Love Kamu 3000

Love Kamu 3000
part 17 inilah saatnya


__ADS_3

🌱🌱🌱


Tak lama kemudian, handphone Bagas berbunyi, dan dia menerima telepon dari seseorang di seberang sana.


Kelihatan dari raut muka Bagas pembicaraannya sangat serius, sehingga membuat wajah dan matanya memerah.


"Maaf Rani, aku harus pergi, karena ada sesuatu yang mengharuskan aku kesana," ujar Bagas.


"Dah semua, aku pergi dulu," lanjut Bagas.


Kemudian Bagas pergi dan hanya punggungnya saja yang terlihat, lama-kelamaan punggung tersebut menghilang.


"Alhamdulillah, benalu udah pergi," celoteh Nita.


"Benalu apaan?" tanya Salsa.


"Hehe ... nggak ada, Sal," jawabku.


Tak lama kemudian, terdengar suara motor berserak, ciri khas suara dari motor Fakur.


"Tuh Rani, degdegan," ledek Nita.


"Oh jadi karena ini, kalian anggap Bagas itu benalu, oh amazing!" jawab Salsa tak kalah.


"Assalamualaikum," sapa seseorang dari luar.


"Waalaikumssalam, silahkan duduk!" ujar Nita.


"Iya terimakasih kak," jawabnya.


"Hey, tuan rumah aku, bukan kamu," bisikku kepada Nita.


"Maaf, habis aku terpana sih lihat tampilan Fakur, keren pakai banget," ujar Nita.


"Dasar, dia itu punya aku, titik nggak pakai koma," ledekku.


heemm ....


"Mau minum apa?" tanyaku kepada Fakur sedang menatap orange juice diatas meja.


"Teh susu ada nggak?" tanyanya.


"Apa? teh susu?" tanya kami bersamaan.


"A-ada," ucapku terbata-bata.


"Eh kompak," ujar Fakur.


Kami bertiga hanya senyum satu persatu.


Tak butuh waktu lama bagiku untuk membuatkan Fakur minum.

__ADS_1


Ketika hendak menuju ke ruang tamu, seseorang memanggilku dari arah kamar mandi.


"Rani,"


"Rani,"


"Rani,"


Kemudian segera kubuka pintu kamar mandi, dan tidak didapati seseorang disana.


Ketika hendak berjalan, bayangan seseorang melintas tepat di depanku.


Bersamaan dengan itu, semua benda-benda yang berada di dapur samar-samar terlihat olehku.


☘️☘️☘️


"Kamu kenapa bisa sampai pingsan begitu Rani?" tanya Salsa.


"Apa? aku habis pingsan?" tanyaku heran.


"Iya kamu pingsan, dan seketika badan kamu juga panas," ucap Nita.


"Ya ampun, aku tak tahu sama sekali yang terjadi," ujarku berusaha untuk mengingat.


"Aku ada dimana?" tanyaku.


"Di kamar lah," jawab Nita dan Salsa bersamaan.


☘️☘️☘️


(ruang tamu)


"Kak?" panggil Fakur.


"Maaf telah ninggalin kamu sendirian," ujarku.


"Nggak apa-apa," jawab Fakur.


"Aku suka kakak, maukah kakak jadi kekasihku?" tanyanya to the point.


"Kamu masuk pria gentleman juga ya," jawabku.


"Bukan itu jawaban yang aku tunggu dari kakak," ujar Fakur serius.


Kemudian aku hanya melontarkan senyum ke arahnya.


"Jangan senyum, aku nggak akan kuat," gombalnya.


"Jadi gimana jawabannya?" lanjutnya.


"Jawaban apa?" tanyaku seperti orang yang tidak tahu.

__ADS_1


"Aku tidak suka orang yang bertele-tele," jawabnya.


"Aku tidak bisa!" jawabku, kemudian melihat ke wajah Fakur.


Ekspresinya saat ini menggambarkan bahwa pemiliknya lagi dilanda badai cinta yang dahsyat, mukanya memerah dan tidak terasa bulir bening jatuh ke pipinya yang mulus itu.


"Ya sudah kak, aku pamit," jawabnya.


"Aku sudah tahu jawaban dari kakak, dan untuk saat ini, pasti aku telah menganggu hari-hari kakak," jawabnya dengan menunduk.


"Eh jangan sedih," jawabku kemudian mengarahkan kepalanya kearahku.


"Aku sudah tahu kak," jawabnya.


"Emang apa?" tanyaku.


"Kakak nggak akan terima adik kelas yang dekil ini," jawabnya.


"Boong,"


"Aku tidak bisa katakan tidak setelah aku dengar suara hatimu, sayang," jawabku.


"Apa? jadi kita ...," perkataannya terputus.


"Jadian," jawabku.


Ekspresi Fakur berubah dan terlihat sangat bahagia, dia terlihat lebih cerah dari sebelumnya.


Tak lama kemudian, bel berbunyi 'Ting tong'.


Aku sedikit berlari kearah pintu, dan ternyata itu adalah Qiran dan teman-temannya.


"Hallo kak," jawab Qiran.


"Ciee ... kakak pelatih ternyata akan jadi kakak ipar aku," ledek Qiran.


Sontak semua teman Qiran menyoraki kami lagi bersamaan.


Kemudian Nita dan Salsa keluar dari kamarku.


"Ada apaan ini?" tanya Salsa.


"Eh Qiran, apa kabar?" tanya Salsa kepada Qiran


"Baik kak, Qiran ke kamar dulu," jawab Qiran.


"Oke," jawab Nita dan Salsa bersamaan.


Qiran sedikit berlari menuju ke kamarnya, dan tidak menghiraukan teman-temanya yang ada di dalam rumah.


"Dasar! makin lama makin menjadi sikap ke tomboy-an nya," gerutuku kepada Qiran.

__ADS_1


__ADS_2