
🌱🌱🌱
BACK TO STORY
"Rani, melamun aja, apa sih yang di pikirin?" sanggah Salsa menepuk bahuku.
"Eng-enggak ada, kita pulang aja yuk!" ajakku.
"Yuk,"
Kemudian aku dan Salsa segera untuk pulang. Tetapi, tepat di depan pintu klinik kami di paksa berhenti oleh sekumpulan senior lain. Melihat tingkah mereka yang seperti ini membuat kami sangat risih.
"Kalian tidak boleh keluar!" ucap salah satu senior.
"Loh, kenapa? kami kan mau pulang," jawab Salsa.
"Pokoknya tidak boleh ya tidak boleh!" gertaknya dan mendorong kami dengan kasar.
"Kakak jangan kasar gitu dong ke perempuan," ujarku.
Bersamaan dengan itu, kak Victori datang dengan lima kotak bubur ayam di tangannya.
"Loh, ini kenapa?" tanya kak Victori.
"Itu bos, mereka mau keluar," ucap senior itu.
"Aduuhh ... biarin aja. Kenapa kalian larang mereka?" tanya kak Victori, senior yang lain menatapnya dengan heran.
"Ta-ta ...." perkataannya terputus.
"Ini aku bawa bubur ayam untuk kamu Rani, supaya kamu bisa memakannya di kos nanti," ucap kak Victori memotong pembicaraan dari temannya yang lain.
"Aduh kak, aku ngerepotin kakak. Maaf ya," ucapku.
"Enggak apa - apa kok, ini semua memang untuk kamu, lagian kamu seperti ini gara - gara aku juga," jelasnya.
"Kalau bisa kamu makan dengan Salsa juga," melirik ke Salsa.
__ADS_1
"I-iya terimakasih, kak," ucapku.
Tak lama kemudian, aku dan Salsa pamit kepada kak Victori dan senior lainnya untuk segera pulang.
Anehnya, senior - senior itu sangat patuh kepada kak Victori.
☘️☘️☘️
"Rani, kak Victori baik banget ya sama kamu," ucap Salsa sambil memakan bubur ayam yang dibelikan oleh ketua BEM tadi.
"Jangan - jangan ...."
"Husst ...," ujarku menutup mulut salsa dengan jari telunjukku.
"Jangan bahas dia lagi," ucapku.
"Oh iya, aku teringat dengan Fiyan, sedang apa di sekarang?" ujarku.
Tak lama kemudian, terdengar suara klakson motor seorang dari luar kos - an.
"Itu siapa Sal?" tanyaku.
Kemudian aku dan Salsa keluar dari kamar dan segera menuju ke sumber suara.
Bersamaan dengan itu, seseorang yang pernah bersamaku dulu dalam suka dan duka juga keluar dari kamarnya.
Ya ... dia adalah Nita.
Kemudian Nita keluar dengan sangat terburu - buru, sepertinya yang datang adalah tamu Nita.
"Rani, itu pasti Fakur, kamu di kamar aja, nggak usah kesana," ucap Salsa.
"Enggak apa - apa ...," jawabku.
Bersamaan dengan itu, suara seseorang berasal dari luar seperti sedang memanggilku.
"Eh Sal, sepertinya ada yang manggil aku ya?" tanyaku.
__ADS_1
"Iya sih Ran, yuk kita keluar!" ajak Salsa.
Kemudian aku dan Salsa keluar, setibanya disana kami mendapati Fakur yang masih berduaan dengan Nita.
"Eh disini ada ulat bulu jantan dan ulat bulu betina nih Rani, baik kita pergi dari sini daripada ketularan gatalnya," ejek Salsa.
"Eeeh ... nggak boleh seperti itu, Sal, Nita kan teman kita juga," ucapku.
"Serah deh, Rani, aku pergi dulu," ucap Salsa kemudian pergi.
Kemudian Salsa bergegas pergi dan meninggalkanku bersama dengan Fakur dan Nita.
"Farhan Kurniawan yang aku kenal dulu, ternyata dia di depanku sekarang," ucapku.
"Iya, aku Farhan, emang ada apa?" tanyanya.
"Benar katamu, negara kita negara hukum dan aku juga tidak buta, aku telah melihatnya dengan mata sendiri," jelasku.
"Emang apa urusannya ama lu?" gertak Fakur.
"Elu nya percaya ama gue, elu mah masih beruntung belum gue apa - apain, noh kawan Nadya udah pernah gue ajak ke hotel," ujar Fakur khas seperti playboy tingkat dewa.
"Apa?" gertakku.
"Elu mau sekarang?" tanyanya kemudian mendekatiku.
Nita yang melihat tingkah Fakur hanya diam memandangi ulat bulu jantan itu, Fakur semakin dekat dan nekat, tiba - tiba dengan cepat dia memelukku dengan paksa aku berusaha untuk melawannya.
"Lepaskan aku! lepaskan!"
Bugh ....
Bugh ....
Bugh ....
Seseorang memukul ulat bulu itu dari belakang hingga terpelanting dan kepalanya terbentur ke tembok pagar besi di halaman kos.
__ADS_1
~~