Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 30 rumah sakit ( bagian 4 )


__ADS_3

"Aduh, kan benar. Buburnya habis semua kamu makan," ejek Fakur.


"Ih boong deh, tuh masih ada dua kotak lagi," jawabku melirik kotak bubur ayam yang terletak di meja.


"Kamu makan juga ya buburnya, aku udah kenyang nih," ujarku.


"Aku udah sarapan tadi pagi sebelum pergi kesini, itu untuk kamu saja, sayang," jawab Fakur sambil mengelus rambut panjangku.


"Ta-tapi ...," perkataanku terputus.


"Nggak ada tapi-tapi, harus dimakan! demi kesehatan kamu juga," jawab Fakur tegas.


"I-iya ...," jawabku terbata-bata.


Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagiku, karena seharian ini ditemani oleh kekasihku yaitu Fakur. Lelaki yang membuat hari-hariku menjadi bermakna. Walaupun umurnya dua tahun di bawahku, akan tetapi pembawaan dan sifatnya itu seperti orang dewasa pada umumnya, pengetahuannya sangatlah luas, terkadang aku bisa mengambil pelajaran dari kata-kata yang keluar dari mulutnya itu.


Tetapi fikiranku terhenti ketika Fakur mengucapkan kata-kata yang tidak aku mengerti maksudnya 'inilah tempat terakhirku bertemu dengan kamu, sayang' apa maksud dari perkataannya itu? sungguh aku tidak mengerti apapun, apa dia mau memberi kejutan untukku? entahlah, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


Tak lama kemudian, datanglah ibu, Qiran dan Dika, lengkap dengan ayah.


"Assalamualaikum," ucap ibu yang masuk ke kamarku.


"Waalaikumsalam," jawabku bersamaan dengan Fakur.


"Ayah," sapaku kepada sosok laki-laki yang berbadan tegap itu, "kapan ayah pulangnya?" tanyaku, dan kemudian mencium punggung tangan ayah.


"Baru sampai, nak, kamu nggak papa kan?" tanya ayah, kemudian melirik kearah Fakur, "ini siapa?" tanyanya kepadaku.


"Eng ...," perkataanku terputus.


"Saya Farhan Kurniawan, om, temannya Rani," jawab Fakur, kemudian mencium punggung tangan ayah.


"Ooh ...," jawab ayah singkat. Sepertinya ayah tidak menyukai Fakur.


"Oh iya nak, ayah bawa oleh-oleh untuk kamu nih, pasti kamu lapar kan?" tanya ayah, "Qiran, sini plastiknya!" suruah ayah ke Qiran.


"Oke, ayah," jawab Qiran kemudian memberikan beberapa kantung plastik kepada ayah.


"Ayah belikan kamu apel sama pir, kamu pasti suka, kan? ayah sengaja belikan kesukaan kamu, supaya kamu tidak sakit-sakitan lagi seperti ini," jelas ayah tanpa berhenti.


"Dan ada yang lain, ayah juga belikan empek-empek kesukaan kamu," lanjutnya.

__ADS_1


"Pokoknya kamu tidak boleh terlambat makan lagi, ya!" lanjutnya lagi.


Aku hanya tersenyum melihat perlakuan ayah yang sangat perhatian kepadaku, mungkin karena ayah tahu kondisi penyakitku saat ini, dan mungkin juga karena aku anak pertama di dalam keluarga ini. Kata ibu, ketika melahirkanku ayah sangat cemas, saking cemasnya dia memarahi dokter dan suster di ruangan ibu melahirkan, sehingga dia membuat kehebohan pada saat itu. Tetapi ketika mendengar suara tangisku, ayah sempat sujud syukur pada saat itu.


"Sepertinya ayah mertuaku sangat sayang pada kamu, sayang?" bisik Fakur.


"Hehe iya dong," jawabku dengan berbisik.


🌱🌱🌱


"Om, Bu, semuanya. Farhan pamit pulang dulu ya, nenek sudah menunggu di rumah," pamit Fakur.


Ayah hanya melirik Fakur kemudian mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Hati-hati ya! nak Fakur," balas ibu.


"Iya Bu, assalamualaikum," pamit Fakur.


"Waalaikumsalam," jawab kami bersamaan.


....


