
🌱🌱🌱
"Ibu ...," teriak Qiran.
"I-ibu kenapa Qiran?" tanyaku terbata - bata.
"Ibu jatuh dari kamar mandi kak," ucap Qiran.
"Ayo kita bawa ibu ke kamarnya, Nit, Sal, bantu kami ya!" ucapku.
"Oke," jawab mereka bersamaan.
Dengan segera kamu membopong ibu ke kamarnya, dengan segera ku olesi minyak kayu putih ke keningnya.
"Ibu sudah sadar kak," ucap Qiran.
"Alhamdulillah,"
"Ibu kenapa kok bisa seperti ini?" tanyaku.
"Ibu tadi pusing dan penglihatan ibu semua samar - samar, dan ibu tidak tahu apa - apa lagi," jelas ibu.
"Ya ampun ibu, ini karena ibu kerja yang nggak ada berhentinya, ibu banyak - banyak istirahat ya," ucapku.
Ibu hanya mengangguk tanda mengiyakan.
🌱🌱🌱
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore.
"Rani, udah jam 4 nih, kami pulang ya," pamit Nita dan Salsa.
"Oke, hati - hati ya!" jawabku.
"Assalamualaikum," pamit mereka.
"Waalaikumsalam," jawabku.
"Sering - sering main kesini ya kak," Qiran menimpali.
__ADS_1
"Oke Qiran," jawab mereka.
🌱🌱🌱
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Ku tatap layar pipihku itu, tidak ada tanda - tanda akan berbunyi.
Sepintas ku teringat akan Fakur. Tak sengaja ku tekan tombol ganggang telepon, artinya aku akan menelepon Fakur.
Tetapi ku dapati nomornya sedang sibuk.
Kemudian ku kirimi pesan kepadanya.
[Teleponan sama siapa tuh? sibuk ya!]
Diam, tidak ada balasan.
Karena bosan menunggu dan tidak ada balasan, kemudian ku hidupkan data seluler, dengan segera kubuka aplikasi hijauku.
Ternyata ketika kubuka, ada sebanyak lima pesan dari nomor misterius yaitu nomornya Fiyan.
Melihat isi pesan dari Fiyan, aku merasa risih.
[Apa salahnya, aku ingin berteman saja] balas Fiyan.
[Oke deh] balasku.
Di waktu yang bersamaan, seseorang meneleponku di panggilan video.
"Hay beb, apa kabar?" sapa seseorang.
"Baik," jawabku memasang muka cemberut.
"Kok muka kamu gitu sih? nanti cantiknya hilang," ucapnya.
"Iya, iya," jawabku dan mengukir senyum sekilas.
"Nah, gitu dong, kan cantik," ucapnya.
"Aku nggak sabar nunggu kamu siap UN," lanjutnya.
__ADS_1
Mendengar itu, segera ku keluarkan bakat aktingku.
"Iya ada apa Bu? iya bentar lagi aku kesana," ucapku layaknya berakting, kemudian mengambil sehelai plastik dan kertas.
"Kamu bilang apa Bagas?" tanyaku sambil meremukkan plastik dan kertas tadi.
"Aku tidak dengar, apa? Bagas?" tanyaku dengan suara sedikit teriak.
Karena terdengar berisik, bagas mematikan panggilan video tersebut secara tiba-tiba.
"Yes!" sorakku.
Kemudian dengan segera ku matikan data seluler, supaya Bagas tidak menelepon lagi, dan ku alihkan ke dinding panggilan di aplikasi hijauku, ternyata Fakur sudah menelvonku sebanyak lima kali.
"Rasain tuh, akhirnya kamu ngerasain apa yang aku rasakan," batinku.
Dan ada beberapa pesan masuk dari Fakur.
[Maaf kak, tadi bibi aku di Jakarta telepon, jadinya nomor aku sibuk]
[Maaf kak, maaf yaa, pliss ....]
[Tuhkan nomornya sibuk]
[Aku dicuekkin]
[Telepon aja teross]
[Hehe ... Maaf. Kan kamu yang mulai] balasku.
[Aduh ... kakak. Kalau nomor aku sibuk, bukannya telponan dengan perempuan lain, bisa jadi dengan keluarganya yang jauh] balasnya.
[Mana tahu kamu selingkuh, awas ya kalau selingkuh!] balasku.
[Siap, bosku] balasnya.
[Yaudah, aku tidur dulu, kamu tidur juga!] balasku.
[Iya sayang, good night] balasnya.
__ADS_1
Aku tidak membalasnya, segera ku letakkan handphone di atas meja belajarku, dan segera untuk tidur ....