
"Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya," jawab Fakur dengan senyuman manis terukir di wajahnya.
"Eh ada nak Farhan, udah lama ya disini nak?" tanya ibu, yang baru keluar dari kamar mandi.
"Baru sebentar ini, Bu," jawab Fakur, memanggil ibu dengan sebutan ibu juga.
"Ciee Ibu ... ngode ya kak?" canda Qiran.
Fakur hanya tersenyum malu.
"Eh, kamu ini dari tadi ganggu aku saja!" cetusku kepada Qiran.
"Sudah, sudah ... jangan ribut lagi! nggak malu sama nak Farhan?" ucap ibu menghentikan.
"Nak Farhan tidak pergi sekolah?" tanya ibu.
"Sepertinya hari ini tidak, bu," jawab Fakur.
"Loh, ini kok sudah pakai seragam?" tanya ibu heran.
"Hehe ... Farhan ingin menjenguk Rani aja Bu, untuk sehari ini saja," jawab Fakur sedikit tertawa kecil.
"Ooo ...," jawab ibu yang sepertinya tahu maksud Fakur datang kesini. "kalau begitu nak Farhan bisa ibu minta tolong nggak?" tanya ibu ke Farhan.
"Kapan pun dan dimana pun Farhan selalu sedia membantu ibu, selagi Farhan masih sanggup, bu!" jawab Fakur bersungguh-sungguh.
"Itu baru calon menantu idaman," batinku sambil senyam senyum sendiri.
"Ibu mau minta tolong lihatin Rani sebentar! ibu, Dika dan Qiran mau pulang dulu sebentar, mau tukar baju," ucap ibu.
"Oh boleh bu, Farhan sangat senang membantu ibu," jawab Fakur bersemangat.
"Baiklah, ibu tinggal dulu ya, mau cari taksi dulu sebentar, nanti ibu akan kembali jika sudah ada taksi," ucap ibu.
"Iya, bu," jawab kami bersamaan.
Kemudian ibu pergi meninggalkan ruanganku dengan langkah yang cepat, sepertinya ibu buru-buru untuk pulang.
Qiran menatapku dengan penuh intens, kalau dilihat dari raut wajahnya, sepertinya ada yang ingin ditanyakan oleh Qiran.
"Kak, aku perhatiin kakak senyam-senyum sendiri sedari tadi, ada apakah gerangan kak?" tanya Qiran.
"Pasti kakak seperti itu karena perhatian kak Farhan tadi ya kan?" tanya Qiran.
"Ini anak indigo kali yah, bisa baca fikiran orang," batinku.
"Ng-nggak kok" jawabku dengan terbata-bata.
"Tuh kan ... buktinya kakak jadi grogi, ayo deh ngaku saja," ujar Qiran.
Fakur hanya melihat kearahku dengan senyumannya yang manis terukir di wajahnya. Aku hanya membalas senyuman darinya. Perlakuannya seperti itu membuat aku jadi salah tingkah.
"Aduh ... sepertinya disini mulai banyak nyamuk, deh," ujar Qiran, sambil menepuk tangannya ke lengan
"Dika, kamu kena gigit nyamuk nggak disini?" tanya Qiran ke Dika yang sedari tadi asik dengan handphonenya.
Dika melihat ke arahku kemudian melihat ke sekeliling lainnya, seperti menerawang.
"Hmm ... nggak kok kak, disini kan ada AC mana ada nyamuk," jawab Dika dengan polos.
Aku dan Fakur hanya tertawa mendengar jawaban Dika, beda dengan Qiran wajahnya mulai berubah seratus derajat, ditambah dengan tingkatan di keningnya.
"Aduh ... ni anak nggak bisa diajak bekerja sama," ujar Qiran dan menepuk jidatnya.
"Aduh ... kasihan adik kakak, makanya cari pacar sayang, bukan cari lawan diperbanyak!" ejekku.
"Ish ... dasar kakak! aku kan cuma bercanda, supaya kakak dan kak Farhan ketawa, dah itu aja kok," rutuk Qiran.
