
🌱🌱🌱
( Di rumah)
POV QIRAN
"Kak, Qiran ke rumah dulu ya," ucapku kepada kak Rani, yang masih tertinggal jauh di belakang.
Ternyata tamu tak diundang telah duduk santai di ruangan tamu, ya dia adalah laki-laki ba*ingan tadi, Farhan Kurniawan.
"Mau apa lu kesini?" gertakku.
Seketika mata Farhan membulat besar, seperti orang keheranan.
"Qi-Qiran, mana kakak kamu?" tanyanya.
"Lu jangan sok baik di depan kakak gue, mulai dari sekarang jauhin kakak gue, dasar ke*arat," bentakku.
"Qiran? ada apa? kok kamu begitu kasar dengan Farhan?" tanya kak Rani yang baru masuk ke rumah.
"Hehe ... Ra-Rani tadi ha-habis latihan drama untuk nilai bahasa Indonesia kak," ucapku terbata-bata, dan memutuskan untuk segera pergi.
Selalu kupantau kelakuan dari Farhan, dia sangat manja kepada kakakku, dasar hidung be*ang, dia sangat pandai akting.
Tak lama kemudian, dia mencu*ang leher kakakku, aku takut kak Rani terlena olehnya.
Aku harus mencari cara supaya mereka berhenti.
Segera kuberanjak ke kamar Dika.
POV QIRAN OFF
BACK TO STORY
__ADS_1
☘️☘️☘️
Fakur sangat menikmati apa yang kami lakukan berdua, pertama di mu*ut dan terakhir pergi ke le*erku. Dia seperti gugup melakukannya. Tak lama kemudian, tangannya mulai meraba bagian da*aku. Entah kenapa aku tak menolak sama sekali.
"Kakak?" suara seorang.
Sontak aku dan Fakur terkejut, dan segera berpisah.
"Kakak lagi ngapain tadi? mau buat adek ya?" tanya Dika polos.
Fakur hanya tertawa mendengar perkataan Dika.
"Hmm eng-nggak kok, kamu mau ngapain?" tanyaku.
"Ini mau ambil sepatu kak Qiran di depan, katanya mau dicuci," ucap Dika.
"Oh yaudah, ambil aja!" ucapku.
Kemudian Dika pergi, tetapi jantung ini masih berdetak dengan kuatnya.
"Jadi ngusir nih ceritanya?" tanya Fakur.
"Enggak, aku takut Dika bilang ke ibu semuanya," jawabku.
"Ya udah deh, aku pergi dulu," ucap Fakur dan mencium punggung tanganku.
☘️☘️☘️
"Kok aku bisa lakukan itu lagi ya sama Fakur? padahal aku tak akan berbuatnya lagi?"batinku.
"Entah kenapa aku sangat menikmatinya juga, aku takut sampai terlena dan membuat masa depanku hancur," batinku.
Tak terasa handphoneku sedari tadi berbunyi.
__ADS_1
[Kak, maaf! aku khilaf] pesan dari Fakur.
Aku tidak membalas pesan darinya.
Seseorang mengetuk pelan pintu kamarku.
"Siapa?"
"Qiran," jawabnya.
"Masuk!"
Tanpa basa-basi Qiran tidur di tempat tidurku, dan sempat membuat kekacauan sebentar.
"Kak, jangan berbuat seperti itu lagi dirumah, malu dilihatin tetangga," ucap Qiran.
"Kamu lihat?" tanyaku.
"Dari awal sampai akhir," ucap Qiran.
"Dasar," bentakku kepada Qiran, kemudian menjewer telinganya, dan membuat dia merintih kesakitan.
"Udah deh kak, aku serius," ucapnya, "jangan diulangi lagi!"
"Itu aku tak tahu, entah kenapa aku tak menolak sama sekali, padahal aku sangat jijik dengan semua itu," ucapku.
"Kalau jijik kenapa kakak lakuin itu?" tanyanya.
"Satu lagi kak, mulai dari sekarang jauhin kak Farhan, dia bukan yang terbaik untuk kakak," ucap Qiran.
"Kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanyaku sedikit membentak.
"Dia bukan yang terbaik buat kakak," lanjutnya.
__ADS_1
"Ya sudah kamu pergi sana!" usirku.
"Kamu bercanda dengan melibatkan perasaan kakak, kakak nggak suka, pergi!" bentakku dengan mendorongnya keluar kamar.