
🌱🌱🌱
Pelajaran sudah dimulai, untuk pertama sekalinya aku tidak bisa fokus belajar, hanya diam yang bisa kulakukan saat ini.
15 menit sebelum bel istirahat berbunyi. Perutku memberontak ingin diisi, tetapi bu Siti belum memberikan kode bahwa dia mau mengakhiri pelajarannya.
"Bu, izin permisi," kataku kepada bu Siti.
"Ya, silahkan!" jawabnya.
🌱🌱🌱
"Mie ayam satu, Bu!" kataku memesan makanan.
Belum habis memakannya setengah, seseorang menepuk punggungku dari belakang, sontak membuatku tersedak.
"Eh maaf Rani, ini minum kamu," ucap Nita sambil memberikanku gelas.
"Gila lu ya, gue gak mau gelas kosong," jawabku dengan segera mengambil gelas tadi dan mengisikan air.
"Alhamdulillah," jawabku.
"Karma bagi teman yang ke kantin sendirian," ucap Salsa.
"Sorry, lagi laper, hehe," jawabku.
"Dasar tukang bolos, awalnya permisi tapi dibelokin kesini," ujar Nita tak kalahnya.
"Udah, diam. Gara-gara kamu nih, aku tersedak," ucapku ke Nita.
Nita dan Salsa hanya tertawa melirik kearahku.
"Ya udah, ayo makan lagi, nanti mie ayamnya keburu dingin loh," ujarku.
Tak sampai dua suapan, tiba-tiba dari belakang seseorang telah menjambak rambutku dengan kasar.
"Aww ... sakit" rintihku.
"Heh, lu kasar ya," ucap Salsa, kemudian Nita menghentikan perbutan kasar itu.
Sontak Salsa juga membalas menjambak rambut seseorang itu dan ternyata dia adalah Nadya.
Terjadilah kecekcokkan di kantin.
***
adegan dewasa!
__ADS_1
"Kamu siapanya dia? gue gak ada urusan sama lu," menunjuk kearah Salsa.
"Udah gue bilang, urusan Rani, urusan gue juga," jawab Salsa.
Tak lama kemudian datanglah Bagas cs tak lupa dengan Fiyan.
"Hey ada apa ini?" tanya Bagas.
"Heh Fiyan, itu Nadya deh," ucap Bagas, dan Fiyan hanya diam.
"Bagas, tolongin kami dong!" pintaku kepada Bagas.
Mendengar itu, Bagas sangat semangat menolongku melerai Nadya dan Salsa. Tetapi tidak dengan Fiyan, dia hanya diam seribu bahasa.
"Heh, lu malah bengong, pacar lu tuh," ucap Bagas.
Fiyan tidak menghiraukannya dan kemudian berlalu meninggalkan kami semua disini.
Aku tidak menyangka Nadya bisa seperti ini, padahal dia adalah sahabat seperjuangan kami, ketika pertama masuk ke sekolah ini.
(flashback)
Pada saat itu, Masa Orientasi Siswa/MOS. Kami melihat seseorang yang sedang sendirian di taman sekolah. Ya dia adalah Nadya. Kemudian kami menghampirinya, dia kelihatan takut dan risih, juga pemalu.
Pada saat bersamaan, kami mengajaknya untuk bermain, dan saat itulah dia mulai berani. Kami selalu bersama, kapanpun dan dimanapun, dan kami sudah berencana menentukan kampus yang cocok untuk kami tempati bersama, supaya kebersamaan masih bisa kami rasakan.
Semenjak itu dia mulai berubah disebabkan teman-temannya yang baru. Dia mulai membenci kamu satu persatu, bahkan masalah yang kecil dibesar-besarkan sampai terjadi perkelahian diantara kami.
(flashback off)
🌱🌱🌱
"Ini pak, mereka membuat kehebohan di kantin," suara seseorang, ya dia adalah ketua OSIS di sekolah ini.
"Kalian semua ikut bapak ke ruangan BP," ucap bapak kepala sekolah.
" Baik pak" jawab kami bersamaan.
☘️☘️☘️
Aku, Nita dan Salsa baru keluar dari ruangan BP, Nadya dan teman-temannya kompak sekali sehingga mereka tidak ada rasa berdosa karena telah berbohong.
Secara adil kepala sekolah memerintahkan kami semua untuk berdamai untuk menjaga nama sekolah ini. Jika masih terjadi pertengkaran kami semua akan diberi hukuman untuk belajar dirumah selama seminggu.
"Ran, Nadya cs pinter banget akting ya," sahut Salsa.
"Kan dia dulu teman lu juga, Sal," sanggah Nita.
__ADS_1
"Itukan dulu, sekarang ogah deh teman ama nenek sihir," ledek Salsa.
"Pipi lu ada darah Sal," ucap Nita.
"Itu pasti gara-gara nenek sihir tadi," ucpa Salsa.
"Ke UKS aja yuk Sal, nanti darahnya tambah banyak," tawarku.
☘️☘️☘️
Sesampainya di UKS, segera kubuka kotak P3K untuk mengambil obat merah disana.
Aku sangat serius mengobati luka Salsa.
"Seharusnya aku yang berada di posisi ini, bukan kamu, Sal," batinku merasa bersalah.
Tak terasa telah lama kami berada di UKS. Ternyata sekolah sudah mulai sepi, kulirik jam tanganku sudah menunjukkan pukul 15.30. Dan Salsa sudah tidur sedari tadi.
"Astaga Nita, kita ngobrolnya lain kali aja ya, ini udah lewat jam pulang," kataku.
"Heh iya juga ya, kita kalau ngobrol tak kenal waktu," jawab Nita.
"Aku ke kelas dulu ya, mana tau tas kita masih disana," ujarku.
"Iya, selamatin tas kita ya Rani," ucapnya, "dan hati-hati ya nanti ada hihihi ...," lanjutnya.
"Di kelas kita banyak tuh," lanjutnya sedikit bercanda tapi masih membuatku takut.
"Aku gak takut," jawabku dengan berbohong.
"Mau ditemenin? Susana kelas kita agak horor dan dingin jika tidak ada orang disana," ucap Nita dan membuatku sedikit merinding.
"Tidak usah, jagain tuh si Salsa," jawabku.
"Oke siap buk bos," jawab Nita.
"Aku pergi dulu ya," pamitku.
🌱🌱🌱
Ternyata benar kelas sudah mulai sepi, didalamnya hanya satu atau dua murid yang tinggal karena mereka piket. Hanya kelasku saja yang kosong.
Ketika hendak memasuki kelas, aku memegang ganggang pintu dan menurunkannya kebawah, ternyata benar kata Nita suasana kelasku sangat horor sekali ketika tidak ada orang. Hawanya mulai dingin, tetapi aku tetap berani masuk. Aku melihat kearah tempat duduk kami bertiga. Ternyata disana masih ada tas kami bertiga.
"Bughh!!" terdengar suara sesuatu yang jatuh ke lantai dengan sangat kerasnya.
"Apa itu? kenapa ada benda jatuh ke lantai? kan tadi tidak ada orang, jangan-jangan ...." batinku tetapi belum melihat kearah kejadian, serasa bulu romaku naik sendiri, dan keringat dingin sudah membasahi bajuku.
__ADS_1
Kubalikkan badan ternyata ....