Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 38


__ADS_3

🌱🌱🌱


"Iya, aku Bagas. Aku mau kau membayar semuanya sekarang!" ucap Bagas seperti hewan yang ingin memangsa sesuatu.


"Membayar?" tanyaku kemudian melirik sebuah botol minuman keras dan sebungkus rokok yang terletak di atas meja.


"Atas apa?" lanjutku.


"Kau jangan berpura - pura tidak mengetahui ini, kau berbohong kan?" gertak Bagas.


"Aku tidak mengerti yang kau maksud," jawabku.


"Ka-kau mau a-apa?" tanyaku terbata - bata.


"Aku ingin dirimu," jawab Bagas dengan penekanan kata di akhir, dan perlahan mendekatiku.


"Jangan mendekat! atau ...," perkataan ku terputus.


"Atau apa? atau kau mau kabur? " Bagas tertawa "semua telah aku kunci," Bagas tertawa jahat.


"Ku perintahkan kau jangan mendekat, atau aku akan berteriak!" ucapku.


Ketika hendak berteriak, Bagas dengan sigap menutup mulutku dengan telapak tangannya, dan membuatku sulit untuk bernafas.


Aku berusaha untuk melakukan perlawanan tetapi Bagas sangat kuat, kemudian Bagas men*iumiku dengan paksa, bersamaan dengan itu, seseorang memukul punggung Bagas dari belakang.


"Bugh,"


Dan Bagas terpelanting hingga pingsan di lantai.


"Kamu tidak apa - apa?" tanya seseorang dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Aku tidak apa - apa, terimakasih kamu telah membantuku, Fiyan," ucapku.


"Sama - sama," jawabnya.


"Maafkan aku," lanjut Fiyan menunduk.


"Atas apa?" tanyaku.


"Aku yang telah memberi ide ini kepada Bagas, tetapi aku tidak ...,"


"Plakk ...."


Satu tamparan melayang di pipi Fiyan.


"Kau jahat!"


"Kau tak ada bedanya dengan dia," ucapku kemudian menunjuk ke arah Bagas yang telah terbaring di lantai.


"Aku mohon maafkan aku, aku ...,"


POV FIYAN


[Hey bro, Rani tidak ingat janjinya ama gue bro] dari Bagas.


[Terus, gue harus apaan?] balasku.


[Bantu gue bro] balas Bagas, kemudian mengirimkan isi chattingan nya dengan Rani.


[Bantu gue, plis plis!]


[Lu kan sepupu terbaik gue, jadi bantu gue ya!] lanjutnya.

__ADS_1


Sebenarnya aku tidak suka mendengar Bagas mendekati Rani, jangankan membantu, mendengar dia chattingan dengan Rani telah membuat jantungku ingin menghajar Bagas yang ada disana.


[Oke deh, gua akan bantu lu]


[Sebelumnya lu buat alaram pagi dulu untuk sholat subuh, kemudian lu datang ke rumah gue, kita akan berunding disana] balasku.


"Oke oke, perintah lu akan gue laksanakan] dari Bagas.


🌱🌱🌱


Tepat siap sholat subuh Bagas datang ke rumahku, dengan ekspresi yang sangat serius.


"Eh Yan, jadi lu mau buat rencana apa?" tanya Bagas.


"Gini Gas, lu ajak aja Rani ketemuan di belakang sekolah kita, disana kan ada gudang, tempat lu biasa ngerokok, jadi bisa lu curahkan isi hati lu sama Rani, disana," jelasku.


"Ya elah elu, jangankan mau ketemuan, lihat gue aja dia kaga mau," ucap Bagas.


"Tenang! gue akan bujuk dia ketemuan sama elu di belakang sekolah," ucapku.


"Terus?" tanya Bagas.


"Terus lu pura - pura ngilang, ketika gue lagi cari elu, saat itu juga lu tarik tangan Rani masuk ke gudang," lanjutku.


"Nah gue suka ide lu nih," jawab Bagas menerawang langit - langit rumahku, kemudian tersenyum sinis.


"Terus lu kunci kami berdua di dalam, dan jangan bukain sebelum gue kasih aba - aba," ucap Bagas.


"Tapi lu ingat, lu hanya mengatakan perasaan lu ke Rani, jangan sampai macam - macam!" perintahku.


"Ya elah, nggak mungkin lah, yakali nyakitin belahan jiwa gue," jawab Bagas.

__ADS_1


"Ya udah, terimaksih! gue pulang dulu," ucap Bagas kemudian pergi.


"Untuk saat ini, aku tidak mengerti arti dari senyumannya itu," batinku.


__ADS_2