
🌱🌱🌱
"Oh ya, kamu udah makan? aku tadi belikan ini di kantin kampus, kamu suka?" ucapnya sembari melihatkan kotak makanan itu kepadaku.
Aku melirik isi didalam kotak itu, dan ternyata tidak bisa kubayangkan sebelumnya. Itu adalah bubur ayam, ya bubur ayam mengingatkan akan kenangan Fakur di masa lalu.
Aku ingin menolaknya, tetapi aku tak sanggup, karena menolak pemberian dari seseorang bisa membuat orang itu berkecil hati. Tetapi jika di lihat bubur ayamnya enak juga. Hehe ....
Apalagi kata ayah, aku tidak boleh terlambat makan, karena jam makanku diberi jadwal dan sekarang ini adalah jam makanku.
"Su-suka kak," ucapku.
Dengan segera kak Victori menyuapkan satu sendok bubur ayam kepadaku.
Tetapi segera ku menolaknya, karena ini bagian dari kenanganku dengan Fakur juga kan?
"Bi-biar aku saja kak, untuk apa tangan diciptakan, jika aku masih minta bantuan kakak?" tanyaku.
"Sudah, aku saja, kamu kan sakit," tegasnya.
"Aku aja kak," segera ku rebut sendok dan kotak bubur ayam itu dari kak Victori.
"Kamu sangat suka bubur ayam, ya?" tanyanya.
"Aku bisa belikan lebih," lanjutnya.
Bersamaan dengan itu, suara gaduh terdengar diluar ruangan klinik.
"Ada apa diluar kak?" tanyaku.
"Mu-mungkin itu te-teman kakak lagi la-latihan," ucap kak Victori terbata - bata.
"Rani ...." ucap seseorang kemudian memelukku.
"Kamu tidak apa - apa kan?" tanyanya.
__ADS_1
"Salsa?" ucapku.
Ya ... itu adalah Salsa, temanku yang ceplas-ceplos, hehe ....
"Aku tidak apa - apa kok, mungkin karena mimisan," jawabku.
"Kak, bisa tinggalkan aku berdua dengan Salsa, nggak?" ucapku.
Kak Victori menatap Salsa kemudian kembali menatapku, dan keluar pergi meninggalkan ruangan ini.
Aku memandangi punggung kak Victori sampai dia tidak terlihat lagi. Tapi aneh, teman - teman kak Victori tidak mengikuti kak Victori, mereka masih berkumpul di depan ruangan klinik.
"Kamu kenapa Rani?"
"Jangan - jangan ...."
"Kamu su ...,"
Perkataan Salsa terputus karena tanganku menutup mulutnya yang ceplas - ceplos itu.
"Fiyan mana?" tanyaku sedikit berbisik.
"Berarti ketua BEM itu berbohong padaku," ucapku.
"Atas apa?" tanya Salsa.
"Nanti aja aku ceritakan di kos," ucapku.
Serasa badanku sudah segar kembali, mimisan di hidungku juga tak keluar lagi.
"Sal, kita ke kelas yuk, aku mau ngampus,", ucapku dan segera bangkit.
"Ngampus apanya? orang udah pulang dari tadi," tutur Salsa.
"Apa? absen aku gimana?" tanyaku sedikit terkejut.
__ADS_1
"Beres," ucap Salsa tersenyum lebar.
"Aduuhh ... maaciw teman terbaik aku," memeluk Salsa.
Salsa juga membalas pelukan dariku.
"Oh iya, yang anehnya Fiyan juga nggak hadir di kelas," Salsa to the point.
"Dia sibuk dengan BEM nya," ucapku sedikit menunduk.
"Selama kamu pingsan, dan selama itu juga dia tidak hadir, kamu kan pingsan 10 jam," jelas Salsa.
"Apa? selama itu kah?" tanyaku sedikit teriak.
"He'em," ucap Salsa.
Aku terdiam sejenak memikirkan mimpi yang terjadi padaku tadi.
"Mimpi itu, sosok itu datang lagi," batinku.
🌱🌱🌱
Bersamaan dengan itu, di tempat yang berbeda. Tepatnya di mesjid kampus.
Seseorang dengan kusyuknya menunaikan sholat Sunnah, dan kemudian membaca Al Quran dengan fasihnya.
Ya ... dia adalah Fiyan.
POV FIYAN
Aku segera membopong Rani dengan darah penuh di sekitar mulut dan hidungnya.
Di pertengahan jalan, aku di hentikan oleh segerombolan teman dari ketua BEM.
Kampus masih sepi dan hanya ada satu - satu dari mahasiswa yang baru datang.
__ADS_1
Dengan segera ku hadang mereka, tetapi sebelum itu ku letakkan Rani di kursi di depan kelas.