
"Kakak mau ikut denganku?" tanyanya.
"Kemana?" tanyaku.
"Mau apa nggak?" tanyanya sekali lagi.
"Hmm ... okedeh," jawabku.
"Bentar ya kak," jawabnya.
Laki-laki itu berlalu dan pergi ke sebuah toko, dan tak lama kemudian dia kembali dengan membawa sepeda motor.
"Yuk, naik!" ajaknya.
"I-ini motor siapa? ka-kamu mencuri?" tanyaku terbata-bata.
"Motor aku lah," jawabnya.
"Okelah," jawabku sambil naik keatas motornya.
Aku sangat menikmati suasana diatas motor bersama laki-laki itu. Untuk pertama sekalinya aku bermain dan diboncengi seorang laki-laki.
Tak lama kemudian, kami sampai di satu tempat yang sangat indah dan sejuk ditambah pemandangan danau yang airnya belum tercemar oleh kotoran lain.
"Ini dimana?" tanyaku seraya menikmati udara di tempat itu, sejuk, dingin, dan indah.
"Disinilah tempat ternyaman yang pernah aku kunjungi, tempat meluahkan segala beban hidup yang dimiliki, tempat bolos sekolah yang tepat ialah disini," jawabnya dengan senyum.
"Lebih tepatnya lagi tempat ini telah menjadi saksi ...," perkataan nya terhenti.
"Saksi?" tanyaku melihat kearah wajahnya yang mulai memerah.
Lelaki tersebut menatap kearahku dan seperti berusaha untuk tegar.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
Dia hanya diam seribu bahasa, serasa aku seorang diri yang duduk di tempat ini.
Tiba-tiba dia mengeluarkan secarik kertas dan botol lengkap dengan alat tulisnya.
"Untuk apa itu?" tanyaku
"Dia sangat misterius," batinku.
__ADS_1
Dia hanya diam, menuliskan sesuatu yang entah apa isinya. Tak lama kemudian, kertas itu di gulingkan di telapak tangannya, kemudian memasukkan kedalam botol tersebut dan membuangnya ke danau tersebut.
15 menit kemudian dia mengangkat mulutnya.
"Kakak pasti heran dengan yang aku lakukan tadi?" tanyanya.
"Nggak kok," jawabku berbohong.
"Aku ini hanya risih kenapa kita sudah sejauh ini tapi aku belum bisa mendengar siapa namamu?" tanyaku.
"Oh itu. Maaf kak, aku lupa," jawabnya dengan tertawa kecil.
"Namaku Farhan Kurniawan, tapi kakak bisa panggil aku Farhan," jawabnya.
"Oo ... gitu," jawabku disertai anggukan.
Kemudian tidak ada satu dari kami yang memulai pembicaraan.
Tak terasa kami sudah lama disini, membuat suara buruh dari langit kalah dari suara rengekkan cacing-cacing di perutku.
"Yuk kita pulang," ajaknya.
Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan.
Hujan semakin bertambah derasnya, tetapi laki-laki itu tetap saja melanjutkan perjalanan untuk pulang tanpa singgah sekalipun. Tubuhku menggigil karena menahan dingin, laki-laki itu tak kalah dinginnya dariku. Aku memeluk laki-laki itu layaknya milea memeluk Dylan untuk menaklukkan rasa dingin yang kurasakan saat ini.
Segera ku turun dari motornya dan berlari tanpa menghiraukan dia yang sedari tadi menatap kearahku.
🌱🌱🌱
"Assalamualaikum," sapaku.
"Waalaikumsalam," jawab ibu, "dari mana saja kamu Rani? sudah jam segini baru pulang, cepat ganti baju lalu mandi, terus minum obat yang ada di kotak P3K itu!" perintah ibu.
"Anaknya baru pulang bukannya di sayang malah omelan yang didapat, ya sudahlah aku ganti baju saja dulu" gerutuku dalam hati kemudian berlalu meninggalkan ibu.
(kamar)
"Rani," panggil ibu.
"Iya Bu, ada apa?" tanyaku.
"Ada apa-ada apa, ini sudah ibu buatkan sayur bayam kesukaan kamu, nanti keburu dingin, ingat jangan sampai terlambat makan," suruh ibu.
__ADS_1
"Iya ibu, sebentar lagi Rani keluar" jawabku.
"Rani sudah siap Bu, mana sayur bayamnya?" tanyaku.
"Udah habis kak," jawab Qiran.
"Ngajak berantem?" tanyaku mengancam.
"Sudah-sudah! cepat makan! nanti keburu dingin," lerai ibu.
Karena kehujanan tadi membuat selera makanku bertambah. Aku makan dengan lahapnya, sehingga ibu, Qiran dan Dika terheran-heran melihat keanehan ku.
"kak,"
"kak,"
"kak,"
"Ini beneran kakak atau jin? kok makannya kayak orang keserupan gitu?" tanya Qiran dengan mata yang penuh tanda tanya.
"Iya aku jin, mau apa kamu?" jawabku.
"Astaga ...," jawab Qiran
"Ish ... gak mungkin Jin secantik ini, kamu kali yang jin," jawabku dengan tertawa kecil.
"Jin seokjin oppa aku," jawab Qiran dengan girangnya.
"Dasar jin Tomang," ejekku kepada Qiran.
"Rani, Qiran udah, ini ada Dika disini, nanti dia ngikut juga," lerai ibu.
"Baik, Bu" jawab kami bersamaan.
Makan malam sudah selesai, kubantu ibu mengambil piring diatas meja makan dan memindahkan nya ke dapur, tak kalah dengan Qiran juga ikut membantu.
Kulihat ibu seperti memikirkan sesuatu, kuhampiri ibu yang sedang duduk diatas sofa empuk di ruang tamu.
"Ibu mengapa disini?" tanyaku dan membuat lamunan ibu terhenti, "dilihat dari wajah Ibu lagi memikirkan sesuatu, ada apa Bu? ceritain saja sama Rani, Bu," tanyaku.
"Tidak apa-apa Rani, ibu kekenyangan nih," jawabnya.
"Ini sudah jam berapa, ayo tidur! besok sekolah kan?" lanjutnya.
__ADS_1
"Iya Bu, Rani tidur dulu ya"
Melihat dari tatapan ibu kepadaku seperti ada yang disembunyikannya. Tapi dia tidak ingin aku mengetahuinya, entah apa itu, yang pasti aku sangat kasihan melihat ibu seperti itu