.
Meskipun di sekeliling hutan itu sudah banyak berdiri pemukiman warga dari kerajaan terdekat, namun hutan itu di jadikan keramat oleh orang orang di sekitar nya.
Cerita pertempuran antara Drupa melawan iblis Satan demi membela manusia dan melindungi dunia sudah menjadi legenda di masyarakat.
Para leluhur menceritakan nya bahkan menorehkan nya di sebuah kitab agar di kenang dan di jadikan pelajaran hidup bagi generasi yang akan datang.
Bahkan para ternak warga yang tak sengaja masuk ke wilayah itu akan di biarkan begitu saja tanpa berusaha mencari nya.
Namun cuaca di hari itu nampak berbeda.
Hari itu seakan semua orang merasa gembira tanpa tahu alasan nya.
Hari di mana bunga Krisan terakhir telah gugur.
"Bu, ini aku tambah uang belanja nya 5 keping emas, cukup kan ?", seru seorang pemuda desa pada istri nya.
"Tumben pak, tapi makasih ya, nanti ibu bakal masakin yang enak enak untuk bapak, entah kenapa ibu hari ini seneng banget, jadi keinginan masak ibu juga tiba tiba muncul", timpal sang istri bergegas berangkat ke pasar.
Seluruh penduduk desa bahkan ramah terhadap setiap yang ia temui meskipun telah penat bekerja seharian di ladang.
Sementara di bawah pohon Krisan raksasa.
Gua yang sudah lama tertutup dan tertimbun tanah.
Mulai meruntuhkan tanah yang menutupi nya.
Dengan menghilang nya cahaya terakhir dari bunga krisan yang jatuh, berangsur angsur membuat sepasang tengkorak yang tergeletak di tanah gua berangsur angsur mulai pulih dan berwujud kembali menjadi manusia seutuh nya.
Tangan mereka mulai bergerak, yang menandakan bahwa mereka telah berhasil hidup kembali.
"Ah !, kepala ku sakit !", rintih salah seorang dari mereka yang tak lain adalah Greci.
__ADS_1
"Badan ku juga sakit semua buk", sahut Pura mencoba mengamati sekitar nya yang nampak gelap di mata nya.
Tiba tiba pintu gua mulai runtuh dan membuka jalan ke dunia luar serta cahaya yang berhasil masuk, membuat silau mata kedua wanita itu yang telah lama tidur di dalam gua.
Saat mata Greci mulai berbaur dengan cahaya luar ia langsung mengingat kejadian di mana ia telah kehilangan ayah sekaligus anak nya.
Ia langsung berteriak dan histeris seketika.
"Drupa !, anak ku !", teriak Greci sekencang yang ia bisa sembari menangis dengan histeris nya.
"Bu, tenang lah", seru Pura mencoba menenangkan Greci meskipun diri nya sendiri tak bisa membendung air mata kesedihan nya sendiri atas kepergian Drupa.
-----
Setelah mereka kembali tenang, Pura mencoba memapah Greci keluar dari dalam gua.
Mereka tercengang saat sebuah angin menerpa tubuh mereka.
Seakan sudah lama sekali mereka tak merasakan hembusan angin seperti itu.
Bahkan pemandangan di sekitar tempat itu membuat mereka lebih tercengang lagi.
Pohon pohon terlihat berukuran 3 kali lipat dari yang mereka ingat.
Semak belukar lebih lebat di banding terakhir kali mereka mengingat nya.
Namun Greci akan selalu ingat tepat di mana tubuh Drupa terbaring tanpa nyawa di atas tanah di hadapan nya itu.
Sembari mengusap air mata nya, ia mencoba duduk di bawah pohon Krisan kesayangan sang anak.
"Berapa lama kita pingsan Pura ?, kenapa semua nampak berubah di mata ku ?, bahkan pohon ini sangat besar di banding dengan yang aku ingat terakhir kali", seru Greci.
"Entahlah bu, ayo kita cari seseorang yang bisa menjawab pertanyaan ibu", seru Pura berjalan menerobos lebat nya semak belukar dan mencari seseorang untuk meminta sebuah pertolongan pada nya.
Pura dan Greci terus berjalan cukup jauh hingga mereka sampai ke sebuah aliran sungai.
Mereka segera minum dan menyegarkan tubuh mereka di sana dengan puas nya.
"Kita akan menemukan seseorang dengan mengikuti arah aliran sungai ini bu", seru Pura melanjutkan perjalanan nya lagi.
