Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 15 Oppa Korea


__ADS_3

🌱🌱🌱


Terbangun dari tidurku, dengan segera kulirik jam di dinding sudah pukul 05.00 pagi.


Tepat sekali, tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat.


Entah kenapa hari ini aku sangat ceria daripada hari sebelumnya. Semuanya sudah beres aku siapkan, saatnya untuk sarapan.


"Rani, ayo makan!" suruh ibu.


"Oke, Ibu" jawabku semangat.


Aku menyelesaikan sarapan dengan cepat dari yang lain.


"Yah, Ibu, Qiran, Dika, kakak berangkat dulu ya," pamitku kepada mereka.


"Nggak mau barengan dengan ayah nih?" tanya ayah.


"Enggak ayah, Rani pengen sendiri dulu, kan Rani udah besar, hehe ...," ucapku.


"Hmm ... okedeh anak ayah sekarang udah besar," ucap ayah, "hati-hati dijalan ya! karena jatuh di aspal tak seindah jatuh cinta," lanjutnya.


Sontak semua yang ada di meja makan tertawa bersama.


"Hehe ... iya ayah," jawabku kemudian pergi.


🌱🌱🌱


Di perjalanan, dari jauh sudah terlihat seseorang yang sedang menunggu angkutan umum.


"Itu Nita, sepertinya dia tidak bawa motor sekarang, aku kerjain ah," batinku.


Aku sudah berhenti di depan Nita yang sedang nunggu angkutan, ternyata Nita sudah menyadari bahwa aku yang datang menghampirinya. Dengan segera dia beranjak dan ingin menaiki motorku. Dan dengan segera pula kutancap gas dan sontak Nita terkejut.


"Aduh, dasar gila!" celoteh Nita.


Kemudian ku arahkan motor ini untuk berbalik arah menghampiri Nita yang jauh ketinggalan di belakang.


"Heh, becandanya jelek," gerutu Nita, dan segera naik ke motorku.


Aku yang mendengarnya hanya tertawa dengan girang.


🌱🌱🌱


( parkiran)


Ketika melewati gerbang sekolah, tak sengaja kami berselisih dengan Nadya, dia dengan muka judesnya melihat kearah kami, sepertinya dia lagi mengawasi sesuatu, terlihat dari gerak gerik matanya.


"Ran, tuh fans gelap kamu sudah datang," kata Nita kedengarannya mengejek.


"Hahaha aku nggak pernah punya fans gelap seperti dia," jawabku kemudian tertawa.


Sampai di parkiran, ternyata Nadya sudah duduk santai di motornya, sepertinya dia masih belum puas dengan yang kemarin.


Nita turun dari motor dan mendekatkan mulutnya kearah telingaku.


"Ran, inilah saatnya aku mau lihat betapa tangguhnya kamu," bisik Nita, sepertinya Nita tahu hatiku saat ini sudah panas melihat Nadya.


"Tangguh maksudnya apa nih?" tanyaku.


"Enggak ada," jawab Nita kemudian memutarkan bola matanya.


Aku hanya tertawa kecil melihat kelakuan Nita seperti itu, tetapi dengan tawa ini bisa mengundang kemarahan dari Nadya.


"Lu ketawain gue?" tanya Nadya kasar.


"Lu merasa? belum puas yang kemarin dengan Salsa?" jawabku yang sudah mulai geram dengan tingkahnya.


"Dasar perempuan ga*el, ibu lu dulu mungkin pernah ngerayu laki orang, makanya lu lahir ke dunia," ledek Nadya.


"Dasar anak sama ibu tidak ada bedanya," lanjutnya.


Mendengar ibuku sudah di caci oleh Nadya, hati ini serasa telah terbakar di dalam, rasanya ingin membunuh Nadya hari ini juga.


"Apa lu bilang? ibu gue ngerayu laki orang?" tanyaku kemudian menjambak rambut Nadya dengan paksa, sehingga membuat Nadya meringis kesakitan.


"Ampun, ampun," ucap Nadya yang menahan sakit.


Kemudian kuhempaskan tubuhnya di tembok tempat duduk di parkiran. "lu hina ibu gue sekali lagi, nyawa lu jadi taruhannya!" ancamku kepadanya yang sudah tergeletak di tembok parkiran.


