Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 26 supir taksi genit


__ADS_3

" Kak, bangun kak! cepat bangun kak! nanti kakak terlambat pergi sekolahnya" ucap Qiran.


" Udah jam berapa?" tanyaku.


" Jam enam kak" jawab Qiran.


" Kakak nggak pergi sekolah?" tanyanya.


" Kenapa nggak bangunin kakak sedari tadi?" tanyaku dengan suara lemah.


" Kakak kenapa? kakak sakit? wajah kakak pucat sekali" tanya Qiran, kemudian mendekatkan telapak tangannya ke keningku.


" Astaga! badan kakak panas" ujar Qiran.


" Qiran panggil ibu dulu ya kak!" ucapnya kemudian pergi.


Aku tidak bisa bangkit dari tempat tidurku, badan ini serasa berat sekali. Ditambah lagi badanku sangat panas, dan kepala yang sangat pusing.


Tak lama kemudian datanglah Qiran bersamaaan dengan ibu juga Dika.


" Nak, kamu kenapa? kamu pucat nak" tanya ibu, kemudian mendekatkan telapak tangannya ke keningku dan ke pipiku.


" Astaga panas sekali badanmu nak" ucap ibu.


" Ke-kepala Rani sa-sakit bu, pusing" ucapku dengan terbata-bata.


" Tunggu sebentar ya! ibu mau cari taksi dulu, kita pergi ke rumah sakit saja" ujar ibu.


" Rani nggak mau ke rumah sakit bu, Rani takut disuntik" kataku kepada ibu, dan ditambah air mata yang jatuh ke pipiku.


" Jangan gegabah nak! entar kamu nggak sembuh-sembuh mau?" gertak ibu.


" Ti-tidak mau bu, Rani mau sembuh" ucapku.


" Makanya dengarkan ibu!" gertaknya.


Kemudian ibu pergi keluar dari kamarku dengan sedikit berlari, mungkin ibu ingin mencari taksi atau mau nelvon langganan taksinya.


" Ini kak, minum dulu!" tawar Qiran, memberikan gelas berisi air putih ke arahku.


" Iya" jawabku, dan meminum air putih tersebut.


" Qiran dan Dika nggak pergi sekolah?" tanyaku kepada mereka.


" Nggak ah kak, lihat kak Rani seperti ini Dika jadi sedih. Dika jagain kak Rani saja ya" ucap Dika


" Iya betul kata Dika kak, kami jagain kak Rani saja di rumah" Qiran menimpali.


" Terimakasih ya adik-adikku" ucapku kepada mereka.


" Sama-sama kak" jawab mereka.


" Dika sayang kakak Rani" ujar Dika, kemudian memelukku dengan erat.


Tak lama kemudian ibu datang, dengan nafas yang ngos-ngosan.


" Ayo nak, kita pergi ke rumah sakit sekarang! taksi sudah menunggu" kata ibu.


" Ibu, Rani nggak bisa bangkit, badan Rani rasanya berat bu" ucapku.


Kemudian ibu mendekat dan membimbingku untuk bangkit dari tempat tidur.


" Ayo! ibu bantuin berdirinya" ucap ibu.


" Sini, biar Qiran bantuin bu!" tawar Qiran.


" Nggak usah nak, kamu pergi sekolah ya, naik angkutan saja hari ini bersama Dika, karena ibu jagain kakak kamu di rumah sakit" terang ibu.


" Tidak mau bu, kami ikut!" ujar Dika.


" Kami mau jagain kak Rani juga di rumah sakit" lanjut Dika.


" Ya sudah, ganti bajunya cepat" jawab ibu.

__ADS_1


Kemudian Dika dan Qiran berlari ke kamar mereka masing-masing, sementara ibu masih membimbingku menuju dimana taksi berada.


Kemudian kami sudah masuk ke dalam taksi, dan ibu menyandarkan kepalaku ke sandaran kursi taksi tersebut.


" Pak, saya tinggal dulu sebentar ya pak, saya mau ambil barang-barang yang tertinggal dulu di rumah" pamit ibu ke supir taksi.


" Iya mbak, silahkan!" jawab supir taksi.


" Nak, ibu ke rumah dulu sebentar! nanti Qiran dengan Dika sebentar lagi datang" pamit ibu kepadaku.


" Jangan lama-lama ya bu" ucapku.


" Iya, ibu cuma sebentar" ucap ibu, kemudian pergi meninggalkanku bersama supir taksi.


" Adek yang sakit?" tanya supir taksi tersebut kepadaku, supir taksi tersebut masih tergolong sangat muda, badannya tegap, dan memiliki kulit yang sedikit mencolok dibandingkan supir taksi yang lainnya.


Kalau dilihat-lihat umurnya dengan umurku masih berjarak 5 tahun.


Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.


" Cepat sembuh ya dek" ujar supir taksi tersebut, kemudian melontarkan senyuman kepadaku.


Aku hanya mengangguk kepadanya.


" Dasar supir taksi genit! mudah-mudahan istrinya tahu kerjaan suaminya diluar sana supaya bisa kena hajar nih orang." batinku.


Tak lama kemudian datanglah Qiran dan Dika menghampiriku dengan nafas yang ngos-ngosan karena berlari. Kemudian mereka berdua duduk di sampingku.


" Kak, maaf kami lama" ujar Qiran.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman, karena mulut ini tidak sanggup untuk menggeluarkan kata-kata.


Lima menit kemudian ibu datang dengan posisi handphone di telinganya. Seperti sedang menelvon dengan seseorang di seberang sana.


" Iya yah, kami ke rumah sakit dulu ya, assalamualaikum" ucap ibu kepada seseorang yang dia telvon.


Kemudian ibu masuk ke dalam taksi dan duduk di kursi depan.


