
🌱🌱🌱
[Beb, ini udah siap UN, gimana?] dari Bagas.
[Gimana apanya?] balasku.
[Ya, pakai nanya lagi, yang kemarin itu?] balasnya.
[Serius aku nggak ingat] balasku.
Aku sengaja berbohong supaya dia tidak mengingatkanku lebih dalam lagi.
[Udah, lupakan!] balasnya.
"Syukurlah lu mau melupakan itu dengan mudahnya," batinku kemudian tertawa keras.
Mendengar tawaku yang menggelegak seperti petir, membuat ibu dan ayah menghampiri kamarku.
"Hey, udah malam, ngapain tertawa seperti itu?" tanya ayah.
"Biasa Ayah, anak mudah," jawabku dengan percaya dirinya.
"Oke deh, Ayah juga pernah seperti itu, ketika jatuh cinta kepada ibumu ini," goda ayah kemudian melirik ke arah ibu, ibu terlihat malu.
"Ya Yah, Rani tidur dulu," ucapku.
Kemudian ayah dan ibu pergi, disela - sela perjalanan masih terdengar suara ayah merayu ibu dengan gombalan khas - nya.
"Dasar ayah, masa mudanya belum kelar, hehehe," batinku.
"Oh iya bagas,aku lupa," batinku mengingatkan Bagas.
__ADS_1
[iya] balasku kepada Bagas.
[Benarkah kamu tidak mengingatnya sedikit pun?] balasnya.
[Mengingat sedikit pun? emang ada apaan sih?] balasku.
Kemudian Bagas tidak membalas pesan dariku, padahal di dinding What*App - nya masih terlihat 'online'.
"Mudah - mudahan lu gak akan umbar ini lagi," batinku.
🌱🌱🌱
"Rani, kamu udah daftar kuliah?" tanya ayah mengawali sarapan.
"Udah Yah, kemarin sama Salsa dan Nita," jawabku.
"Kamu ambil jurusan apa?" tanya ayah.
"Kami bertiga ambil jurusan bisnis dan bahasa Inggris, yah," jawabku.
"Kak Rani cocoknya jadi ibu rumah tangga aja kak, lagian kakak pandai masak," tutur Dika dengan tampang polosnya.
Mendengar perkataan polos Dika, sontak semuanya tertawa dengan senangnya.
"Eh kamu kok tertawa sih? yang kita ketawain itu kamu, dasar!" gerutu Qiran ke Dika.
"Biarin, asal semua senang," ucap Dika.
"Oiya, Dika kan ngomong apa adanya, kok bisa sih semuanya tertawa?" tanya Dika.
"Udah, udah, habiskan sarapanmu, nanti bisa telat ke sekolah," lerai ibu.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Pagi yang cerah, udara yang segar, ditambah suara murid - murid yang lain sedang berbicara satu sama lain membuat suasana sekolah menjadi ramai, tepat di depan kelasku seseorang telah menyapaku dengan suara berat khasnya.
"Hay Rani," sapa seseorang itu.
"Hay," jawabku melirik siapa orang yang telah menyapaku itu.
Lagi - lagi dia, Fiyan selalu membuatku risih jika dia berada di dekatku.
Aku tidak mau jika Nadya melihat kami berdua. Segera ku langkahkan kaki untuk pergi, tetapi Fiyan dengan cepat menarik tanganku.
"Rani, aku hanya menyampaikan pesan dari bagas, bahwa dia mau kamu ke belakang sekolah saat ini," ucap Fiyan.
"Emang dia siapa aku?" tanyaku.
"Aku enggak peduli, aku hanya tukang pos - nya untuk menyampaikan pesan ini," ucapnya.
"Kamu kok mau sih?" tanyaku.
"Ya karena dia temanku, sini ikut aku!" lanjutnya kemudian berjalan.
"Oke!" jawabku kemudian mengikutinya.
"Oh iya Fiyan, gimana hubungan kamu dengan Nadya sekarang? udah baikkan kan?" tanyaku.
"Masih sama seperti dulu," jawabnya.
Tak lama kemudian, kami sampai di tempat yang Bagas inginkan.
Tapi anehnya, tidak ada Bagas disana. Kemudian Fiyan mencari Bagas di sudut - sudut belakang sekolah.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seseorang telah menarik tanganku dengan kasar dan membawaku ke gudang sekolah.
"Bagas," ucapku.