Akhirnya, segera ku beranjak dari sana, dan meninggalkan Nita yang sedari tadi melamun melihat aksiku tadi.

__ADS_1


☘️☘️☘️


Bel masuk berbunyi, kulewati semua pelajaran dengan hati sangat tenang seperti pertama berangkat sekolah tadi.


"Rani, kamu tadi bertengkar ya sama Nadya?" tanya salsa.


"Dimana kamu tahu?" tanyaku balik.


"Pasti dari Nita nih?" jawabku.


"Ah itu nggak penting, yang penting jawab saja pertanyaan aku tadi?" tanya Salsa.


"Iya, aku kesal dia selalu menganggu hidup kita," jawabku.


"Ah kamu ni nggak asik, itu bukan alasan yang logis, kalau itu alasannya kamu tidak akan membalasnya" jelas Salsa.


"Lah terus apa dong? kalau kamu sudah tahu ngapain nanya ke aku lagi?" nadaku mulai tinggi.


"Eh sorry sorry, sepertinya princess Syahrini eh Syahrani lagi marahan nih," godanya sambil menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangannya.


"Eh nggak lah ngapain aku marah ntar muka cantik aku ini keriput dong hehe ...," jawabku.


"Dasar kamu ini Rani, bisa saja," jawab Nita menimpali.


Bel istirahat pun berbunyi.


Semua murid berhamburan keluar kelas yang pastinya tujuan utama mereka ialah ke kantin. Kantin adalah sarana yang bebas bagi mereka, bebas ngapain, bebas porotin uang teman, bebas merayu teman, pokoknya bebas lah, yang pasti tidak melenceng dari peraturan sekolah, hehe ....


☘️☘️☘️


( kantin)


"Bu kantin apa kabar?" tanya Salsa serasa orang yang sudah akrab.


"Baik nak Salsa, gimana tuh lukanya? sudah sehat?" tanya ibu kantin.


"Lumayan, ini belum seberapa dari patah hati Bu," jawab salsa sambil meringis.


"Eh nak Salsa bucin juga yah," ledek bu kantin kemudian tertawa.


"Hehe ... becanda kok Bu," jawab Salsa.


Kemudian Salsa memerhatikan sekeliling kantin, penglihatannya fokus kepada salah satu adik kelas yang berkulit putih seperti orang bule.


"Ran, Nit, gimana kelakuan aku tadi malu nggak?" tanya Salsa berbisik.


"Yang mana?" tanyaku.


"Yang kaya bucin tadi?" tanya Nita.


"He'em," jawab Salsa diiringi anggukan.


"'B' aja kok," jawab aku dan Nita bersamaan.


"Kalian tahu nggak? disini ada oppa Korea," ucap Salsa.


"Ah ngaco deh," jawabku.


"Itu dia, yang duduk di pojokan sana," jawab Salsa dan mengarahkan mulutnya ke arah pojokan kantin.


Kemudian kami mencari sosok adik kelas yang dibilang ganteng oleh Salsa.


" 'B' aja kok," jawabku.


"Eh itu Farhan, kayak nggak tau aja kamu Sal," jawab Nita.


"Isshh ... bukan itu, tapi disebelahnya Farhan," jawab Salsa.


"Itu tuh yang putih, matanya sipit seperti oppa korea" lanjutnya.


Kulihat ternyata benar dia mirip oppa Korea, kalau di lihat-lihat dia mirip dengan anggota BTS yaitu Kim taehyung, gantengan oppa daripada dia. Tapi bedanya adik kelas itu hidungnya mancung ke dalam, berbanding terbalik dengan oppa yang mancung ke luar. Hehe ....


"Kamu tahu yang bening gitu Sal, tapi aku nggak doyan adik kelas," jawabku.


"Aku juga," jawab Nita tak kalahnya.


"Eleh ... aku nggak ada Lo ya nawarin ke kalian semua," sanggah Salsa.


"Terus, si Adit mau kamu kemanain? tanya Nita.


"Tenang, itu bisa diatur" jawabnya enteng.

__ADS_1


" Dasar!" jawab Nita.


Salsa yang sedari tadi melihat ke arah yang mirip oppanya, sedangkan aku curi-curi pandang dengan Fakur.


