Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 2 Sekolah


__ADS_3

Ayah menepikan mobil tepat di depan sekolahku. Karena sekolah Dika dan Qiran juga terletak tak jauh dari sini, kami turun bersamaan. Setelah kami berpamitan Ayah segera berlalu.


“Langsung sekolah kamu! Jangan nongkrong-nongkrong gak jelas!” Kudorong bahu Qiran sambil terkikil usil.


“Yeee!” Adikku itu mendelik, kemudian berlari kecil menuju sekolahnya yang terletak di seberang sekolahku.


---


Ketika hendak menuju ke kelasku, aku harus melewati kelasnya Bagas terlebih dahulu. Sebenarnya ada jalan lain tapi aku terpaksa melewati jalan ini, karena di jalan yang biasanya aku lewati terdapat sekumpulan siswa yang laki-laki.


"Mudah-mudahan Bagas tidak melihatku," batinku dan menunduk sambil berjalan dengan kencangnya.


Laki-laki yang memiliki karakter keras kepala dan sedikit lembut, sebut saja namanya Bagas. Dia terkadang humoris dan serius. Berbadan kurus, putih, dan tinggi. Gayanya bisa memikat semua wanita tetapi tidak denganku, disebabkan karena aku sempat melihat dia dan teman-temannya berpesta minuman keras di sebuah diskotik dekat dengan sekolah. Ketika itu, aku sedang ada kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (PERSAMI). Dan Bagas sendiri tidak hadir waktu itu.


Untuk saat ini, aku tidak mau bertemu dengan Bagas, karena sejak pertama masuk Sekolah ini dia selalu mendekatiku, dan aku sangat risih dibuatnya. Sampai sekarang pun dia selalu mendekatiku, dan aku hanya menghindar darinya.


Aku takut dia nekat seperti dulu, pernah sekali dia menyatakan perasaannya kepadaku, dia memberikan sekuntum bunga Mawar yang berwarna putih kepadaku.


Terlihat dari tampangnya dia sangat serius ingin menjadi pacarku, tapi aku menolaknya dengan alasan ingin fokus sekolah dulu, bahkan dia tidak mengetahui bahwa aku sudah mengetahui bagaimana sifat asli dia yang sesungguhnya.


(Flashback)


Tanpa basa-basi langsung saja aku jawab.


"Maaf Bagas, jawabanmu akan aku jawab ketika kita sudah siap Ujian Nasional nanti, dan sekarang aku ingin fokus sekolah dulu, sekali lagi maaf," jelasku tanpa basa basi dan segera berdiri.

__ADS_1


Padahal rasanya ingin menjawab tidak, tapi mulut ini menolak untuk mengatakannya, takut Bagas akan kecewa dan benci nantinya kepadaku. Jadi aku jawab saja seperti itu.


Memang saat ini tidak ada niat untuk pacaran.


Seketika itu, Bagas memegang tanganku


"Aku mohon ... jangan membuatku terlalu lama menunggu," ujar Bagas.


"Karena siap UN itu waktu yang sangat lama bagiku, dan sekarang kita masih kelas sepuluh, dan perasaan ini bisa saja berubah," lanjutnya.


"Biarin, emang aku pikirin apa?" batinku.


Aku hanya menghiraukannya, kemudian pergi.


Jahat memang jahat, tapi harus aku lakukan demi menghilangkan rasa malu dan risih yang kualami saat ini.


Mereka adalah Nita dan Salsa.


Nita orangnya yang pendiam, cantik, putih dan berbadan ideal layaknya pramugari, memilki jiwa pertemanan yang kuat, selalu perhatian, dan dia juga pendengar yang baik. Gayanya yang sederhana padahal ayahnya mempunyai pabrik sepatu dan sudah mempunyai cabang di setiap daerah, dia tidak sombong dan sangat rendah hati.


Salsa orangnya yang tidak mau berhenti bicara, cantik, baik, ramah. Beda dengan Nita dia memiliki badan sedikit berisi dan juga pendek. Gayanya juga sederhana Nita dan juga tidak sombong, padahal ayahnya mempunyai restoran Bintang Lima di Jakarta dan ingin membuka cafe di sekitaran kota ini. Dia juga tidak pelit, selalu memberi uang secara cuma-cuma kepada siswa lain, tak heran orang mengira dia sebagai uang berjalan.


(flashback off)


Dan akhirnya, kelas Bagas berhasil kulewati.

__ADS_1


"Yes dia tidak melihatku," batinku.


Ketika masuk ke dalam kelas. Tetapi apalah dayaku, dia sudah duduk manis di kursi guru tepatnya di kelasku sendiri yang sudah dikerubungi murid perempuan yang lain.


"Ish ... dasar buaya," gerutuku.


"Sudah bersusah payah mengendap-endap berjalan dari lokalnya, malah dia ada disini," batinku dengan ekspresi yang sudah berubah seratus derajat.


Aku hanya menghiraukannya dan langsung menuju ke tempat dudukku, menganggap seperti tidak melihat siapapun disana. Sekilas kumelihat ke arah Bagas dan refleks dia melihat kearah kujuga.


"Yassalam ... kenapa mata ini melihat ke arah Jin Tomang itu, jangan kesini, jangan kesini!" gerutuku dalam hati.


Dan ternyata dia bangkit dari tempatnya, lalu berjalan mendekat kemudian duduk di kursi depanku, kursi yang semula mengarah ke depan dia putarkan menghadap ke arahku, dan posisi kami sekarang berhadapan.


Kuperhatikan anak-anak perempuan yang duduk mengerubungi Bagas menatap kearahku dengan tatapan yang sinis.


"Hay Rani, apa kabar? kamu tidak rindu dengan ku? aku sangat merindukanmu, semalam saja tidak melihat dirimu rasanya hatiku sangat dilema," katanya dengan percaya diri.


"Apa-apaan kamu ini Bagas, pergi sana! kamu tidak malu dilihatin anak yang lain?" tanyaku agak kesal.


"Tidak apa-apa, asal bersamamu aku tidak akan malu," katanya dengan senyum sumringah.


Aku yang mendengarnya hanya diam.


"Tidak ada hentinya ni orang dibilang siap UN ya siap UN," gerutuku dalam hati.

__ADS_1


Seseorang teman kelasku yang sedang duduk di belakang mendengar perkataan Bagas, dan dengan segera ....


♥️mohon krisarannya ya semua♥️


__ADS_2