Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 28 rumah sakit ( bagian 2 )


__ADS_3

" Ibu, jangan pergi!" teriakku.


Ibu tidak mendengar teriakanku, dia terus berjalan menjauh dariku.


" Aku tidak mau jauh dari ibu, ibu!" teriakku sekali lagi.


" ibu.. ibu..uu.." isakku, kemudian menangis.


" Nak, kamu kenapa nak? ibu disini nak, ibu tidak pergi!" ucap seseorang yang sangat jelas aku dengar.


Kemudian perlahan-lahan kubuka mata, dan kudapati ibu dan Qiran sedang menangis.


" Ibu dan Qiran kok menangis?" tanyaku seperti gadis polos.


" Nggak apa-apa nak, ibu dan Qiran hanya kurang tidur saja," jawab ibu, sambil mengusap air matanya.


" Iya kak, Qiran dan ibu hanya kurang tidur saja," tambah Qiran


" Sekarang sudah jam berapa bu?" tanyaku.


" Jam lima pagi nak," jawab ibu.


Kemudian aku beranjak dari tempat tidur, membuat tanganku yang diinfus mengeluarkan darah.


" Kamu kemana nak? kamu tidak diperbolehkan untuk pergi dari sini, nak!," ucap ibu.


" Rani, dimana bu? kok tangan Rani di infus?" tanyaku.


" Kamu lupa nak, sekarang kamu di rumah sakit," jawab ibu.


" Astagfirullah, Rani lupa bu," ujarku.


" Ibu, Rani mau pergi sekolah ya, Rani tidak mau berlama-lama di rumah sakit. Rani mau sekolah," ujarku.


Ibu hanya diam dan tidak menjawab.


" Kakak belum sembuh total, tiga sampai empat hari kakak akan pulang, percaya deh sama Qiran, asal kakak masih bersemangat untuk sembuh," semangat Qiran.


" Kenapa tidak sekarang?" tanyaku, seperti anak kecil yang merengek minta pulang.


" Sekarang kakak dalam masa pengobatan. Jadi, kakak harus di rumah sakit dulu, supaya ditangani dengan dokter," ujar Qiran.


" Iya deh," jawabku pasrah.


" Kamu ini Ran, lebih bijak Qiran dari kamu," cetus ibu.


" Hehe Rani kan sakit bu," jawabku sedikit tertawa kecil.


Kemudian datanglah seseorang perempuan yang masih terlihat muda katanya pegawai kebersihan di rumah sakit ini. Dia menyuruh ibu dan Qiran keluar sebentar, karena dia ingin membersihkan ruangan tempatku dirawat, sekarang hanya tinggal aku dan dia di ruangan yang agak luas ini.


Pegawai tersebut, sepertinya pegawai baru. Atau dia bisa digolongkan vase baru belajar membersihkan, sebab kerjanya sangat lama, dan membuatku bosan dan risih. Kalau dilihat ruangan seperti ini, hanya sebentar untuk dibersihkan, apalagi dia hanya menyapu dan mengepel lantai saja.


" Maaf sebelumnya mbak, bisa cepat sedikit tidak mbak? saya lapar, dan saya mau makan dan disuapi oleh ibu saya yang sedang berada diluar, jika mbak lama seperti ini saya bisa mati kelaparan mbak, " ujarku dengan sopan.


Dia tidak bergeming, dan masih fokus dengan pekerjaannya.

__ADS_1


" Mbak.." panggilku.


" Hello mbak.." panggilku dengan melambaikan tanganku.


" Iya ada apa mbak?" tanyanya sedikit terkejut, kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam kerudung yang dia pakai.


" Maaf mbak, apakah mbak memanggil saya tadi?" tanyanya.


" Maaf mbak, saya sudah terbiasa bekerja sambil mendengarkan musik, jika tidak, kerja saya bisa jadi lambat mbak," jelasnya.


" Apa? cepat? selambat itu dibilang cepat? gimana kalau dia lambat ya? pasti seperti siput yang sedang berjalan," batinku.


" Iya mbak, tidak apa-apa. Bisa mbak cepat sedikit! saya lapar dan mau makan" ujarku


" Oke-oke mbak," jawabnya menyetujui.


Cepat atau lambat sama saja, kerja dia masih lambat yang aku rasakan, mungkin baginya dia cepat, tapi ini sangat lambat bagiku. Aku hanya pasrah aja melihat tingkahnya seperti itu, walaupun jiwanya masih muda, tetapi ototnya sudah tu.


Tak lama kemudian, pegawai tersebut pergi dan ingin menuju ke ruangan yang lain.


Dengan waktu yang sama, ibu dan Qiran masuk ke ruanganku.


" Kak, lama amat ya ibu-ibu itu," ujar Qiran.


" Hehe biarin saja Qiran, mungkin dia baru kerja disini," jawabku.


" Ibu, Rani mau ma-mandi!" ucapku dengan terbata-bata karena sedari tadi aku mau makan, dan kuurungkan niat untuk makan menjadi mandi.