Aku jadi salah tingkah melihatnya, sehingga makanku jadi lama, entah kenapa dia makan disini, biasanya dia makan di kantin dekat kamar mandi.


Pandanganku jadi terhalangi oleh seseorang yang duduk di depan meja kami, dan membuat aku kesulitan menantap Fakur, aku menggeserkan kepalaku ke samping kanan dan kiri, dia juga melakukannya demikian, hingga salah satu dari teman Fakur melihat kami dan tampak keheranan.


Tidak kusangka ternyata yang duduk di tengah kami ialah Nadya dengan Fiyan.


"Hay, lagi lihatin apa?" tanya Fiyan kepadaku.


"Hmm ... nggak ada," jawabku cuek.


"Ran, Nadya tuh lihat!" suruh Nita.


"Enggak deh, aku mau lihat seseorang di belakangnya," jawabku.


"Eh kamu lihat oppa aku ya, Ran?" tanya Salsa


"Gak, lagi lihat di sampingnya," jawabku.


Nita dan Salsa tertawa mengerti.


Tak disangka, tidak ada angin tidak ada hujan, Nadya datang menghampiri kami lagi.


"Kalian nggak ada mati-matinya ya, udah dikasarin masih saja melawan," gertaknya kemudian tertawa licik.


"Kamu yang nggak ada mati-matinya, mau dicakarin pakai ini?" gertak Nita memegang garpu ditangannya, Nita tak kalah emosinya, ini untuk pertama kalinya Nita emosi.


"Udah Nit, jangan dilawan!" leraiku


"Hayo cakar! gue nggak takut," gertak Nadya.


Kemudian Fiyan melihat ini langsung menarik tangan Nadya kemudian memilih untuk pergi dari sini.


🌱🌱🌱


( kelas)


Semua murid hanya diam memandang ke arah papan tulis, melihat apa yang diterangkan ibu guru, jelas terlihat dari rona mata mereka bahwa semuanya tengah mengalami 'ngantuk berat'.


Entah kenapa akhir-akhir mau Ujian Nasional ini aku tidak fokus untuk belajar, padahal kan nanggung, hanya tinggal beberapa bulan lagi.


Akhirnya yang ditunggu-tunggu semua murid berbunyi juga, yaitu bel pulang sekolah.


Semua murid langsung berhamburan ke parkiran tak kalah aku Nita, dan Salsa.


"Nita, kita ke toko dulu ya, mau beli sesuatu," ajakku.


"Oke," jawab Nita.


"Aku nggak ikut ya, ngantuk nih, udah rindu tempat tidur," ucap Salsa.


"Ya udah, selamat tidur si putri tidurku," ucapku bersamaan dengan Nita.


☘️☘️☘️


( di depan toko)


"Nit, aku beli tissu dulu," pamitku kepada Nita, "nanti kita beli minuman yuk, haus nih," tawarku.


"Oke!" jawab Nita.


Aku dan Nita duduk di depan toko sambil menyeruput cappucino cincau yang kami beli di depan toko tersebut.


Tak lama kemudian, aku dan Nita melihat segerombolan anak sekolahan yang memakai baju Pramuka lengkap, seperti baru pulang dari suatu kegiatan.


Kami memperhatikan satu persatu anak Pramuka tersebut. Reflek, aku melihat adik oppa Korea Salsa berboncengan dengan seorang perempuan yang memakai baju Pramuka sama dengannya.


Dan mata kami juga fokus pada teman yang dibelakangnya, seorang cowok berbadan tegap berboncengan dengan perempuan cantik, ya dia adalah Fakur. Mereka berdua sangat romantis, perempuan tersebut membawa tongkat selfie, mereka seperti membuat vlog, sepertinya ingin membuat sebuah video di You*ube.


Melihat tingkahnya seperti itu, Nita melihat kearahku. Aku hanya menggelengkan kepala, tanda tidak mengerti.


"Itu Farhan kan Ran?" tanya Nita.


Aku hanya diam.


"Ayo Nit, kita pulang saja! sudah sore," ajakku, berusaha supaya Nita tidak tahu bahwa aku sedang sedih.


"Ya udah ayo!" jawab Nita.

__ADS_1


__ADS_2