Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 23 dia tidak akan tahu


__ADS_3

🌱🌱🌱


"Fiyan?" batinku.


"Rani, kok Fiyan kesini?" tanya Salsa.


"Enggak tahu, tadi nomor misterius nelepon aku, katanya mau kesini, dan ternyata dia Fiyan," jelasku.


"Kalau begini bisa berabe jadinya," ucap Nita.


Kemudian Fiyan masuk ke rumahku.


"Assalamualaikum," sapa Fiyan, "ini rumah Rani kan?" tanyanya.


"Iya, jadi kamu yang nelepon aku tadi ya Fiyan?" tanyaku.


"Iya, hehe ...," jawabnya tertawa kikih


"Oh iya, mau minum apa?" tanyaku


"Air putih saja sudah cukup," jawabnya.


"Yakin air putih?" tanya Salsa.


"Yakinlah," jawab Fiyan.


Segera aku berlari kecil ke dapur untuk mengambil minuman untuk Fiyan.


"Ini," memberikan minuman yang dia pesan.


"Lu kesini, Nadya tahu nggak?" tanya salsa memastikan.


"Secara lu tahu kan, Nadya nggak suka lihat Rani," lanjut Salsa.


"Enggak, dia tidak akan tahu," jawabnya mantap


"Terus tujuan lu kesini apa?" tanya Nita.

__ADS_1


"Mau silaturahim," jawabnya.


"Iya, lu kan cowok, kami cewek, bukan muhrim tahu," ledek Nita


"Oh, yaudah aku pergi dulu," ujar Fiyan.


"Eh, jangan-jangan! diminum dulu minumannya baru pergi, setidaknya kamu harus minum walaupun sedikit," ucapku.


"Oke," jawabnya.


"Jadi gini, aku kesini untuk bawa Rani pergi jalan-jalan," ucap Fiyan.


"Apa???" jawab kami bersamaan.


"Lu gila yah, lu udah punya pacar dan Rani juga udah, nggak salah lu?" tanya Salsa.


"Enggak!!" jawabnya.


"Lagian aku mau ngehalalin Rani siap UN besok," lanjutnya.


"Lu jangan main-main dengan ucapan yan, lu nggak mabok kan?" tanya Salsa.


"Aku bukan Bagas yang suka mabok-mabokan," ucap fiyan, sontak Nita dan Salsa heran bukan main mendengar perkataan Fiyan, dengan segera aku menghentikan Fiyan.


"Udah, udah jangan dibahas!" leraiku.


Tak lama kemudian, handphone Fiyan berbunyi.


"Iya ada apa lagi?" tanya Fiyan.


"Nggak ada maaf buat lu, main aja lu sama dia, gue nggak peduli lagi," lanjut Fiyan dan segera mematikan handphone nya.


"Siapa itu?" tanya Salsa.


"Tuh, si kutu kupret," jawab Fiyan.


Kemudian suasana terasa hening.

__ADS_1


"Ya udah gue pulang dulu, daah ... sampai jumpa di sekolah," pamit Fiyan.


"Assalamualaikum," lanjutnya.


"Waalaikumssalam," jawab kamu bersamaan.


Tak lama kemudian, Fiyan pergi dengan santainya memberi isyarat sebuah senyuman dan kedipan mata kepadaku.


Dengan tingkah Fiyan yang seperti itu, aku menjadi salah tingkah dibuatnya.


"Itu beneran Fiyan Rani?" tanya Nita heran, "aneh banget, seperti ada yang lagi di sembunyikan darinya," lanjut Nita.


"Iya, aku juga merasa aneh dengan sikapnya itu," salsa menimpali.


Tak lama kemudian, Salsa menerima telepon dari nomor yang tak dikenal.


"Iya benar, mau apa ya?" jawab Salsa.


"Kamu siapa? main ngancam gue sembarangan, gue nggak takut dengan ancaman lu," bentak Salsa dan segera mematikan telepon.


"Siapa Sal?" tanyaku.


"Nomor tak dikenal, main ngancam aku, aku gak suka diancam," jawab Salsa.


"Emang dia ngancam apa?" tanyaku.


"Dia ingin aku menjauhi kamu Rani, kalau tidak nyawaku jadi taruhannya," jelas Salsa.


Mendengar itu, Nita sempat tertawa terbahak-bahak, sampai membuat perutnya terasa perih karena tertawa.


"Emang masih ada ya jaman now main ngancam-ngancam, unfaedah banget," ucap Nita dan tertawa dengan kerasnya.


Melihat Nita tertawa seperti itu, kami semua ikut tertawa, walaupun dihari masih bimbang.


"Oh iya Sal, aku juga pernah diancam, mau dibunuh," ucapku mengakhiri tertawa yang berlebihan ini.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara teriakan dari arah dapur, sontak aku Nita dan Salsa segera berlari.

__ADS_1


__ADS_2