" Ibu, yang nelvon tadi ayah ya?" tanya Dika.


" Iya nak" jawab ibu, dan membalikkan badannya ke arah kami.


" Dia sangat khawatir kakak kamu sakit" lanjut ibu.


" Dan dia telah mencarikan rumah sakit yang terbaik buat kakak kamu, supaya kakak kamu bisa sembuh dengan cepat" kata ibu, kemudian dia membalikkan badannya ke depan.


" Kakak tidur saja ya, ini bersandar saja di pundak Qiran kak" tawar Qiran.


Kemudian aku menuruti tawaran Qiran.


Lima belas menit kemudian kami sudah sampai di rumah sakit, disana aku langsung ditidurkan di brankar dorong, dan langsung masuk ke ruang Unit Gawat Darurat ( UGD ).


Perawat di rumah sakit langsung memakaikan aku infus dan menyuntikkan suatu cairan di tanganku.


Pandanganku mulai buram, dan aku tidak tahu apa-apa lagi.


..


" Kakak?" suara seseorang terdengar jelas olehku.


" Dika?" jawabku


Kemudian Dika berlari.


" Ibu, kakak sudah sadar. Ayo bu ayo!" panggil Dika.


Kemudian ibu dan Dika menghampiriku.


" Alhamdulillah, kamu sudah bangun nak, kamu tidurnya nyenyak sekali, sudah malam gini baru bangun" ucap ibu.


" Apa? malam?" tanyaku kepada ibu, kemudian aku melirik kanan dan kiri untuk mencari dimana letak jam dinding. Dan aku mendapatinya di atas pintu masuk di ruanganku.


Dan benar ibu bilang, sekarang sudah malam. Jarum jam menunjukkan jam 20.45 malam.

__ADS_1


" Hmm lama juga Rani tidur bu" ucapku.


" Mungkin itu efek obat yang diberi dokter nak, karena kamu demam disebabkan kurang tidur, dan kelelahan juga" jelas ibu.


" Iya bu" jawabku.


" Dan satu lagi, kamu terlambat makan. Itulah sebabnya" gertak ibu.


" Kamu kan sudah tahu nak, bahwa kamu itu sakit mag, tidak bisa terlambat makan, masih diulangi juga dulu" lanjutnya.


" Ibu, jangan marahin kak Rani ya bu, kasihan kak Rani, dia kan sakit" ucap Dika.


" Ya sudah, kamu lapar kan?" tanya ibu kepadaku.


" Ini ibu suapin, tadi ibu suruh Qiran beli bubur ayam keluar, ini makan ya" lanjut ibu.


" Iya bu" jawabku.


Suapan demi suapan bubur ayam yang disuapi ibu sudah habis olehku. Rasanya badan ini segar kembali karena perut sudah terisi. Dan setelah itu ibu menyuapiku obat yang berbentuk cairan seperti sirup kepadaku.


" Ini minum nak, tadi ibu beli obat ini di apotik, karena ibu tahu kamu tidak akan suka obat kapsul apalagi rasanya pahit, makanya ibu belikan obat sirup ini, tapi ini sesuai resep dokter yaa" ucap ibu.


" Ibu tahu saja, hehe" jawabku.


" Oh iya nak, tadi nak Fakur, Nita dan Salsa mampir kesini" ujar ibu.


" Terus kemana mereka sekarang bu?" tanyaku.


" Sudah pulang, kamu nih tidurnya lama sekali, makanya mereka pulang dulu. Mereka pulang sekolah langsung kesini" jelas ibu.


" Yah, rugi deh aku bu" ujarku.


" Nak Farhan sudah tiga kali mampir kesini dan kamu masih tidur juga, dia pulang sebelum sholat isya tadi" jelas ibu.


" Yah, baru pulang deh bu? kan nggak suka deh" ujarku


" Rugu bertubi-tubi ini mah jadinya Bu" lanjutku.


" Lah kamunya masih tidur, salah siapa?" tutur ibu.


" Salah dokter tuh bu, dia kasih Rani obat tidur" jawabku.


" Sudah deh, nanti didengar dokternya bisa marah dong dia, bisa-bisa kamu di suntik mati sama dia, hehe" canda ibu, kemudian kami tertawa lepas.


Kemudian terdengar seseorang berjalan ke arah kami seperti ingin memasuki ruangan ini.


" Bu, itu sepertinya dokter mau kesini, mungkin dia dengar obrolan kita, dan ingin menghampiriku kesini kemudian memberikanku suntik mati bu, ibu aku takut" bisikku.


" Ah ngeyel kamu ini, mana mungkin" jawab ibu.


Kemudian masuklah seseorang itu ke ruanganku dirawat. Jantungku berdetak dengan kencangnya, rasa cemas menghampiriku teringat ucapan ibu tadi, bahwa dokter akan memberiku suntik mati karena aku telah menyalahkan dia yang memberiku obat tidur. Dan dwarr..


" Ya elah Qiran, aku kira tadi siapa" ucapku


" Hampir copot nih jantung" lanjutku.


" Kakak sudah sadar? Alhamdulillah" ujarnya.


" Emang kakak kira tadi siapa? kak Farhan?" tanyanya.


" Pangeran tak bersayapku" jawabku kemudian tertawa.


" Oh iya kak, kak farhan baru pulang sebentar ini, katanya neneknya sakit, dan di rawat di rumah sakit yang berbeda dengan kakak" jelas Qiran.


" Benarkah?" tanyaku.


" Iya kak" jawab Qiran.


" Pasti Fakur sangat terpukul sekali saat ini" batinku.


" Maafkan aku Fakur, aku tidak ada di sampingmu saat ini, maafkan aku sayang" batinku.


Tak terasa butiran bening membasahi pipiku.

__ADS_1


__ADS_2