
🌱🌱🌱
"Fiyan," ucap seseorang yang menabrakku.
Ternyata Rani telah menabrakku dari depan dia sangat terburu - buru. Ditambah matanya yang sembab dan merah seperti sudah menangis semalaman.
Entah apa yang membuat Rani mau ikut denganku, biasanya dia sangat anti dekat denganku.
Sepanjang perjalanan aku ingin bertanya apa penyebab dari matanya yang sembab dan merah itu, tetapi aku tidak ada keberanian untuk menanyakannya.
Aku sempat bertanya hubungannya dengan adik kelas itu, tetapi dia hanya diam dan murung. Untung saja aku mempunyai kelebihan bisa membaca pikiran orang, jadi aku bisa mendengar apa jawaban dari Rani atas pertanyaanku itu.
Rani menjawab bahwa aku telah mengungkit kembali masa lalunya itu, dia sekarang berusaha untuk melupakan seseorang yang pernah singgah dihatinya.
Untung saja, masih ada sedikit peluang bagiku, tetapi apa yang membuat mereka putus? dan kenapa Rani bisa sesedih ini? apa Rani sangat mencintai adik kelas itu? dasar! obat apa yang dikasih oleh adik kelas itu kepada Rani.
Tak lama kemudian, kami sampai di depan pintu ruangan ketua BEM, disana hanya dia seorang dan tak ada siapa, mungkin ini pembicaraan yang sangat penting.
"Assalamualaikum, ada apa kak?" tanyaku yang baru masuk ke dalam ruangan.
"Kamu memang calon ketua BEM yang patut diteladani, janji jam segitu kamu datang jam segitu juga," ucap ketua BEM kemudian bertepuk tangan.
Aku tersenyum malu mendengar pujian ketua BEM.
"Kamu tahu kenapa saya menyuruhmu datang kesini?" tanya ketua BEM.
__ADS_1
"Tidak, kak," ucapku.
"Karena saya senior semester akhir di kampus ini, dan sudah menjabat sebagai ketua BEM, selama saya menimba ilmu di kampus ini belum ada satupun saya temukan pria gentleman seperti kamu," ucap ketua BEM.
"Dibanding dengan yang lain, kamu sangat bijaksana dan berani," ucapnya.
Aku hanya diam mendengarkan penjelasan dari ketua BEM.
"Dan kamu sangat setia," lanjutnya.
"Jadi, sekarang pertanyaan saya, maukah kamu menggantikan posisi saya menjabat sebagai ketua BEM ini?" tanyanya.
"Jika Kakak memercayainya kepadaku, aku akan sedia menerimanya," ucapku mantap.
"Tapi ada syaratnya," lanjutnya
☘️☘️☘️
BACK TO STORY
"Aduh, Fiyan lama banget sih, dasar laki - laki kalau udah ketemu sama temannya pasti ngegosip," ledekku.
"Fiyan tak kunjung keluar juga nih, dia ngapain yah di dalam?" gerutuku dalam hati.
"Apa dia dimarahin ketua BEM?"
__ADS_1
"Apa dia di skor ya sama ketua BEM."
"Nggak mungkin, Fiyan kan anak baik - baik."
"Jadi bingung dia ngapain di dalam."
"Aduhh ...."
Tak lama kemudian, aku mendengar suara kegaduhan di dalam, dan suara sesuatu yang jatuh ke lantai seperti dihempaskan.
"Eh ada apa di dalam?" ucapku.
"Apa mereka bertengkar," batinku.
"Ah nggak ada, aku harus masuk!"
Dan benar apa yang ku khawatirkan terjadi, Fiyan dan ketua BEM membuat kegaduhan di dalam ruangan, semua alat - alat praktek berantakan, bagan perangkat BEM sudah robek berkeping - keping oleh mereka.
"Berhenti! sudah sudah!," leraiku.
Mereka masih tetap adu kekuatan, wajah mereka satu persatu lebam dan bersimbah da*ah, almameter yang dikenakan ketua BEM juga penuh dengan bercak da*ah.
Aku berusaha untuk menghentikan mereka, tetapi apa daya ku mereka sangat kuat dan kokoh satu persatu.
Aku segera keluar untuk mencari bantuan, tetapi nihil tidak kutemukan mahasiswa atau orang lain yang lewat kesini.
__ADS_1
Ku kumpulkan semua keberanian untuk menghentikan mereka sekali lagi. Fiyan berhasil kuhentikan, tetapi tiba - tiba ketua BEM mengarahkan tenjunya, dan kemudian ....
Bersambung ....