Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 1 Prolog


__ADS_3

"Apah ...?" melirik jam Doraemon di meja belajarku, ternyata menunjukkan pukul 05.10 pagi, "aku terlambat bangun, pasti ibu sedang beres-beres nih di dapur."


Untuk pertama kalinya aku tidak pernah terlambat bangun pagi, dan ibu tidak pernah membangunkanku karena dia ingin aku mandiri dari sekarang.


Tanpa memakai sandal aku bergegas untuk pergi ke kamar mandi yang berada di dapur.


Sebelum menuju kamar mandi, aku melihat ibu yang tengah sibuk dengan piringnya. Aku takjub melihat ibu yang begitu setia kepada keluarganya. Sepintas aku melihat meja makan semuanya sudah beres dan rapi, makanan sudah ditata rapi oleh bidadari kesayanganku, hanya tinggal dimakan saja oleh kami sekeluarga. Tetapi aku tengah berfikir, apakah aku bisa seperti ibu nantinya? beliau sangat setia dengan keluarganya. Sedangkan aku? bangun pagi saja sering terlambat, hadeh ....


Kemudian aku menyapa ibu yang tengah asik dengan piring-piringnya.


"Ibu, Rani sudah bangun nih," sapaku, dan kemudian masuk ke kamar mandi, ketika ingin membuka pintu, tiba-tiba ada sesuatu yang melompat ke arahku, "hya ... ibu! hu ...," teriakku sekeras mungkin.


"Ada apa nak?" tanya ibu dengan nada sedikit panik.


"A-ada katak B-Bu ... aku geli sekali melihatnya, dia melompat ke arahku huu ...," jelasku sedikit terisak.


"Yah ... kirain apaan, kiranya katak toh. Kamu ini buat ibu jantungan saja, masa sama katak saja takut!" gertak ibu.


"Geli Bu huu ... maafkan Rani ya Bu," isakku dengan pipi yang mulai memerah.


"Ya sudah, jangan bercanda lagi, cepat mandinya nanti keburu yang lain!" perintah ibu.


"Rani ambil wudhu dulu Bu, mandinya nanti," ucapku.


"Yah ... kamu ini nak, sholat itu, kita harus dalam keadaan suci dulu. Pertama sekali harus suci badan, makanya bersihkan badanmu dahulu, kita tidak tahu apa yang dilakukan makhluk lain semalaman terhadap diri kita ketika sedang enak-enaknya tidur, jadi mandi dulu ya nak!" perintah ibu.


"Dan dengan kita mandi pagi, badan jadi sangat sehat dan bugar, begitu juga dengan otak jadi fresh untuk berfikir nantinya," lanjut ibu.


"Siap, baik bos!" jawabku dengan tegas dan tersenyum sambil memberi hormat kepada ibu layaknya orang upacara.


Ibu melirik ke arahku kemudian tersenyum lebar.


Tak lama kemudian ayah datang dari ruang tamu.

__ADS_1


"Siapa tadi yang teriak bu?" tanya ayah.


"Tidak ada yah, Rani tadi dilompatin sama katak di kamar mandi, jadinya dia berteriak," jelas ibu.


"Ooh ... mungkin kataknya jatuh cinta tuh sama Rani," canda ayah.


"Ish ayah, nggak ada yang lain apa, masa katak jatuh cinta sama Rani, mana ada katak jatuh cinta sama manusia, itu hanya dongeng ayah," rutukku.


"Mana tahu dongeng itu kembali hidup lagi karena kejadian yang kamu alami tadi nak, hehe ...," canda ayah.


"Ayah bercanda saja deh dari tadi, ini Rani mau mandi yah, nanti keburu sama Qiran dan Dika," sela ibu.


"Ya sudah, cepat masuk kamar mandi, nak!" perintah ayah.


"Baik ayah," jawabku setuju kemudian masuk ke kamar mandi dan menutup pintu.


"Hati-hati nanti ada pangeran katak disana," canda ayah sekali lagi.


