
"Tabib San..!, tabib..!", teriak seorang pemuda nampak gelisah sembari membopong anak nya di depan mulut gua.
"Astaga..!", seru Greci terkejut dan segera terbangun mendengar teriak pemuda di luar gua.
Ia segera berlari keluar dari kamar nya dan mendapati sang ayah sudah bergegas lebih dulu membuka pintu gua mereka.
"Po..?, kenapa dengan kalian..?", seru San tercengang saat diri nya melihat tubuh Po dan sang putri sudah dipenuhi dengan borok menjijikkan.
Di dalam, Greci yang melihat itu pun nampak syok dan merangkul putri nya yang ingin mendekat ke arah sang kakek.
"Masuk ke kamar mu..!", perintah Greci pada putri nya.
"Tapi ibunda", ucap Drupa cemberut.
"Ibunda bilang masuk..!, ibunda harus membantu kakek menolong pemuda dan anak nya itu, kita tak tahu penyakit itu menular atau tidak", ucap Greci sembari bergegas menolong sang ayah yang sibuk membantu Po yang merintih kesakitan.
Greci begitu terkejut saat diri nya memeriksa kondisi Po dan putri nya.
Kemarin mereka baik baik saja, gumam Greci dalam hati.
Bagaimana mungkin sebuah luka bisa tercipta dalam semalam tanpa sebab dan sudah penuh dengan ulat..?, gumam Greci terus bertanya tanya dalam hati sembari membersihkan luka Kesya putri Po dengan sebuah cairan.
"Greci, cepat kamu tumbuk obat luka untuk mereka setelah ulat nya kau buang", seru San terus mencoba membersihkan luka di tubuh Po.
Belum sempat Po dan Kesya selesai di tolong.
Para penduduk lain terlihat berbondong bondong dan berlari ke arah gua mereka.
"Yah, lihat itu", seru Greci memapah beberapa orang yang datang sempoyongan masuk ke gua mereka.
"Tolong tabib..!, kenapa badan ku gatal semua", seru seorang perempuan terus menggaruk badan nya hingga kulit nya mengelupas dan muncul ulat ulat kecil dari dalam kulit.
"Bagaimana mungkin..?", seru San tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Tolong tabib", seru semua orang dengan terus menggaruk tubuh nya sampai penuh dengan luka menganga.
Dengan sigap Greci dan San membantu mereka sebisa nya.
Bahkan mereka mendirikan tempat baru di depan gua agar bisa menampung semua orang.
Sedangkan Drupa hanya bisa memperhatikan dari dalam kamar nya situasi genting itu.
Tanpa izin ibunda nya, ia tak berani jika harus keluar dari kamar nya.
Pagi hingga hari kembali petang.
Greci dan ayah nya terus mengobati satu per satu penduduk yang sakit.
Tanpa mereka sadari, di hutan itu bahkan di seluruh dunia hanya mereka bertiga manusia biasa yang sehat.
__ADS_1
Hari sudah mulai larut.
San duduk dengan lemas untuk sekedar melepas penat di samping Greci yang terus menumbuk ramuan untuk semua orang yang terjangkit.
"Jelas ini penyakit menular, apa ini sebuah wabah..?", keluh San menatap para penduduk yang terus merintih kesakitan.
"Baru kali ini aku melihat wabah seburuk ini ayah, luka yang baru terbentuk langsung mengeluarkan ulat, itu yang aku tidak habis pikir", gumam Greci menghela nafas panjang.
"Bahkan ini terjadi dalam semalam", ucap San tak habis pikir dengan masalah yang terus ada sejak kelahiran Satan.
"Saat dunia di porak porandakan Satan, kita terpaksa bersembunyi di gua dan meninggalkan kehidupan kita yang bebas, meringkuh dan bersembunyi layak nya tikus, sekarang setelah Satan memilih bersemedi pun kita tiba tiba di serang monster yang entah dari mana asal nya, setelah kita berhasil lolos, sekarang wabah ini menjadi momok menakutkan bagi kita, ahh..!!, kenapa hidup kita jadi kacau begini..?", keluh San sembari memijat kepala nya sendiri.
Greci lalu beranjak duduk di belakang sang ayah dan membantu memijat kepala nya.
"Biar aku saja yah", ucap Greci mengurut kening sang ayah sembari memperhatikan orang orang yang tengah kesakitan di dalam maupun di luar gua nya.
"Ayah...?, berapa kira nya orang yang kita tolong hari ini..?", tanya Greci penasaran.
"Mungkin 35- 40 orang", ucap San sembari menikmati pijatan sang putri.
Tiba tiba tangan Greci berhenti memijat.
