Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 18 Thanks For ToNight


__ADS_3

🌱🌱🌱


Tiba-tiba Qiran keluar dan mendekatiku.


"Kak, moga langgeng ya sama pelatih aku, hehe ...," canda Qiran.


"Yayaya," jawabku sambil memutarkan bola mata.


"Ya udah, sana gih! Bau keringat nih," ejekku sambil menutupi hidungku.


"Hehe ... maaf kakak ini baru siap latihan basket di sekolah" jawabnya sambil tertawa kecil kemudian pergi.


"Eh tunggu Qiran, teman kamu nggak disuguhi minum ya?" tanyaku.


"Eh iya kak, lupa. Buatin mereka minum ya!" suruh Qiran.


"Lemon tea ya kak!" lanjutnya.


"Kakak kan jago segalanya," pujinya tanpa berhenti.


"Oke deh, sana pergi mandi. Udah bau keringat nih ruangan," tandasku.


Kemudian Qiran pergi ke kamar.


Kulirik Fakur, dan ternyata dia juga melirikku.


"Aku ke belakang dulu ya," pamitku kepada Fakur.


Fakur hanya mengangguk tanda mengiyakan.


☘️☘️☘️


Akhirnya Qiran keluar kamar dan duduk bersama teman-temannya.


"Kak, ayo duduk bersama dengan kami disini," ajak Qiran.


"Lagian kak Farhan senior kami di Pramuka kak," lanjutnya.


"Nggak ah ... eng," perkataanku terputus, karena Fakur meletakkan jari telunjuknya ke mulutku.


"Oke, kami akan kesana," jawab Fakur dengan percaya dirinya.


Kemudian dia beranjak pergi dengan menggandeng tanganku.


"Cieee kak Rani, seperti pasangan suami istri saja," celoteh salah satu teman Qiran.


"Iya tuh, kak Farhan nggak kalah juga dari kak Rani," ujarnya.


"Ish ... mulut kamu tuh," cerocos Qiran.


Tak lama kemudian terdengar suara bel berbunyi.


"Ting-ting" bunyi suara bel ditekan.


"Kak, sepertinya itu ibu, aku bukain dulu ya pintunya," ujar Qiran.

__ADS_1


"Oke," jawabku.


Tak lama kemudian, Qiran kembali bersama ibu dan Dika.


"Hallo Ibu, sepertinya ibu kedatangan tamu istimewa deh sekarang," kata Qiran.


"Oh ya, siapa?" tanya ibu.


"Eh ada nak Nita sama Salsa, udah lama disini ya?" tanya ibu.


"Iya tante, dari pulang sekolah tadi, hehe ...," jawab Nita.


"Itu loh Bu, yang duduk di samping kak Rani," jawab Qiran.


"Oh yang ganteng itu?" tanya ibu.


Aku hanya tersenyum melihat ibu.


Qiran mengangguk senang ketika ibu melihat ke arahnya.


Kemudian Fakur dan teman-temannya Qiran menyalami ibu satu-satu.


"Farhan, tante," kata Fakur sambil memperkenalkan namanya kepada ibu.


"Ini kak Farhan Bu, cowok kak Rani, terus pelatih Pramuka Qiran di sekolah," ujar Qiran.


"Dan selain itu teman-teman Qiran di sekolah," lanjut Qiran.


"Iya, ayo duduk!" suruh ibu, " ibu ke kamar dulu ya," lanjutnya.


☘️☘️☘️


Di ruang televisi, kudapati ibu dan Qiran duduk disana, segera kukumpulkan niat untuk menghampiri mereka. Sebelum menghampirinya langkahku terhenti melihat ibu dan Fakur sedang ngobrol yang sangat serius.


Entah apa yang dibicarakannya, mereka tampak serius sekali, aku takut nanti ibu bertanya yang membuat Fakur ilfeel melihatku. Aku sangat tegang sekali melihat mereka, tetapi disela-sela pembicaraannya, mereka tampak gembira dan sekali-kali tertawa.


