
Sejak pertapaan Satan di mulai.
Dan Pasukan api menjadi batu abadi.
Bangsa manusia mulai berani berinteraksi dengan sesama kelompok mereka.
Hingga terjalin sebuah barter makanan di antara sesama saat tak sengaja melintas di gua gua penduduk pelarian yang lain.
Hidup mereka benar benar berubah total kembali ke zaman nenek moyang.
Nampak sebuah gua lebih ramai dari gua gua yang ada.
Terletak cukup jauh dari yang lain nya, terutama dari kerajaan Laxzamor.
Banyak orang rela berjalan jauh untuk ke sana.
Kabar angin mengatakan, sepasang suami istri di gua itu telah berhasil menyembuh nya berbagai penyakit di kala mereka kesulitan mendapatkan obat dan ramuan yang bahkan tabib saja tak bisa meracik nya.
Seorang wanita sibuk mengobati orang orang dengan tenaga dalam nya.
Dan di samping nya nampak seorang lelaki meramu obat untuk para pasien mereka.
"Sudah...", ucap wanita itu mengakhiri pengobatan nya.
__ADS_1
"Luar biasa...!!, aku tak pernah merasakan se segar ini, terima kasih", timpal nya dengan menyodorkan beberapa makanan tanda terima kasih nya.
"Ini ramuan mu, habiskan...!!", seru wanita itu telah selesai dengan pasien terakhir nya hari itu.
Setelah pintu gua di tutup.
Wanita itu membuka cadar nya dan mulai bernafas dengan lega.
"Penyihir...!!, apa kau tak bosan menjadi relawan seperti ini...??", keluh lelaki itu sembari berbalik badan dan menunjukkan wajah yang tak asing milik nya.
"Sudah ku bilang...!!, jangan panggil aku dengan sebutan itu..!!, saat ini identitas ku adalah istri mu yaitu tabib Yagya tersohor.
"Cuh..!!, ku kira kau hanya bercanda saat kau mengikat ku dengan darah mu waktu itu", ketus Raja Vinix yang sekarang berubah nama menjadi Pratap, sang suami dari tabib Yagya.
"Kenapa kau selalu marah marah kepada ku sejak kepergian kita dari kerajaan..??, apa kau sudah tak menganggap aku ini raja mu...??", seru Raja Vinix naik pitan.
"Silahkan kalau kau tak terima, jika kau mau kau bisa pergi dari sini dan mencari makanan dengan tangan dan keringat mu sendiri", gertak penyihir hitam masuk ke dalam kamar nya.
Ucapan sang penyihir membuat Raja Vinix alias Pratap menjadi terdiam seribu bahasa.
Mau tak mau ia harus tetap meramu obat seperti perintah penyihir hitam yang saat itu menyamar sebagai istri nya.
Jika tidak, bagaimana dia mendapatkan makanan...??, sedangkan saat itu hidup nya sudah enak, tugas nya hanya meramu obat tanpa kepanasan berburu makanan dan akan kenyang hanya di dalam gua saja.
__ADS_1
Sementara di dalam kamar.
Penyihir hitam masih meluapkan emosi nya.
Ia amat kesal dengan sikap raja yang amat manja setelah kehilangan kerajaan nya.
Raja yang gagah, dan bisa menjadi jembatan nya mengatur dunia kini telah musnah.
"Jika bukan karna darah ku telah mengalir di tubuh nya, sudah ku tinggalkan dia sejak dulu", ucap penyihir hitam memukul mukul dinding gua dengan tangan nya.
Kemudian dia membuka kembali buku mantra nya.
Ia membaca kembali tentang peluruhan darah seorang penyihir pada manusia biasa.
Manusia itu akan menjadi satu jiwa dengan nya.
Dengan kata lain, jika penyihir mati manusia itu juga akan mati.
Begitu pula sebaliknya, jika Raja Vinix terbunuh, dia akan ikut terbunuh.
Setelah selesai meneliti buku nya sekali lagi, yang tak ada mantra pelepasan untuk itu.
Dia kembali kesal.
__ADS_1
"Dia benar benar Raja lemah sekarang...!!, ancaman Satan terhadap nya juga tak main main, hingga dunia dan seisi nya ia coba musnahkan, tak ada pilihan lain, aku harus tetap melindungi nya demi keselamatan nyawa ku sendiri", gumam penyihir hitam merebahkan tubuh nya di atas matras nya dan mencoba beristirahat dari kegiatan nya yang padat dan dari keluhan keluhan Raja Vinix setiap hari nya.