" Nanti ya nak, tunggu dokter datang dulu. Kalau diizinkan sama dokter baru mandi," jawab ibu.


" Tapi Rani sudah tidak tahan lagi bu, kenapa harus tunggu dokter segala? toh bukan dia yang mandikan Rani, Rani sendiri kok yang mau mandi sendiri," ujarku tanpa berhenti.


Tak lama kemudian, datanglah dokter ke ruanganku. Dokternya masih terlihat sangat muda dan mempesona. Melihat dia memeriksa keadaanku dengan teliti membuatku sedikit kagum.


" Ya ampun, inilah makhluk ciptaan tuhan yang sangat sempurna," batinku sedikit kagum.


" Heh, apaan aku ini?" batinku, dan menggelengkan kepala.


" Keadaan anak ibu masih belum stabil, mungkin ini karena anak ibu masih banyak memikirkan sesuatu. Jadi, tubuhnya tidak bisa beristirahat dengan total." ucap dokter tersebut kepada ibu.


" Adek, sudah mikirin pacarnya ya! pikirin kesehatan dulu, kesehatan yang terpenting saat ini," ujar dokter tersebut kepadaku.


Aku hanya tersenyum melihat ke arah dokter tersebut.


" Dan satu lagi bu, jangan sampai dia terlambat makan, karena bisa-bisa membuat sakitnya kambuh lagi," ucap dokter itu lagi.


" Dan rajin minum obatnya ya dek" ucap dokter tersebut kepadaku sekali lagi.


" Jika adek rajin minum obat dan tidak makan terlambat lagi, dalam empat atau lima hari lagi, adek bisa pulang ke rumah,dan bisa melaksanakan aktivitasnya sehari-hari," ujar dokter tersebut.


" Iya dok, terimakasih!" jawabku.


" Oh iya om dokter, kakak saya ini mau mandi, apakah dia bisa mandi dengan keadaan yang sekarang ini?" tanya Qiran.


" Uh si Qiran pandai banget cari-cari perhatian, " batinku.

__ADS_1


" Belum bisa ya bu," jawab dokter.


" Iya dok, terimakasih!" jawab Qiran dengan cuek.


" Hehe rasain dibilang ibu sama dokter tampan, dianggap sudah tua kali ya? aduh.. malunya hehe," batinku.


Kemudian dokter tersebut pergi meninggalkan ruanganku. Dan aku masih memandangi punggung dokter itu, hingga tidak nampak lagi. Refleks, Qiran membuat pandanganku terhenti.


" Eit, kakak tak boleh begitu, nanti kak Farhan marah!" ujarnya.


" Apa sih?" gertakku.


" Kamu ini selalu terus menganggu kehidupanku, pergi sana cari pacar! jangan cari kawan saja," ujarku kepada Qiran.


" Udah ada kok," jawabnya.


" Mana? jangan asal ngemeng saja" tanyaku.


" Ngomong kak, bukan ngemeng," tutur Qiran.


" Ih aku cuma bercanda aja tahu!" gertakku


" Gimana rasanya dipanggil ibu tadi ya?" tanyaku sedikit menyinggung Qiran.


" Apaan sih, tuh dokter belum ngizinin kakak mandi dulu. Jadi, jangan ngeyel minta mandi terus!" ujar Qiran yang mulai cerocos.


" Bilang saja kamu dilema kan dibilang ibu sama dokter tampan tadi? takut dianggap tua, hu," ejekku.


" Ih nggak lah kak, tampan darimana? dari Hongkong? om-om seperti itu bukan tipe aku tahu!" jawabnya.


" Bukan tipe gimana? buktinya iler kamu hampir keluar melihat pesona dokter ganteng itu, hahaha" ejekku.


" Ish, mana ada?" jawabnya dengan menutup mulutnya itu.


" Hah kan iya? kamu iler. Buktinya tuh! sudah kamu tutupi saja dari tadi," candaku.


" Ibu, kakak bu!" rengek Qiran ke ibu.


" Aduh! adik aku yang satu ini bisa merengek juga ya, hehe" ejekku.


" Sudah, sudah. Nanti pasien yang lain terganggu karena kalian ribut seperti ini," ujar ibu menghentikan kami.


" Iya, iya deh bu" jawabku.


Kemudian aku dan Qiran diam satu sama lain, karena tidak mau pasien lain terganggu oleh kami yang sedari tadi berdebat.


Tak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu ruanganku dengan pelan.


" Kakak, itu siapa? dokter tadi kah? apakah dia merasa aku tidak pantas dipanggil ibu, dan dia datang kesini untuk minta maaf kepadaku?" tanya Qiran dengan mata yang berbinar-binar.


" Ah kamu mah banyak halunya, haha," ejekku.


Kemudian masuk seseorang tersebut ke ruanganku, dan ternyata dia adalah Fakur yang sedang memakai seragam sekolah.


" Fakur?" panggilku.

__ADS_1


" Iya, kamu sudah mendingan?" tanya Fakur.


" Alhamdulillah sudah, sedikit!" jawabku.


__ADS_2