
🌱🌱🌱
Aku tak menyangka kenapa Qiran bisa mengatakan itu kepadaku, kenapa sekarang dia tidak menyukai Fakur? padahalkan dia yang pertama menyetujui aku dan Fakur.
Tak lama kemudian, bel di teras ditekan oleh seseorang. Dan membuat kebisingan seisi rumah.
"Siapa sih itu? main-mainin bel sembarang, itu bukan mainan," umpat ibu.
"Eits ... tunggu Bu. Biar Rani yang bukain," tawarku.
"Ya udah, buka sana! ibu mau ke dapur dulu," ucap ibu.
☘️☘️☘️
"Yassalam, ternyata kalian berdua yang mainin bel, dasar bocil," umpatku kepada Nita dan Salsa.
"Bukan aku, tapi salsa," Nita membela.
"Bukan aku, Nita," ucap Salsa.
"Kamu,"
"kamu,"
"kamu,"
"Kamu,"
Tak mau mendengar kehebohan mereka, tanpa basa-basi kutarik paksa lengan mereka dan menariknya untuk duduk di kursi tamu.
"Nah, kalau begitu kan enak, nggak ada kehebohan," ucapku.
"Iya Rani, aku juga, entah kenapa aku bisa bawa bocil satu ini kerumahmu," ucap Nita menunjuk ke arah Salsa.
__ADS_1
"Eleh, kamu tuh, yang bocil," jawab Salsa.
"kamu," jawab Nita.
"Yah, mulai lagi," batinku, "oh iya lanjut aja berantemnya, aku mau ambil minum dulu," pamitku kepada mereka yang masih berantem.
Tak lama kemudian, aku kembali dan melihat semua sudah diam.
"Loh, udah siap ya berantemnya?" tanyaku.
"Kan capek sendiri, ini nih minum," tawarku.
Kemudian mereka meminum minuman yang telah kubuat tadi dengan cepat.
"Udah lega, tadi aku kehabisan suara makanya kamu bicara aku malah bodoamat," ucap Nita.
"Ya elah, kok sama. Kamu ngikut ya?" jawab Salsa.
"Kamu kali yang ngikut," jawab Nita.
"Eh pelan-pelan dong minumnya, nanti bisa tertelan gelasnya kan bisa berabe," ucapku.
Aku dan Salsa tertawa terbahak-bahak karena melihat tingkah dari Nita.
"Eh iya Rani, udah berapa hari ini aku nggak lihat Bagas, emang dia dimana sekarang?" tanya Nita.
"Iya ya, aku terakhir kali lihat dia ketika bertamu ke rumahku, dan mendadak dia pamit untuk pergi, dan waktu itu kalian berdua disini kok," jelasku.
"Iya yah, sempat terlupakan anak itu, wkwkwk," ledek Salsa.
"Oh iya, Farhan gimana kabarnya?" tanya Nita.
"Baik, tadi dia sempat kesini sebentar," jawabku.
__ADS_1
"Oh ya, dia ngapain?" tanya Nita.
"Cuma bertamu aja," ucapku.
Salsa sedari tadi memperhatikan tingkah Nita ketika menanyakan tentang Farhan.
"Salsa kok aneh banget hari ini, tatapannya ke Nita selalu sinis, ketika membicarakan tentang Fakur," batinku.
Tak terasa Dika sedari tadi memanggilku dari kamarnya. Segera kuhampiri adikku itu.
"Ada apa?" tanyaku.
"Itu handphone kakak sedari tadi berbunyi," ucap Dika.
"Oh Yayaya, makasih ya adekku tersayong," ucapku.
Kemudian aku bergegas ke kamar untuk mengambil handphone.
Yang sempat membuatku terkejut, bahwa nomor baru yang meneleponku sebanyak 10 kali. Kemudian dia meneleponku sekali lagi.
"Hallo, ini siapa?" tanyaku.
"Aku mau bertamu ke rumahmu, sebentar lagi aku otw ya," ucap seseorang diseberang sana.
"Maaf, ini siapa?" tanyaku.
telepon terputus.
Aduh siapa lagi sih dia? kenapa selalu banyak nomor misterius masuk, kenapa aku banyak memiliki fans gelap, kalau fans seperti ini nggak apa-apa, tetapi kalau yang seperti malam tadi, aku tak sanggup.
Kemudian aku bergabung bersama Nita dan Salsa.
"Kamu kenapa Rani, gugup gitu?" tanya Salsa.
__ADS_1
Pada saat yang sama, suara motor seseorang masuk ke halaman rumahku