
🌱🌱🌱
"Aku" tanya orang itu.
"Iya, kamu orang yang sangat aku sayang setelah keluargaku, dan sekarang kamu juga yang telah menyakitiku," jelasku.
"Semacam apa?" tanyanya.
"Jalan dengan sahabatku sendiri," jawabku.
"Jika kamu percaya apa kata orang lain, berarti kamu sama dengan orang buta," jawabnya dengan bijak.
"Untuk apa mata diciptakan, jika masih percaya perkataan orang lain,"
"Negara kita, Negera hukum. Jadi jika kamu menuduh seseorang harus dengan bukti, karena dengan kamu bertindak sepele akan merugikan dirimu sendiri dan akan dijauhi orang lain," jawab seseorang itu kemudian pergi.
"Fakur benar, buat apa mata di ciptakan jika masih percaya dengan penglihatan orang lain, itu sama saja aku dengan orang buta," batinku.
"Dia selalu berkata bijak dan selalu membuat hatiku tersentuh atas perkataannya," batinku.
"Andai kau tahu perasaanku saat ini, Fakur," batinku.
Tak lama kemudian, terlintas dibenakku bayangan Bagas. Entah kenapa Bagas senekat itu terhadapku.
Apa mungkin itu karena dia minum minuman keras itu? jadi dia tidak tahu apa yang dilakukannya. Tapi, kalau orang mabuk biasanya selalu jujur, jadi selama ini Bagas ingin melakukan hal itu kepadaku?
Bagas tidak tahu apa - apa, ini semua idenya Fiyan, aku nggak nyangka Fiyan yang aku sukai diam - diam itu juga mempunyai ide yang sangat negatif itu, padahal dia anak seorang haji, dia telah membuatku ilfeel akan fikirannya itu
Tak lama kemudian, suara seseorang yang sangat kukenal telah menyapaku dan menghampiriku kemudian duduk di sampingku.
__ADS_1
"Rani, aku mohon maafkan aku," ujarnya.
"Kenapa kamu mempunyai fikiran yang sebodoh ini, Fiyan?" tanyaku.
Tak terasa bulir bening jatuh di pipiku, entah kenapa aku bisa menangisi kelakuan Fiyan seperti ini, serasa Fiyan tidak bersalah.
"Iya, ini ide dari aku, tapi ketika terjadi di dalam, itu hanya inisiatif nya bagas," jelas Fiyan.
"Aku gak percaya," ucapku.
"Apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa percaya denganku lagi, Rani?" tanya Fiyan.
"Jauhkan aku mulai dari sekarang!" ujarku.
"Aku tidak bisa!"
"Aku tidak bisa menjauh darimu, karena aku menyukaimu," ucap Fiyan.
🌱🌱🌱
Hari ini, hari yang sangat menengangkan buat aku dan murid - murid yang lain, karena ini adalah hari kelulusan kami semua.
"Aku sangat gugup nih, gimana dong?" ucap Nita.
"Eleh, biasa aja tuh, kalian semua aku lulusin," ucap Salsa percaya diri, tetapi tidak menatap ke arah wajah Nita.
"Dasar!"
"Oh iya, aku dengar dari buk Hanum hanya satu diantara kita semua yang nggak lulus, dia dari kelas kita," ujarku.
__ADS_1
"Serius kamu Rani?" tanya Salsa cemas.
"Serius, dua rius malahan," ujarku.
"Aku takut gak lulus," Nita tak kalah cemasnya
"Aku juga," yoga menimpali.
"Dasar kebo! menyelonong aja lu," ejek Salsa terhadap Yoga.
"EGP," ucap Yoga.
"Benar kata Rani, salah satu di kelas kita ada yang enggak lulus," lanjutnya kemudian yoga mengedipkan sebelah matanya kepadaku.
"Ish gue nggak akan tergoda dengan kedipan lu," ledekku.
Nita dan Salsa bergantian memandangku, melihat itu, aku menjadi tahu apa maksud dari kedipan Yoga tersebut.
"Dan gue juga tahu siapa orangnya," lanjut Yoga.
"Yoga lu tahu?" tanya Nita.
"Siapa?" Salsa tak kalahnya.
"Dia lagi ngobrol nih dengan aku," ujar Yoga.
"Apa? aku?" tanya Salsa.
Bersamaan dengan itu.
__ADS_1
"Bugh ...," terdengar suara sesuatu terjatuh.