
🌱🌱🌱
"Haa?"
"Kita sejurusan dengan dia, Rani," ucap Salsa.
Aku hanya diam dan menatap seseorang yang baru masuk ke gedung yang sama dengan kami.
Bersamaan dengan itu, seseorang yang sangat kamu kenal itu berhenti dan menghampiri kami.
"Heh, Nita Salsa Rani juga kuliah disini?" tanya orang itu.
"Dan kita satu jurusan juga," lanjutnya dengan bahagia.
Aku hanya mengangguk.
"Enggak, aku mau pindah jurusan, Fiyan," ucap Nita.
Ya ... dia adalah Fiyan, orang yang pernah singgah di hatiku dan sekarang dia meletakkan sebuah racun di dalamnya.
"Kenapa?" tanya Fiyan.
Nita melirik ke arah Salsa, " eng-nggak apa - apa, enggak cocok aja jurusannya," jawab Nita berbohong.
Fiyan mengangguk tanda mengerti.
Kemudian dia melirik aku yang sedang berada di sampingnya.
"Berarti aku satu jurusan nya dengan Rani dan juga Salsa dong," jawabnya bangga.
"Iya," ucap Nita.
__ADS_1
"Ya udah, aku duluan ya, nanti keburu masuk dosen," ucap Fiyan.
"Iya," ucap Nita sedangkan aku dan Salsa hanya diam.
Kenapa salsa bisa diam ketika Fiyan datang
menghampiri kami? ya ... karena Salsa adalah orang yang pertama sekali mendengar dari mulutku tentang kejadian silam itu.
"Ya udah, Rani, Salsa, aku pergi dulu ya," pamit Nita.
"Iya," ucapku dan Salsa tetap tak mengacuhkannya.
🌱🌱🌱
Tak lama kemudian, seorang senior bisa dikatakan ketua dari BEM memberikan pengumuman untuk berkumpul di lapangan yang sangat luas terletak di pertengahan gedung - gedung kampus yang sangat tinggi.
Ketua BEM itu memberikan arahan berupa peraturan selama melakukan kegiatan ospek ini, kemudian dia memberitahu kan acara - acara yang akan dilaksanakan. Dan memperkenalkan anggota nya satu persatu
Aku dan Salsa berdiri tepat di belakang barisan dan terdapat pohon yang bisa dikatakan melindungi dari cahaya sinar matahari walaupun sedikit.
"Adik - adik semua, berhubung ketua memberikan mandatnya kepada saya, berarti kalian semua harus patuh terhadap semua perintah saya saat ini, paham?" ujar salah satu anggota BEM itu.
"Paham," jawab kami bersamaan yang masih belum kompak.
"Semuanya harus kompak, atau kalian semua saya tambah waktu untuk berjemur nya lagi," tegasnya.
"Paham!" ucap kami semua dengan tegas.
Senior tersebut mengacungkan jempolnya kepada kami semua.
Lamanya kami dijemur oleh senior, bersamaan dengan itu mereka mengadakan game untuk memilih calon queen dan king mahasiswa tahun ini.
__ADS_1
"Kali ini, kita mengadakan game untuk memilih calon queen dan king kita, tapi kita milihnya lewat seleksi dulu," ucap senior.
"Semua siap?" tanya senior.
"Siap ...!" jawab kami dengan semangat.
Pertama senior memilih barisan yang terdepan.
"Rani, sepertinya kita nggak akan kebagian sembako kali ini," canda Salsa.
"Sembako apanya?" tanyaku heran.
"Itu calon king dan queen," jawab Nita.
"Yee ... aku nggak peduli itu, sal," ucapku cuek
"Cukup jadi ratu di hatinya Fakur udah bagiku," ucapku dengan senang
Salsa seperti menelan ludahnya dengan paksa, seperti ada yang disembunyikan olehnya dan tidak ingin aku mengetahuinya.
"Eh itu, sepertinya Fiyan deh, Rani?" tanya Salsa.
"Iya, dia Fiyan," ucapku.
"Sepertinya Fiyan yang akan jadi king mahasiswa baru tahun ini," ucap Salsa.
"Iya," jawabku sedikit malas.
"Udah jangan dibahas!" ucapku.
Bersamaan dengan itu, perkataan seseorang mengejutkanku dari belakang.
__ADS_1