
"Fakur? itu benar kamu?" tanyaku dalam hati.
Ya ... dia Fakur, dia yang menatapku sedari tadi. Rindu yang sudah lama kubedung ini, kini sudah menemui tuannya.
Dengan segera ku mendekatinya.
"Fakur, kamu sudah kembali?" tanyaku.
"Apa? Fakur?" tanyanya dengan sedikit cuek, dan aku menggelengkan kepala tanda mengiyakan.
"Dasar wanita aneh," jawabnya dengan pelan tetapi masih bisa didengar oleh telingaku.
"Kamu nggak ingat aku lagi? aku Rani," ucapku dengan suara yang mulai berserak.
"A-aku nggak kenal, permisi!"jawabnya kemudian pergi meninggalkanku.
Tak terasa air mata jatuh tepat mengenai pipiku, tak menyangka Fakur akan seperti itu kepadaku, dia tidak mengenaliku sama sekali.
Tiba-tiba muncullah tangan seseorang yang memberiku sehelai tissue, tepat berada di sampingku
"Ini untukmu," ujar seseorang tersebut.
Reflek, kufokuskan penglihatanku ke pemilik tangan tersebut, kemudian mengambil tissue itu dari tangannya.
Aku tidak bisa melihat wajah laki-laki tersebut dengan jelas, karena cahaya matahari menghalangi penglihatanku, justru membuat mataku menjadi sulit untuk dibukakan dengan segera ku kucek mata ini, dan tak lama kemudian laki-laki tersebut menghilang.
Tapi penglihatanku fokus terhadap luka bakar di tangan laki-laki itu, luka bakar yang tampak baru.
Aku mencoba mencarinya ke segala arah, tak ditemukan laki-laki seperti dia.
"Hey, beb. Lagi cari aku ya?" suara seseorang seperti aku kenal.
__ADS_1
"Nggak!" jawabku cuek, karena aku tahu bahwa suara itu adalah suara Bagas.
"Ih jangan gitu dong," ucapnya kemudian mendekat kearahku.
Aku hanya diam. Kemudian beranjak pergi meninggalkannya.
"Sok jual mahal!" gerutu seseorang yang masih terdengar oleh telingaku sendiri.
🌱🌱🌱
Tepat di bawah pohon yang sangat rimbun daunnya, ditambah udara yang segar. Kusandarkan punggung ini ke batang pohon tersebut.
"Sungguh sejuk disini," kataku, dengan mata yang sedikit tertutup.
Tak lama kemudian, seseorang dengan sengaja menjatuhkan ranting pohon ke arah wajahku.
"Siapa diatas?" tanyaku, tanpa melihat keatas.
"Turunlah! jika kau tidak mau berurusan denganku," suruhku dengan nada kesal.
Mendengar suara tersebut, rasanya hati ini mulai panas, "Siapa kau?" tanyaku kemudian melihat keatas. Nihil, tidak ada seseorang diatas, kujelajahi bagian-bagian yang tertutup daun hasilnya tetap sama, tidak ada siapapun.
Bulu romaku serasa berdiri sendiri, dengan segera kuberlari menuju kelas.
"Kamu kenapa lari-lari seperti dikejar setan gitu, Rani?" tanya Nita.
"Ck ... o-olahraga sedikit, selama sakit aku ng-nggak pernah olahraga, ja-jadinya aku rindu lari-larian seperti ini, hehe," jawabku terbata-bata.
"Ooh ...," jawab Nita masih sedikit tidak percaya.
"Rani, ada berita baru nih," kata Salsa.
__ADS_1
"Apa?" tanyaku.
"Anggi yang kerasukan setan Dea itu, dia sudah pindah sekolah," kata Salsa.
"Ooh ...," jawabku.
"Kok oh sih?" tanya Salsa.
"Terus apa hubungan aku dengan pindah sekolahnya Anggi? nggak ada kan?" tanyaku sedikit kesal, karena aku tidak mau menau tentang urusan Anggi sedikitpun.
"Eng-nggak ada deh, tapi ...," perkataan Salsa terputus.
"Nggak ada tapi-tapian, stop!" jawabku menghentikan perkataan Salsa.
Kemudian Salsa terdiam dan menunduk seketika.
🌱🌱🌱
Besok, besok adalah hari yang sanga menegangkan bagiku dan yang lainnya, aku akan meninggalkan masa SMA ku, dan meninggalkan kenangan dengan Fakur yang kabarnya tidak ada sedikitpun. Entahlah, aku tidak boleh memikirkan apapun selain pelajaran untuk ujianku besoknya, soal Fakur aku harus berusaha untuk melupakannya, harus!!
Tak lama kemudian, aku mendengarkan notifikasi di handphoneku. Tertera nomor tak dikenal mengirimiku SMS.
[Semangat ujiannya, sayangku] dari nomor tak dikenal.
[Kamu tidak boleh capek]
[Makan teratur]
[Dan selama ujian, off kan dulu handphonemu, supaya kamu tetap fokus]
[Strong 💪💪💪😉]
__ADS_1
[Aku selalu di dekatmu]
Siapa dia??