"Ya sudah deh, kalau kamu ingin membuat kakak dan kak farhan tertawa, rencana kamu berhasil, buktinya kamu lihat kan kami berdua tertawa?" tanyaku dengan senyum manis.
"He'em, ya!" jawab Qiran dengan ekspresi yang sangat datar.
"Senyum dikit dong!" rayuku.
Kemudian Qiran tersenyum, dia memperlihatkan senyumnya itu, dan terlihat giginya yang ginsul. Qiran terlihat manis dan imut dengan gigi ginsulnya itu. Beda dengan aku, dia hanya memliki gigi ginsul dan muka yang tirus dan aku sangat menginginkannya, dan aku sendiri memiliki lesung pipi tetapi muka yang sedikit tembam, tetap imut dan Qiran juga sangat menginginkannya. Jadi, yang ingin kami miliki berbanding terbalik dengan kenyataannya saat ini.
Melihat itu, reflek aku lihat ke arah Fakur. Fakur tidak ada berhentinya memandangi Qiran.
Kemudian aku perintahkan Qiran untuk berhenti tersenyum seperti itu ke arah kami.
__ADS_1
"Sudah, sudah! bosan kakak lihat senyum kamu itu," ujarku.
"Eleh, siapa yang suruh tadi? kakak kan?" tanya Qiran.
"Iya kakak, tapi itu udah basi," jawabku dengan berbohong.
"Iya deh iya kakakku tersayang," jawab Qiran dengan penekanan pada kata yang terakhirnya.
"Sudah berantemnya, nanti pasien lain terganggu!" lerai Fakur.
"Siapa yang berantem, yakali berantem sama adek sendiri, malu dilihatin orang lain," jawabku kesal.
"Tuhkan sadar," jawab Fakur.
"Iya," jawabku cuek.
"Belain aja dia terus," gumamku tapi masih bisa didengar orang lain.
"Siapa belain siapa?" tanya Fakur.
"Nggak ada," jawabku jutek.
Qiran hanya diam menanggapinya.
Tak lama kemudian, datanglah ibu.
"Ayo Qiran, Dika, kita pulang! taksi sudah menunggu," ajak ibu ke Qiran dan Dika.
"Daah kak, Qiran pulang dulu!" pamit Qiran kepadaku dan menjulurkan lidahnya sambil melambaikan tangan ke arahku.
Aku menanggapinya cuma diam seribu bahasa.
"Kak Farhan, jagain kak Rani ya! kami pergi hanya sebentar kok," ujar Qiran ke Fakur.
"Oke!" jawab Fakur.
Kemudian ibu, Dika dan Qiran pergi meninggalkan ruanganku.
"Sayang, kamu sudah makan?" tanya Fakur.
Aku tidak menjawab.
"Kamu kenapa sih sayang? kamu marah ya?" tanya Fakur.
"Terus apa?" tanyanya.
"Nggak ada!" jawabku cuek.
"Ya sudah, aku minta maaf jika aku salah, aku tahu kamu pasti marah soal yang tadi, maafkan aku sayang, aku tidak mau melihatmu tidak akur dengan adik kandungmu sendiri, jadinya aku lerai kamu saja," ujarnya.
"Terus?" tanyaku.
"Aku mohon maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi," ujarnya.
"Terus?" jawabku.
"Maafkan aku ya sayang," ujarnya.
Aku hanya diam.
"Oke deh, kamu tidak menjawab, tapi mohon jawablah pertanyaan aku yang ini, satu ini saja! dan tolong dengarkan aku juga!" lanjutnya.
"Apa?" tanyaku.
"Kamu sudah makan?" tanya Fakur.
Mendengar pertanyaan fakur seperti itu, aku ingin tertawa keras, tetapi saat ini aku sedang akting di depannya. Jadi, saat ini aku harus menahannya.
"Belum," jawabku.
"Maafkan aku, ya!" ujarnya.
"Aku tidak bisa!" jawabku.
Kemudian ekspresi Fakur berubah seratus derajat, wajahnya sudah memerah seperti ingin menangis.
"Aku tidak bisa berlama-lama cuek sama kamu sayang," jawabku, kemudian tertawa lepas, dan Fakur juga tertawa melihat tingkahku seperti itu.