"Ayaahh ...!" teriakku.


Ayah selalu begitu ketika dia di rumah, jika tidak ada ayah, rumah rasanya hampa sekali, hanya Qiran yang mengikuti jejak ayah yang suka bercanda, sedangkan aku, diejek sedikit nangis, kadang juga naik darah jika itu sudah melampaui batas bagiku.


..


Jam telah menunjukkan pukul 06.30, aku sudah selesai berkemas, segera berlari ke meja makan, aku kira yang pertama ke meja makan hanya aku sendiri, karena Qiran dan Dika belum bangun sedari tadi, ternyata dugaanku salah, semua sudah duduk disana lengkap dengan adik-adikku juga.


"Kapan Qiran sama Dika bangun bu? dari tadi aku tidak lihat batang hidung mereka, tahu-tahunya mereka sudah duduk disini saja," tanyaku sambil menyendokkan nasi goreng ke piring.


"Kamu mandi tadi mereka baru bangun katanya terkejut mendengar teriakan kamu untung saja mereka tidak jantungan," jelas ibu dengan datar sambil mengambil nasi goreng untuk ayah.


"Jadi kakak yang teriak tadi?" tanya Qiran.


"Hus ... diam! bikin malu tahu, nggak?" bisikku.

__ADS_1


"Malu sama siapa? hanya kita saja yang tahu kak, hehe ...," ujar Qiran.


"Sudah, lupakan saja!" ujarku.


Aku adalah anak pertama dari tiga anak orangtuaku. Qiran adalah anak kedua yang masih duduk di kelas dua Sekolah Menengah Pertama (SMP), Dika adikku yang bungsu dia masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar (SD). Sedangkan aku sendiri masih duduk di kelas akhir Sekolah Menengah Atas (SMA).


Kami tinggal di perumahan yang cukup padat penduduknya, rumahku berada tepat di depan komplek atau juga bisa dikatakan rumahku yang pertama sekali dijumpai orang ketika memasuki daerah komplek, posisi rumahku menghadap jalan raya. Sehingga sebelum pukul 07.00 pagi, banyak sekali kendaraan berlalu lalang.


"Tit ...!" bunyi klakson mobil ayah tandanya ayah sudah hampir terlambat bekerja.


"Tunggu sebentar yah! Dika sedang buang hajat katanya lagi sakit perut," ucap ibu sambil berteriak, karena suasana mulai terdengar ramai disebabkan kendaraan berlalu lalang.


Aku dan ayah saling pandang kemudian menggelengkan kepala, tanda ini sudah kebiasaan Dika setiap pagi.


"Ish ... Dika lama banget yah, kita tinggal saja yah, ini kan sudah hampir terlambat, nanti bisa diantar ibu ke sekolahnya, lagian hari ini jadwal piket Qiran yah, ditambah lagi nanti upacara," ujar Qiran tanpa berhenti.


"Ah..jangan nak! nanti dia nangis seperti kemarin dan tidak mau pergi sekolah lagi, kan kita juga yang repot membujuknya," jelas ayah dengan nada datar.


"Entah kamu ni Qiran, Dika nya lagi sakit perut kamu malah sewot sendiri saja, sebentar lagi siap kok dia," tambahku.


"Ya sudah deh ...," jawab Qiran.


Tak lama kemudian, Dika dan ibu keluar dari rumah.


"Tuh Dika sudah keluar, kamu nih Qiran tidak sabaran jadi orang," jawabku.


"Iya deh iya," jawab Qiran dengan nada sedikit kesal.


"Bu, Dika pergi sekolah dulu ya, assalamualaikum," pamit Dika sambil mencium tangan ibu dan masuk ke dalam mobil.


"Bu, kami berangkat dulu yaa, assalamualaikum," pamit ayah.


"Waalaikumssalam," jawab ibu, "hati- hati di jalan ya yah!" lanjutnya.

__ADS_1


♥️selamat membaca♥️


__ADS_2