Tepat di sore itu, mereka berdua tersenyum bahagia saat melihat sebuah pemukiman di depan mereka.
Dengan penuh harap, mereka mencoba memasuki desa itu dan menyapa seseorang yang ada di sana.
"Sore bu, bolehkah kami menumpang istirahat di sini ?", seru Pura membuat wanita di hadapan nya mengeryitkan kening dan memandang mereka berdua tanpa henti dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Kalian dari kerajaan mana ?, kenapa pakaian kalian sangat kuno sekali ?, apa kalian bagian dari sirkus ?", seru wanita itu membuat Pura dan Greci pun kebingungan.
"Hanya ini pakaian yang kami punya bu, ya sudah lupakan saja, kami boleh minta dua piring nasi ?, kami sangat lapar sekali, aku akan bayar dengan logam emas", sahut Greci.
"Tunggu ya", seru wanita itu dan tak berselang lama ia kembali keluar dengan membawa dua piring nasi dan lauk.
Pura nampak makan dengan lahap nya, namun berbeda dengan Greci.
__ADS_1
Ia terus memandang nasi itu sembari mengingat masa kebersamaan nya dengan Drupa dan sang ayah saat makan bersama.
"Sudahlah bu, Drupa juga tak akan suka jika ibu tak makan dan sakit karna terus meratapi kepergian nya", seru Pura perlahan menyuapi Greci.
Setelah selesai makan, Pura mengeluarkan dua logam emas dari saku nya.
Sekali lagi, wanita itu kembali mengeryitkan kening dan meraba logam emas dari wanita di hadapan nya.
"Eh tunggu !", seru wanita itu menghentikan langkah kaki Pura dan Greci yang akan meninggalkan rumah wanita itu.
"Kenapa ya bu ?, apakah kurang ?", tanya Pura.
"Ini logam emas emang laku ?", seru wanita itu marah, membuat Pura dan Greci merasa semakin heran.
"Itu logam asli bu, ada tanda kerajaan Laxzamor di sana !", seru Pura bersikeras.
"Selama aku hidup, tak ku dengar ada kerajaan Laxzamor !, di sini tuh kerajaan Safar nama nya", ketus wanita itu lebih bersikeras dari pada Pura.
"Apa ibu bisa cek lagi ?", seru Greci memohon.
Karna wanita itu terus terusan marah, membuat semua warga bergerumbul di sekeliling mereka.
"Ada apa sih mbok ?", seru seorang lelaki.
"Ini lho, masak mereka mau nipu aku dengan logam emas palsu !", ketus wanita itu tak terima.
Membuat semua orang ikut menatap tajam dan tak suka kepada Greci dan Pura.
"Ayo kita hajar aja mereka !", seru seseorang dari mereka.
Sebelum sempat mereka main hakim sendiri.
Kebetulan seorang prajurit kerajaan berpatroli melewati mereka.
"Ada apa ini ?", sentak prajurit merasa heran dengan kegaduhan yang terjadi.
"Kebetulan prajurit, mereka berdua penipu !, masak dia minta makan bayar pakek logam palsu !, penipu !", sentak wanita itu membuat Greci dan Pura menangis.
"Bisa aku lihat logam itu ?", seru prajurit dan segera mengecek logam emas milik Pura.
Begitu terkejut nya dia saat mengamati logam emas yang di miliki oleh wanita misterius yang ada di hadapan nya itu.
"Kau dapat logam ini dari mana ?", tanya sang prajurit.
"Dari ibu ku", sahut Pura dengan wajah yang tertunduk takut.
"Bagaimana mungkin ?, ini adalah logam yang telah berusia 1000 tahun, dan nilai nya bahkan 100 kali lipat dari logam emas di masa ini", seru prajurit itu membuat para penduduk desa menganga.
Bahkan Greci dan Pura pun amat terkejut mendengar nya.
"1000 tahun ?", seru Greci terkejut.
Jadi aku sudah berada di gua itu 1000 tahun lama nya ?, pantas saja semua nampak berubah, gumam Pura dalam hati.
__ADS_1
"Kalau gitu kalian boleh makan di rumah ku sampai puas deh, ini logam buat aku ya", seru wanita itu membuat semua warga menyoraki nya.
"Tidak !, itu akan aku sita, dan kalian berdua ikut aku ke kerajaan", seru prajurit itu membuat Greci dan Pura hanya bisa menuruti nya.