Ia seakan tercengang dengan jumlah itu.
"Ayah, berapa jumlah penduduk di sekitar gua kita yang selamat setelah serangan monster kemarin..??", tanya Greci lagi.
Lalu mereka saling pandang satu sama lain.
"Itu berarti..", seru San.
"Hanya kita bertiga yang tak terjangkit wabah ini", seru Greci menyimpulkan semua nya.
San segera bangkit dari duduk nya dan berfikir keras sembari mondar mandir di hadapan Greci yang juga masih syok mengetahui kenyataan itu.
"Jika semua terkena wabah kecuali kita, bukan tidak mungkin jika wabah ini menyerang seluruh manusia di dunia ini..!", seru San menyimpulkan kemungkinan yang ada.
"Tapi kenapa kita tidak bisa terjangkit yah..?", tanya Greci heran.
"Apa yang kita lakukan akhir akhir ini sehingga kita tidak terjangkit..?", gumam San terus berfikir.
Seketika Greci nampak tercengang.
Lalu ia menatap ke arah Drupa yang sedang mengintip dari celah kamar.
San yang melihat itu menjadi bingung.
"Kenapa kau menatap anak mu seperti itu..?", tanya San.
"Ayah ingat yang di katakan Drupa malam itu, jika kita harus menjaga kekebalan tubuh di cuaca seperti ini, bahkan ia meramu minuman dan memaksa kita meminum nya", ucap Greci masih memandangi lekat lekat sang putri.
__ADS_1
Melihat sang ibunda memperhatikan nya, Drupa segera bersembunyi di dalam selimut nya.
Segera Greci beranjak dari duduk nya dan bergegas masuk ke kamar Drupa.
"Greci...?", panggil San tak di hiraukan oleh putri nya.
San pun mengikuti Greci yang nampak curiga dengan sang anak.
"Keluarlah Drupa, ibunda mau bicara", seru Greci mencoba selembut mungkin mengelus selimut Drupa.
"Keluarlah sayang, tak apa", bujuk sang kakek.
Drupa segera membuka selimut nya dan bergegas memeluk sang ibunda.
Melihat itu, Greci dan San merasa heran dibuat nya.
"Drupa kenapa..?", tanya sang ibunda.
"Bunda gak marah kan sama Drupa..?", ucap lirih Drupa.
"Marah ...??, memang kenapa bunda harus marah..?", timpal Greci semakin heran di buat nya.
"Karna Drupa tak memperingatkan tentang datang nya wabah ini ke semua orang, akhirnya semua sakit gara gara Drupa", ucap Drupa sembari mulai menangis.
Pengakuan Drupa membuat Greci dan San terkejut.
"Jadi, Drupa tahu tentang datang nya wabah ini..?", ucap sang kakek duduk mendekat ke arah cucu nya.
Drupa hanya mengangguk, membuat Greci dan San semakin terkejut dengan hal itu.
"Aku pikir bunda dan kakek tak akan percaya jika aku mengatakan nya", ucap Drupa membuat Greci menyadari bahwa ia selama ini memang terlalu meremehkan kelebihan sang putri.
"Sayang, anak ibunda, jadi ramuan malam itu berguna buat menangkal wabah itu..?", tanya Greci mencoba tak membuat Drupa tertekan.
Sekali lagi Drupa mengangguk membenarkan semua tebakan dari ibunda nya.
"Sayang, kamu mau kan buat ramuan itu lagi buat penduduk yang lain..?", ucap San penuh harap.
"Tapi kakek dan ibunda tak marah kan..?", seru Drupa sesenggukan.
"Kami gak marah kok sayang, Drupa bisa buat sekarang ramuan nya ..?", tanya sang kakek berharap semua orang bisa kembali pulih.
Drupa hanya mengangguk dan segera bergegas menuju ke tempat meramu obat dengan riang nya.
Sementara Greci hanya menghela nafas mendapati fakta mengejutkan itu.
"Sudahlah nak, jika memang dewa memilih anak mu, dia juga yang akan melindungi nya", ucap sang ayah mencoba menenangkan sang putri.
"Kali ini aku tak akan meremehkan anak ku lagi ayah, kelebihan dia selama ini sudah membuktikan semua nya, sang lawan telah tumbuh dari generasi kita, aku sebagai ibu nya tidak bisa selama nya menutup jalan takdir nya, biarlah dia dengan jalan takdir nya sendiri, sebagai ibu aku akan melindungi nya dan menemani nya sampai ajal ku nanti", ucap Greci berjalan beriringan bersama sang ayah mendekati Drupa dan membantu nya meramu penawar bagi semua orang.
__ADS_1