Teman-teman Qiran, Salsa dan Nita sudah pulang sedari tadi, hanya tinggal Fakur seorang disini.


🌱🌱🌱


Tepatnya pukul 8 malam, kami semua menyudahi makan malam.


"Oh iya Tan, farhan sedari tadi belum lihat om, emang kemana oom Tan?" tanya Fakur memulai pembicaraan.


"Oh, ayahnya Rani lagi keluar kota, katanya ada bisnis yang harus diselesaikan disana," jawab ibu.


"Ooh ...," jawab Fakur paham.


"Nak Farhan gak dimarahin ya sama ayahnya pulang terlalu malam?" tanya ibu.


"Nggak, Tan. Tadi Farhan sudah izin ke nenek akan pulang kemalaman," ucap Fakur.


"Iya, Tante ngerti," ucap ibu.


"Oh iya, tante tidur dulu ya, ngantuk nih," lanjut ibu.

__ADS_1


"Oke Tan," jawab Fakur.


Semua anggota keluarga yang lain akan segera tidur. Kecuali dengan aku dan Fakur, dia masih setia menungguku di dapur, untuk menyudahi cuci piring yang tinggal sedikit lagi.


Aku masih fokus dengan piring, sedangkan Fakur masih fokus menatapku.


"Sudah, jangan dilirik entar kamu bisa gila," ledekku.


"Biarin, aku lagi bayangin jika kita udah nikah terus seperti ini setiap hari, serumah berdua, ditambah satu ranjang, mungkin aku adalah orang yang paling bahagia sedunia," gombalnya.


"Nggak usah lebay deh," ucapku.


"Nggak lebay kok," jawab Fakur dengan murung.


Akhirnya piring kotor sudah siap kucuci semua. Supaya besok pagi ibu tidak akan kewalahan, menghadapi piring-piring yang menumpuk ini, karena udah aku bersihkan dari sekarang


Kemudian, aku dan Fakur pergi duduk sebentar di ruangan tamu, dan disana tidak ada seorangpun anggota keluarga yang masih berkeliaran.


"Sepertinya semua udah tidur nih," ucap Fakur.


"Emang kenapa kalau udah tidur semua?" tanyaku.


"Nggak apa-apa, aku ingin berduaan saja denganmu, tanpa diganggu seseorang," jawabnya.


hening


Tak lama kemudian, tangan Fakur tiba-tiba menggenggam tanganku sambil menyandarkan kepalanya di pundakku.


"Tangan kamu dingin, kamu pasti kedinginan," ujarnya.


"Nggak kok," jawabku.


Tak lama kemudian, tangan Fakur seolah-olah bergerak dibelakang punggungku, dan posisi dia sekarang sedang memelukku.


Aku sangat nyaman bila dekat dengannya.


Dengan santai dia menc*um pipiku, kemudian aku membalasnya, sampai ke bagian mulutku, akhirnya kami sekarang berc*uman. Masih didalam dekapan Fakur.


"Ciuman pertamaku telah kamu ambil," ujarku.


"Syukurlah, aku adalah orang yang pertama," jawab Fakur.


"Mau mengulanginya lagi?" gombalnya.


"Aku mau yang lebih, tapi kita harus dalam keadaan sah dulu," ujarku.


"Kalau aku mau sekarang kenapa?" tanyanya.


Mendengar perkataan Fakur seperti itu, sontak ku membulatkan mata kepadanya, dan segera melepaskan pelukannya.


"Kamu harus pulang, nanti dicarikan nenek," ucapku dan mendorongnya pergi keluar.


"Hmm ... Ya udah deh, by the way, thanks for tonight, honey," ujarnya.


"Yayaya, ya udah pergi, nanti nenek nungguin," ucapku, dan kemudian Fakur pergi dengan kuda besinya.

__ADS_1


__ADS_2