Ekspresi Fakur berubah, dia menjadi ceria dan semangat lagi.
__ADS_1
"Terima kasih, sayang," ujar Fakur
"Kamu mau bubur ayam, nggak?" tanya Fakur
"Mau, mau!" jawabku dengan semangat.
"Tunggu dulu ya, aku pesan dulu," jawab Fakur, kemudian mengeluarkan handphonenya.
"Kamu kenapa nggak pergi sekolah?" tanyaku.
"Aku mau menjagamu seharian penuh untuk sehari ini," jawabnya tegas.
"Kan ada ibu yang menjagaku," jawabku.
"Kasihan ibu, dia terlihat letih. Kemarin saja dia tidak tidur seharian, karena menjagain kamu," ucap Fakur.
"Iyakah? dimana kamu tahu ibu tidak tidur seharian karena menjagaku? ibu yang bilang ya?" tanyaku.
"Tidak, aku cuma mengarang saja. Tapi sudah jelas kok dari matanya kalau dia tidak tidur semalaman," lanjut Fakur.
Kemudian aku terdiam mendengar ucapan Fakur.
"Benar juga yang dikatakan Fakur, mata ibu terlihat kurang tidur, apa mungkin dia tidak tidur semalaman karena menjagaku?" batinku.
Kemudian terdengar seseorang mengetuk pintu ruanganku.
"Tunggu sebentar ya, aku mau bukain pintu dulu," pamit Fakur.
"Iya," jawabku.
Aku hanya melihat punggung Fakur yang sedang berjalan mendekati pintu, tak lama kemudian Fakur membawa banyak rentengan belanjaan di tangannya.
"Ini sayang, ini bubur ayamnya," ucap Fakur.
"Loh kok banyak? aku kan cuma minta satu bubur ayam saja?" tanyaku.
"Iya, ini untuk berjaga-jaga, mana tahu kamu nambah nantinya, dan ini ada juga makanan yang lainnya yang kamu suka," ujar Fakur.
"Ih, emang makan aku banyak, ya?" tanyaku.
"Enggak juga sih, tapi bubur ayam ini sangat enak dari bubur ayam yang lainnya," ucapnya.
"Dimana kamu tahu?" tanyaku.
"Aku sering beli," jawabnya.
"Sini aku suapin!" ucapnya menawarkan diri.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Kemudian dia menyuapiku satu sendok bubur ayam dengan hati-hatinya. Dan benar yang dibilang Fakur, bubur ayam ini memang enak sekali, aku memarahi Fakur yang sangat lamban menyuapiku.
"Kamu kok lama sih suapinnya? aku lapar nih!" kataku.
"Sabar! kamu pasti ketagihan kan? sudah aku bilang bubur ayam ini beda dari bubur ayam yang lainnya," lanjutnya.
"He'em ya ya ya," jawabku.
"Pasti semuanya akan ludes ni karena kamu," ucap Fakur.
Aku hanya tertawa mendengar pernyataan fakur.
"Rencana," jawabku kemudian tertawa lepas.
"Mungkin ini efek kelaparan kali ya," jawabku.
Tak lama kemudian, Fakur menatapku dengan intens, seperti menginginkan sesuatu.
"Aduuh ... jangan sekarang," batinku.
Semakin dekat, semakin dekat wajah Fakur mendekati wajahku dan aku hanya menutup mata karena tidak mau menyaksikannya secara langsung.
"Kalau makan itu pelan-pelan dong, ini sampai ada nodanya di mulut kamu," jawab Fakur yang memegang noda bubur.
"I-iya ...," jawabku terbata-bata.
"Bukan sekarang waktunya," bisik Fakur ke telingaku.
"Tuh ada Cctv, ntar kita dituduh yang nggak-nggak disini," jawab Fakur yang melirik sudut ruangan ini, dan benar terdapat Cctv di atasnya.
__ADS_1
"Siapa sih yang mau itu, yakali aku masih polos tahu," jawabku dengan mulut sedikit monyong ke depan.
"Makin gemes deh," kata Fakur kemudian mencubit kedua pipiku.