Empat hari kemudian, aku sudah sembuh dan segera pulang ke rumah untuk menjalankan aktivitas sehari-hariku.


"Boleh, nak. Tak lama lagi kamu akan Ujian Nasional nih, jadi, kamu harus rajin-rajin lagi belajarnya yah, ditambah lagi pelajaran kamu banyak yang tertinggal," jelas ibu


"Siap, Ibu" jawabku.


🌱🌱🌱


Akhirnya hari yang aku tunggu-tunggu tiba, aku bisa bersekolah seperti biasanya. Tidak ada lagi infus ditangan, suntikan berkali-kali yang menusuk kulitku, dan bubur yang hambar. Semua sudah normal, yang paling aku tunggu yaitu teman-teman yang selalu menghiburku dikala suka maupun duka.


Tetapi untuk saat ini, aku ingin bertemu dengan Fakur, kemana dia sekarang? semenjak pulang dari rumah sakit, handphonenya off dan semua sosial medianya tidak ada yang aktif.


"Rani ... kamu sudah sehat?" teriak seseorang dari belakang.


Sontak aku memutarkan badan, dan ternyata Salsa dan Nita.


"Sudah, kenapa nggak jenguk aku?" tanyaku ketus.


"Ish ... ada kok, kamunya tidur terus, ya kan Nit?" jawab Salsa.

__ADS_1


"He'em, molor terus seperti kerbau bunting, nih pipi kamu udah kaya bakpau tuh," celoteh Nita.


"Eh iya ya ... maaf telah nuduh, hehe ...," jawabku sedikit tertawa kecil.


"Ya udah kita pergi ke kelas saja, teman yang lain sudah banyak yang rindu nih," jawab Nita.


"Iya," jawabku.


Kemudian Nita dan Salsa menarik tanganku dengan cepat dan segera masuk ke dalam kelas.


Ternyata benar, semua teman di kelasku berlari mendekatiku, sontak semuanya memelukku.


Tak lama kemudian, ibu guru masuk ke dalam kelas, seketika pelajaran dimulai.


Pelajaran kali ini serasa sudah aku kuasai sebelumnya, entah kenapa, apakah ini hikmah dari sakitku yang kemarin? padahal aku tidak ada belajar sama sekali, entahlah ....


Sekilas kumelirik kearah jendela, bayangan putih melintas tepat di depan pintu, sepertinya dia selalu mengawasiku dimanapun aku berada.


Dan tak lama kemudian, lewatlah seorang perempuan yang tatapannya sangat sinis melihat kearahku, ya dia adalah Nadya, kekasihnya Fiyan.


"Dasar! Nadya nggak ada kapok-kapoknya, kamu sakit aja dia masih sinis seperti itu," celoteh Nita di sampingku.


"Eh Ran, tuh si nenek sihir ngapain melihat sinis ke arah kamu, tuh?" tanya Salsa yang berada tepat di belakangku, ternyata Salsa juga melihatnya.


Aku hanya senyum menanggapi perkataan Salsa.


Lima belas menit setelah kepergian Nadya.


"Hahaha ... kamu sudah kembali, kamu orang jahat, pantasnya mati!" teriakan histeris perempuan yang seperti mengancam, "mati! mati! mati!"


"Nit, kamu dengar sesuatu, nggak?" tanyaku kepada Nita.


Nita terdiam seperti ingin mencoba mendengarkannya "enggak kok Ran, emang ada apa? itu mah suara orang menyanyi di kelas sebelah," jawab Nita.


Nita tidak dengar suara itu, suara yang sangat jelas terdengar oleh telingaku ini, seperti suara seseorang yang sedang kerasukan setan. Suara orang menyanyi di kelas sebelah memang betul aku mendengarkannya, tetapi suara histeris ini sangat jelas di telingaku. Dan itu tidak didengar oleh Nita. Ada apa ini sebenarnya?


"Beneran kamu nggak mendengarnya?" tanyaku.


"He'em," jawab Nita dengan menganggukkan kepalanya, kemudian mengalihkan pandangannya ke depan.


"Hmm ... oke deh Nit," jawabku pasrah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, terdengar teriakan seseorang, dan ditambah segerombolan siswa kelas sebelah berlarian ke arah lapangan. Reflek, semua murid di dalam kelasku juga berhamburan keluar.


__ADS_2