
🌱🌱🌱
Ketika hendak memasuki kawasan parkiran, ternyata disana sudah ada Fiyan dan Nadya. Tanpa melihat kearah mereka, dengan segera ku letakkan motorku disana, tetapi kendaraan yang banyak membuatku sulit untuk memarkirkan motor disana.
Tanpa kusadari, ternyata Fiyan mendekatiku dengan menawarkan bantuan.
"Rani, lagi kesulitan ya?" tanya Fiyan.
"Sini aku bantu," tawarnya dengan senyum yang terukir diwajahnya.
"Hm, a-anu ... nanti takut ngerepotin," jawabku terbata-bata dan kemudian melirik kearah Nadya, tampak muka Nadya sangat masam melirik kearahku.
"Enggak akan kok," jawabnya dengan ramah.
"Mm, i-iya deh, makasih," jawabku terbata-bata.
"Nah gitu dong, sini!" katanya.
Dengan segera kuberikan kemudinya ke Fiyan, tampak dari sorot mata Nadya melambangkan kebencian yang sangat mendalam kepadaku.
Akhirnya Fiyan telah selesai memarkirkan motorku di parkiran, segera kuhampiri dia untuk mengambil kunci. Tetapi nihil, kakiku tersandung batu dan reflek membuatku terjatuh ke pelukan Fiyan, sontak dengan ini membuat Nadya semakin terbakar cemburu.
****
*adegan dewasa, hehe*
"Ma-maaf," jawabku kemudian bangkit dari pelukan Fiyan, segera merebut kunci motorku dari Fiyan.
Fiyan hanya diam, dan segera merapikan seragamnya.
"Aku ke kelas dulu, by the way makasih ya bantuannya," lanjutku kemudian pergi meninggalkan mereka.
"Sama-sama, kita samaan ya, kan lokal kita searah," kata Fiyan.
"I-iya," jawabku terbata-bata.
Tak terasa seluruh mata melirik kearah kami dengan tatapan yang sinis, sempat terdengar seseorang membicarakanku dari belakang.
__ADS_1
"Itu Rani ya? dasar, tukang tikung, pacar sahabat sendiri diembat,"
"iya, pelakor itu,"
"Nggak ada yang lain apa? masa punya teman di embat,"
Ocehan demi ocehan aku dengar, tetapi tidak dengan Fiyan, sepertinya dia tidak memperdulikannya.
"Kenapa Fiyan santai aja ya? apa dia tidak mendengarkannya? padahalkan sangat jelas terdengar oleh telingaku?" batinku.
"Dan kenapa Fiyan nggak bareng dengan Nadya? padahalkan Nadya pacarnya, aku jadi bersalah sama nadya," batinku.
Kami sudah memasuki kawasan kelasku, segera kumasuk ke dalam kelas tanpa memikirkan Fiyan yang sedari tadi disampingku.
(kelas)
"Ciee ... yang barengan," celoteh Salsa.
"Cuma kebetulan aja tadi," jawabku.
"Husstt ...," jawabku menghentikan.
Tak lama kemudian, terdengar teriakan seseorang yang sangat aku kenal.
"Aagghhhh ... astaga, di kelas kita ada tukang tikung guys," celoteh Yoga.
"Siapa? siapa?" tanya Cindy tak kalah keponya.
"Lihat ini deh," jawab Yoga sambil melihatkan sebuah akun yang bernama Nadya Paramitha.
"Emang ada apaan sih?" tanya Salsa.
"Lihat dulu statusnya!" jawab Yoga.
"Astaga, nggak mungkin lu Rani," sanggah Cindy kepadaku.
"Ada apa?" tanyaku.
__ADS_1
"Ternyata lu nikung Nadya, pantesan lu jalan bareng Fiyan," jawab Cindy.
"Mana coba gue lihat," jawabku.
Dan ternyata benar, disana dia memposting fotoku dipelukan Fiyan, dengan caption 'Hallo guys, ini perempuan tukang tikung, kalian tau kan guys, alasan gue nggak mau baikan dengan dia, ya inilah alasannya.'
Tak lama kemudian, terdengar seseorang memaksa masuk kelas dan membuat onar dengan mengacak-acak meja dan kursi di kelasku
"Woi lu tukang tikung, perempuan jal*ang," teriakan seseorang.
"Ada apa lu?" teriak Salsa.
"Gue nggak ada urusan sama lu," menunjuk kearah Salsa, "mana teman lu yang ja*ang itu?" tanyanya.
"Siapa yang lu bilang ja*ang?" tanya Nita.
"Teman lu yang sok suci itu," sambil menunjuk kearahku, "dia sengaja di depan gue meluk cowok gue, dasar tukang tikung," lanjutnya.
"Bohong!" jawabku.
"Apa lu? dasar cewek ja*ang," Nadya menimpali.
Bel masuk berbunyi, sebagian masih didalam kelasku menyaksikan kegaduhan ini.
"Sekarang lu dan teman-teman lu pergi dari sini," ujar Salsa.
"Oke gue pergi, tapi tunggu saja balasan gue, dasar cewek ja"ang," ucap Nadya.
"Oke gue tunggu!" jawab Salsa.
"Heh, gue nggak ada urusan sama lu," ucap Nadya sambil menunjuk kearah Salsa.
"Urusan Rani jadi urusan gue, jadi gue tunggu balasan dari lu, dasar cewek mu*afik!" jawab Salsa.
Nadya cs dan teman-teman yang lain sudah pergi, sontak semua orang hanya menatapku seperti ingin menanyakan sesuatu. Tetapi mataku menangkap sosok seseorang di jendela kaca, seseorang yang masih kukenal, tetapi sosok tersebut hanya memperlihatkan punggung dan segera berlalu meninggalkan kelasku.
Entah siapa? yang pastinya dia mendengar tuduhan Nadya yang dilontarkan kepadaku.
__ADS_1